Selain Pencak Silat, Ini 9 Budaya Indonesia yang Masuk Warisan Budaya Tak Benda

Kompas.com - 14/12/2019, 14:29 WIB
Ilustrasi bendera merah putih, merah putih, Indonesia ShutterstockIlustrasi bendera merah putih, merah putih, Indonesia

KOMPAS.com - Pencak silat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) oleh The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Penetapan ini dilakukan di Bogota, Kolombia, Kamis (12/12/2019) waktu setempat.

Selain pencak silat, sejumlah kekayaan budaya Indonesia sebelumnya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Ada 9 budaya Indonesia yang telah masuk dalam daftar UNESCO.

Dengan masuknya pencak silat, total ada 10 budaya Indonesia yang telah masuk daftar warisan budaya tak benda di dunia.

Baca juga: UNESCO Tetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Tak Benda Dunia

Melansir dari laman UNESCO, selain pencak silat, berikut daftar budaya-budaya tersebut:

1. Pinisi

Pinisi yang dioperasikan Plataran di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timir, Selasa (19/1/2016).
KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH Pinisi yang dioperasikan Plataran di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timir, Selasa (19/1/2016).
Pinisi ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2017.

Pinisi atau seni pembuatan kapal di Sulawesi Selatan mengacu pada tali temali dan layar dari "Sekunar Sulawesi" yang terkenal.

Konstruksi dan sebaran kapal-kapal jenis ini telah menjadi tradisi tersendiri dalam pembuatan kapal dan navigasi Austronesia.

Bagi masyarakat Indonesia maupun internasional, pinisi telah menjadi lambang kapal layar pribumi Nusantara.

Saat ini, pusat pembuatan kapal ini ada di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin. Di wilayah-wilayah ini, 70 persen warganya memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan kapal serta navigasi.

2. Tari tradisional Bali

Ada tiga genre tari tradisional Bali yang juga ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Penetapan ini dilakukan pada tahun 2015.

Tiga genre tarian yang dimaksud adalah sakral, semi sakral, dan yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Tarian tradisional Bali dipertunjukan oleh penari laki-laki dan perempuan berpakaian tradisional, yaitu terdiri atas pakaian berwarna terang dengan motif bunga dan hewan emas, dilengkapi aksesori berupa daun emas dan permata.

Tarian ini terinspirasi dari alam dan menyimbolkan tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai agama tertentu.

Selain teknik, penari harus memiliki karisma, kerendahan hati, dan energi spiritual khusus untuk menghidupkan gerakan dalam tariannya.

Baca juga: Silat Malaysia Juga Masuk Warisan Budaya Tak Benda, Apa Bedanya dengan Pencak Silat Indonesia?

3. Noken

Sebuah Noken sepanjang 30 meter dinobatkan sebagai tas Noken terbesar di dunia oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Tas raksasa itu ditampilkan pada acara pembukaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Papua, Rabu (7/8/2019). Dok. Humas Kementerian Pariwisata Sebuah Noken sepanjang 30 meter dinobatkan sebagai tas Noken terbesar di dunia oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Tas raksasa itu ditampilkan pada acara pembukaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Papua, Rabu (7/8/2019).
Noken adalah tas anyaman buatan tangan yang berbahan serat kayu atau daun. Tas ini dibuat oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Noken ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2012.

Laki-laki dan perempuan menggunakan noken untuk membawa hasil panen, tangkapan dari laut atau danau, kayu bakar, bayi, atau hewan-hewan kecil.

Selain itu, noken juga sering kali digunakan untuk membawa barang belanjaan dan menyimpan barang-barang di rumah.

Dalam perayaan tradisional, noken biasanya dikenakan atau diberikan sebagai persembahan.

Cara pembuatan noken berbeda-beda. Namun, secara umum, cabang, batang, kulit pohon, atau semak kecil dipotong. Kemudian, dipanaskan di atas api dan direndam dalam air.

Serat kayu yang tersisi dikeringkan dan dipintal untuk membuat benang.

Terkadang, benang ini juga diwarnai dengan pewarna alami. Benang ini kemudian digunakan untuk membuat tas jaring dengan berbagai pola dan ukuran.

Proses ini membutuhkan ketrampilan yang luar biasa, kemampuan artistik, dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menguasainya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X