Segitiga Jokowi, Paloh dan Sohibul Iman, dari Sinyal Kedekatan hingga Kecurigaan

Kompas.com - 10/11/2019, 09:31 WIB
Presiden Joko Widodo berinteraksi dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di acara Golkar, Rabu (6/11/2019). Agus Suparto/ Fotografer Pribadi PresidenPresiden Joko Widodo berinteraksi dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di acara Golkar, Rabu (6/11/2019).

 

KOMPAS.com - Langkah Ketua Umum (Ketum) Partai Nasdem Surya Paloh tengah menjadi sorotan.

Pasalnya meskipun Nasdem adalah parpol pendukung pemerintahan Jokowi, namun Paloh juga melakukan pertemuan dengan Presiden PKS Sohibul Iman di kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019).

Banyak pihak menilai langkah Paloh tersebut berkaitan dengan 2024.

Meski mengundang banyak tanda tanya, namun Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya mengatakan bahwa Jokowi telah memberikan lampu hijau atas pertemuan Paloh dengan PKS.

Willy menceritakan, sinyal tersebut diberikan usai pelantikan Jokowi.

Saat itu, Paloh dan Sohibul datang beriringan memberikan selamat.

Keduanya menyalami Jokowi. Saat itulah Paloh meminta “izin” bertandang ke PKS dalam waktu dekat.

Izin Nasdem tersebut kemudian dijawab oleh Jokowi.

“Mantab, Bang,” ujar Willy menirukan ucapan Jokowi.

Usai Paloh dan Sohibul benar-benar bertemu, Wasekjen PDI-P Arif Wibowo memberikan komentarnya.

Ia mengingatkan Nasdem untuk tak berpolitik dua kaki.

"Kami meminta kepada semua partai koalisi untuk taat asas, untuk menjaga sikap dan tindakan yang etis sebagai partai koalisi pemerintahan," ujar Arif saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Baca juga: Soal Pertemuan Prabowo dengan Surya Paloh, Apa yang Mereka Bahas?

Sindiran Jokowi

Presiden Joko Widodo menyampaikan tanggapan tentang situasi Wamena di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/9/2019). Presiden meminta seluruh masyarakat menjaga ketertiban dan keamanan bersama di Papua serta memeriksa kebenaran kabar yang tersebar guna menjaga stabilitas Indonesia bersama. ANTARA FOTO/Bayu Prasetyo/foc.BAYU PRASETYO Presiden Joko Widodo menyampaikan tanggapan tentang situasi Wamena di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/9/2019). Presiden meminta seluruh masyarakat menjaga ketertiban dan keamanan bersama di Papua serta memeriksa kebenaran kabar yang tersebar guna menjaga stabilitas Indonesia bersama. ANTARA FOTO/Bayu Prasetyo/foc.

Jokowi pun memberikan komentar, terkait mesranya pertemuan Paloh dengan Sohibul Iman.

"Mungkin Pak Surya Paloh kangen sudah lama enggak ketemu Pak Sohibul Iman. Mungkin dengan saya enggak begitu kangen karena sudah sering ketemu" kata Jokowi saat berbincang dengan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/11/2019).

"Biasa saja, enggak perlu dibawa ke perasaan," katanya lagi.

Walau demikian, saat membuka peringatan HUT ke 55 Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (6/11/2019) Jokowi menyampaikan sindirannya kepada Surya Paloh.

"Yang saya hormati para ketua umum, Bapak Surya Paloh yang kalau kita lihat malam hari ini beliau lebih cerah dari biasanya, sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS," kata Jokowi.

Pernyataan Jokowi sontak disambut gelak tawa kader Golkar.

Tak sampai di situ, hadirin kembali dibuat tertawa ketika kemudian Jokowi meneruskan ucapannya.

"Saya tidak tahu maknanya apa. Tetapi rangkulannya itu tidak seperti biasanya. Tidak pernah saya dirangkul oleh Bang Surya seerat dengan Pak Sohibul Iman," kata Jokowi lagi.

Menanggapi sindiran Jokowi, Ketua DPP Nasdem, Willy Aditya kembali memberikan keterangan.

"Enggak ada yang ditutup-tutupi, tujuannya silaturahim kebangsaan bagaimana Nasdem ingin meneruskan apa yang menjadi modalitas pertama bumi pertiwi ini berdiri, ialah dialog antarelite, antargolongan, antarkelompok itu yang ingin dirajut lagi oleh Pak Surya," kata Willy saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/11/2019).

Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini pun mengatakan bahwa pertemuan PKS-Nasdem menunjukkan bahwa oposisi-koalisi tak harus bermusuhan.

Ia juga menyebut, nantinya di pemilu 2024 PKS terbuka kemungkinan untuk berkoalisi dengan Nasdem.

Baca juga: Di Balik Pertemuan Nasdem dan PKS...

Pidato Surya Paloh

Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai menyampaikan hasil pertemuan tertutup kedua partai di DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10/2019). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan menjajaki kesamaan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc. ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai menyampaikan hasil pertemuan tertutup kedua partai di DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10/2019). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan menjajaki kesamaan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc.

Saat berkesempatan berpidato dalam Kongres Nasdem II yang digelar Jumat (8/11/2019) malam, Surya Paloh menyampaikan bahwa tak seharusnya rangkulan sesama teman dicurigai.

"Bangsa ini sudah capek dengan segala intrik yang mengundang sinisme satu sama lain, kecurigaan satu sama lain. Hingga kita berkunjung ke kawan, mengundang kecurigaan," katanya waktu itu.

Pernyataan tersebut seolah menanggapi sindiran yang disampaikan oleh Jokowi sebelumnya.

Dalam pidatonya ia juga menyatakan bahwa Nasdem paling setia mendampingi Jokowi di pemerintahan.

Menurutnya, ucapan tersebut semestinya dibuktikan lewat perbuatan bukan sekadar pernyataan.

"Karena apa? Karena nanti (jika) ada ujian berat yang dijalani Bapak Presiden, jangan-jangan hanya tinggal Nasdem yang bersama Bapak Presiden," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Paloh juga mengingatkan terhadap partai yang tak searah agar tak dijadikan musuh bebuyutan.

"Jangan karena partai tidak searah dengan jalannya kita, kita menjadikan musuh bebuyutan. Seakan-akan tidak ada tempat sama sekali dalam bergandengan tangan, itu bukan Indonesia sejatinya," ujar Paloh di hadapan para kadernya.

Ia juga menyebut, partai pancasilais harusnya merangkul semua partai termasuk yang berseberangan sikap politik.

"Jangan musuhi teman. Itu baru Pancasila. Kalau tidak dijalankan yang paling menangis proklamator bangsa ini," lanjut dia.

Baca juga: Langkah Panjang Nasdem untuk 2024...

(Sumber: Kompas.com/Dani Prabowo, Dian Erika Nugraheny, Rakhmat Nur Hakim, Fitria Chusna Farisa, Kristian Erdianto, Ihsanuddin | Editor : Bayu Galih, Krisiandi, Icha Rastika, Diamanty Meiliana, Fabian Januarius Kuwado)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X