Jadi Maskapai Pelat Merah, Garuda Indonesia Berawal dari Pesawat Sewa

Kompas.com - 08/12/2019, 08:33 WIB
Ilustrasi Garuda Indonesia Garuda IndonesiaIlustrasi Garuda Indonesia

KOMPAS.com- Menteri Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) Erick Thohir akan merombak total jajaran direksi PT Garuda Indonesia setelah kasus penyelundupan Harley dan sepeda lipat Brompton di pesawat Airbus A330-900 Neo.

Tak hanya mencopot Dirut Garuda Ari Askhara, pihaknya juga akan memberhentikan sejumlah direksi maskapai pelat merah itu apabila ikut terlibat.

Menjadi satu-satunya maskapai berpelat merah yang melayani penerbangan komersial, Garuda Indonesia menjadi kebanggaan bangsa Indonesia atas segala prestasi dan kontroversinya.

Maskapai yang baru-baru ini banyak menyedot perhatian karena kasus penyelundupan yang diduga dilakukan oleh sang direktur utama, ternyata kisahnya berawal dari pesawat sewaan pada di era tahun 1949.

Bersumber dari laman Garuda Indonesia, maskpai yang baru menambah koleksinya dengan armada Airbus A330-900 Neo ini menjadi penerbangan sipil pertama di Indonesia.

Awalnya, Garuda Indonesia bernama Indonesian Airways yang merupakan inisiatif dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Pada 26 Januari 1949 Indonesian Airways disewakan pada Pemerintah Burma.

Kisah Indonesian Airways berakhir setelah lahir kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada Desember 1949.

Baca juga: Ari Askhara Dicopot dari Dirut Garuda, Harta Kekayaannya Capai Rp 37 Miliar

Maskapai Nasional

Adanya perjanjian ini memaksa Belanda untuk menyerahkan seluruh kekayaan Pemerintah Hindia Belanda kepada Pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) saat itu.

Termasuk dalam daftar kekayaan yang diserahkan adalah maskapai KLM (Koininklijke Luchtvaart Maatschppij-Inter-Insulair Bedrijf)-IIB.

KLM IIB adalah anak perusahaan KLM setelah mengambil alih maskapai swasta K.N.I.L.M (Koninklijke Nederlandshindische Luchtvaart Maatschappij) yang sudah ada sejak 1928 di Hindia Belanda.

Semua awak dan pesawat yang disewakan pun kembali ke Indonesia pada 1950, baik pesawat maupun fungsinya, dan langsung dikembalikan pada AURI dalam formasi Dinas Angkatan Udara Militer.

Menindaklanjuti kesepakatan KMB, pada 21 Desember 1949 Pemerintah Indonesia dan KLM mengadakan perundingan untuk mendirikan maskapai nasional.

Presiden Soekarno pun memilih dan memutuskan maskapai nasional ini untuk dinamai dengan Garuda Indonesian Airways ( GIA).

Baca juga: Ramai Inspeksi Boeing 737, Mengapa Pesawat Bisa Mengalami Keretakan?

Pesawat Dakota

Untuk mempersiapkan staf udara dari Indonesia, pihak KLM menempatkan sejumlah stafnya untuk tetap bertugas melatih para staf udara Indonesia. Maka, pada masa peralihan itu, orang Belanda lah yang pertama menjadi Direktur Utama GIA.

Dia adalah Dr. E. Konijneburg.

Armada pertama maskapai nasional ini juga berasal dari peninggalan KLM-IIB dan bukan armada Indonesian Airways yang notabene dimiliki oleh AURI.

Sehari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda (27/12/1949), GIA pun terbang untuk pertama kalinya.

Dua buah pesawat Dakota (DC-3) diterbangkan dari Bandar Udara Kemayoran, Jakarta menuju Yogyakarta guna menjemput Soekarno.

Pesawat itu pun langsung kembali ke Jakarta dan sekaligus menandai perpindahan kembali ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta.

Sejak saat itu, GIA terus berkembang hingga hari ini banyak dikenal sebagai Garuda Indonesia.

Satu tahun dari saat itu, tepatnya pada tahun 1950, Garuda Indonesia resmi menjadi sebuah perusahaan yang dimiliki oleh negara.

Di periode tersebut, Garuda Indonesia mengoperasikan 38 buah armada yang terdiri dari 22 unit DC-3, 8 unit Catalina kapal terbang, dan 8 Convair 240.

Baca juga: Penjelasan Kementerian Agama Terkait Viral Video Banjir di Mina Saat Ibadah Haji

Jemaah Haji

Maskapai ini terus berkembang hingga pada tahun 1956 untuk pertama kalinya berhasil membawa penumpang jemaah haji ke tanah suci Mekah.

Di tahun yang sama, Garuda Indonesia juga mulai membuka rute-rute penerbangan ke Eropa dengan Amsterdam sebagai tujuan terakhirnya.

Garuda Indonesia semakin berkembang seiring berjalannya waktu, mulai dari restrukturisasi organisasi dan armada, program pelatihan awak, dan sebagainya.

Pada 2011, Garuda Indonesia mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode GIAA per tanggal 11 Februari 2011 dan resmi menjadi perusahaan publik setelah menawaran 6.335.738.000 saham Perusahaan ke masyarakat.

Hingga saat ini, beragam penghargaan berhasil disabet maskapai bintang 5 ini.

Sebut saja ‘The World’s Best Cabin Crew” selama empat tahun berturut-turut (2014-2017), "The World's Most Loved Airline 2016" dan “The World’s Best Economy Class 2013” dari Skytrax, lembaga pemeringkat penerbangan independen yang berbasis di London.

Baca juga: Soal Penyelundupan Harley dan Brompton di Garuda, Mengapa Orang Malas Bayar Pajak?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Jepang Memiliki Banyak Perusahaan Tertua di Dunia?

Kenapa Jepang Memiliki Banyak Perusahaan Tertua di Dunia?

Tren
Viral Sepeda Motor dari Sedotan Plastik: 'Awalnya Mau Buat Perahu Layar, tapi... '

Viral Sepeda Motor dari Sedotan Plastik: "Awalnya Mau Buat Perahu Layar, tapi... "

Tren
Terasa hingga Sukabumi, Gempa M 4,9 di Lebak Banten Tak Berpotensi Tsunami

Terasa hingga Sukabumi, Gempa M 4,9 di Lebak Banten Tak Berpotensi Tsunami

Tren
Sensus Penduduk Online, Bagaimana Mereka yang ‘Buta Teknologi’ dan di Daerah Terpencil?

Sensus Penduduk Online, Bagaimana Mereka yang ‘Buta Teknologi’ dan di Daerah Terpencil?

Tren
Bayar SPP Kini Bisa dengan GoPay, Bagaimana Caranya?

Bayar SPP Kini Bisa dengan GoPay, Bagaimana Caranya?

Tren
Uji Coba Blokir Ponsel BM Dimulai, Begini Cara Cek IMEI dan Statusnya

Uji Coba Blokir Ponsel BM Dimulai, Begini Cara Cek IMEI dan Statusnya

Tren
[HOAKS] Pesan Berantai soal Penculikan Anak di Surabaya

[HOAKS] Pesan Berantai soal Penculikan Anak di Surabaya

Tren
1.775 Orang Meninggal, Berikut Daftar 5 Negara Konfirmasi Kematian Virus Corona

1.775 Orang Meninggal, Berikut Daftar 5 Negara Konfirmasi Kematian Virus Corona

Tren
Viral Foto Sapi Berkaki Pendek, Jenis Apa Ini?

Viral Foto Sapi Berkaki Pendek, Jenis Apa Ini?

Tren
Pendaftaran Akun LTMPT Tahap 2 Dibuka, Berikut 9 Tahapan Daftar UTBK

Pendaftaran Akun LTMPT Tahap 2 Dibuka, Berikut 9 Tahapan Daftar UTBK

Tren
40 Warga AS yang Positif Virus Corona di Kapal Pesiar Diamond Princess Tak Dievakuasi

40 Warga AS yang Positif Virus Corona di Kapal Pesiar Diamond Princess Tak Dievakuasi

Tren
Viral Bagian Dalam Pijakan Kaki Motor Matik Berisikan Cabai, Ini Penjelasannya...

Viral Bagian Dalam Pijakan Kaki Motor Matik Berisikan Cabai, Ini Penjelasannya...

Tren
Lolos Passing Grade SKD CPNS 2019, Berikut Jadwal dan Tahapan Tes Selanjutnya

Lolos Passing Grade SKD CPNS 2019, Berikut Jadwal dan Tahapan Tes Selanjutnya

Tren
3 Hari Terakhir Kasus Baru Virus Corona Cenderung Mengalami Penurunan, Ini Komentar WHO

3 Hari Terakhir Kasus Baru Virus Corona Cenderung Mengalami Penurunan, Ini Komentar WHO

Tren
Angka Kesembuhan Pasien Terinfeksi Virus Corona Terus Meningkat, Apa yang Dilakukan China?

Angka Kesembuhan Pasien Terinfeksi Virus Corona Terus Meningkat, Apa yang Dilakukan China?

Tren
komentar
Close Ads X