Tuai Pro Kontra, Ini Data Ekspor Benih Lobster dari Indonesia pada 2009-2014

Kompas.com - 16/12/2019, 14:30 WIB
Lobter hasil budidaya di karamba milik Fajar yang berada di kawasan pantai  Ulele, Banda Aceh, Jumat (26/1/2018). Lobster jenis mutiara, batu, dan bambu ini dijual ke sejumlah rumah makan dan restoran, baik yang ada di Aceh maupun keluar daerah dengan harga sekitar Rp 400 ribu perkilogramnya. KOMPAS.COM / RAJA UMARLobter hasil budidaya di karamba milik Fajar yang berada di kawasan pantai Ulele, Banda Aceh, Jumat (26/1/2018). Lobster jenis mutiara, batu, dan bambu ini dijual ke sejumlah rumah makan dan restoran, baik yang ada di Aceh maupun keluar daerah dengan harga sekitar Rp 400 ribu perkilogramnya.

Kompas.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo berencana untuk merevisi aturan larangan penangkapan dan ekspor benih lobster

Menurut Edhy, dengan pembebasan ekspor benih lobster secara terstruktur akan meningkatkan nilai tambah masyarakat yang hidupnya bergantung pada penjualan komoditas tersebut. 

Tetapi, rencana tersebut menuai pro dan kontra dari beberapa kalangan. Salah satunya ekonom senior Faisal Basri yang menyatakan, pencabutan larangan ekspor benih lobster akan sangat merugikan Indonesia. 

Dikutip dari Kompas.com, 10/12/2019, menurutnya, seandainya keran ekspor benih lobster benar-benar dibuka, laut Indonesia justru akan tereksploitasi dan kembali hancur.

Baca juga: Kontroversi Ekspor Benih Lobster dan Catatan Penyelundupan yang Mencapai Rp 1,37 Triliun...

Berapa angka ekspor benih lobster dari Indonesia?

Dikutip dari Harian Kompas, 22 Januari 2019, ekspor dilakukan untuk benih lobster pasir (Panulirus homarus) dan lobster mutiara (Panulirus ornatus) dari Indonesia.

Berikut adalah data ekspor benih lobster :

  • 2009:  3.000 ekor.
  • 2010: 69.000 ekor.
  • 2011: 94.517 ekor.
  • 2012: 45.171 ekor.
  • 2013: 412.258 ekor.
  • 2014: 38.075 ekor.

Sementara pada 2015, pemerintah melarang penangkapan benih lobster melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen-Kp/2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus Pelagicus Spp.) dari wilayah negara Republik Indonesia.

Aturan tersebut diterbitkan oleh Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

Dalam aturan tersebut, ketentuan lobster yang boleh ditangkap tidak dalam kondisi bertelur.

Panjang karapas di atas 8 cm atau berat di atas 200 gram per ekor.

Peraturan tersebut juga mewajibkan melepas lobster yang tidak sesuai ketentuan jika masih dalam keadaan hidup.

Serta mewajibkan pencatatan lobster yang tidak sesuai ketentuan jika tertangkap dalam keadaan mati dan melaporkan kepada dirjen melalui kepala pelabuhan pangkalan.

(Sumber: Kompas.com/ Kontributor Bandung, Fika Nurul Ulya | Editor: Yoga Sukmana)

Baca juga: Penangkapan Benih Lobster, Ibarat ATM Bagi Nelayan di Daerah Ini

 


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X