Mengapa Manusia Cenderung Lebih Lama Meratapi Kesedihan?

Kompas.com - 14/10/2019, 09:05 WIB
Ilustrasi pria sedih eugenesergeevIlustrasi pria sedih

KOMPAS.com - Dengan menyandang status sebagai makhluk sosial, ada konsekuensi yang harus didapat oleh manusia, yaitu perasaan sedih dan bahagia.

Perasaan itu muncul akibat adanya interaksi satu sama lainnya.

Namun, ada saat-saat tertentu ketika perasaan itu tak kunjung hilang.

Dibandingkan dengan rasa bahagia, menghilangkan rasa sedih akan membutuhkan waktu lebih lama.

Dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret ( UNS) Surakarta Laelatus Syifa mengatakan manusia itu akan merasakan cerita sedihnya itu lebih mengena dibanding cerita bahagianya.

"Ketika kita bahagia, kita tidak menginputkan cerita kebahagiaan itu," kata Laelatus dalam workshop "Heal Note: Write Your Self" di Taman Budaya Jawa Tengah, Sabtu (12/10/2019)

"Tapi kalau sedih, kita akan mengerahkan emosi dan pikiran kita untuk memikirkan sad story itu," lanjutnya.

Ela, panggilan akrab Laelatus, menyebutkan bahwa berbagi pengalaman itu tidak pernah lepas dari emosi.

Sementara itu, emosi seseorang bergantung pada hasil persepsinya.

"Ada orang yang putus tapi dia itu akhirnya sedih mendayuh pengen nangis, tapi ada juga yang lega alhamdulillah aku lepas dari penjara," kata dia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X