Pakar: Komentar Istri TNI Soal Penusukan Wiranto Tak Cerminkan Institusi

Kompas.com - 13/10/2019, 13:38 WIB
IPDN, istri mantan Komandan Kodim 1417 Kendari Kolonel Kav Hendi Suhendi, menangis usai Upacara Sertijab Komandan Kodim 1417 Kendari di Aula Tamalaki Korem 143 Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/10/2019). Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XIV Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi mengatakan akan menyerahkan kepada pihak kepolisian kasus Irma Zulkifli Nasution Hendari yang diduga melanggar UU ITE akibat komentar di media sosial tentang penyerangan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. ANTARA FOTO/Jojon/ama. ANTARA FOTO/JOJONIPDN, istri mantan Komandan Kodim 1417 Kendari Kolonel Kav Hendi Suhendi, menangis usai Upacara Sertijab Komandan Kodim 1417 Kendari di Aula Tamalaki Korem 143 Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/10/2019). Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XIV Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi mengatakan akan menyerahkan kepada pihak kepolisian kasus Irma Zulkifli Nasution Hendari yang diduga melanggar UU ITE akibat komentar di media sosial tentang penyerangan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. ANTARA FOTO/Jojon/ama.


KOMPAS.com – Kasus 3 orang istri prajurit yang menyampaikan komentar negatif terhadap kasus penusukan Wiranto berbuntut pada sang suami yang mendapat tindakan disiplin dari satuan tempatnya berdinas.

Ada yang dikenai sanksi penahanan, ada pula yang ditahan sekaligus dicopot dari jabatan yang dipangkunya.

Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa istri-istri para prajurit ini sampai bertindak yang demikian?

Padahal, sosok Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan HAM (Menkopolhukam) Wiranto juga merupakan mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1998 sebelum terjun ke dunia politik.

Menurut Pengamat Sosial Drajat Tri Kartono, kejadian ini tidak bisa digeneralisirkan untuk menggambarkan kondisi batiniah TNI secara utuh.

“Karena itu kan hanya beberapa orang, tidak mewakili sebuah korps kumpulan ibu-ibu tantara,” kata Drajat saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (12/10/2019) petang.

Dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini juga berpendapat bahwa tindakan itu dilakukan atas dasar emosi seorang perempuan yang kemudian menular ke perempuan lain.

Baca juga: Dicopot dari Jabatan dan Ditahan, Mantan Dandim Kendari: Saya Prajurit TNI yang Setia...

“Ibu-ibu itu basisnya lebih banyak ke emosional daripada suaminya yang lebih banyak ke rasional. Itu ibu-ibu kan mengalir perasaannya dari satu ibu-ibu ke ibu-ibu yang lain. Kalau dalam sosiologi Namanya solidaritas mekanik, solidaritas kesetiaan atas dasar emosi,” jelas Drajat.

Drajat meyakini, sesungguhnya para istri prajurit ini paham akan konsekuensi atas perbuatannya. Namun, karena sudah terdapat faktor emosi yang bermain, maka rasionalitas pun sulit untuk dimenangkan.

“Pasti, menurut saya paham, ada juga yang istri perwira kok. Paham sekali mereka, langsung menyerang pimpinan tertinggi, Wiranto, seperti itu pasti mereka paham sekali,” ujar dia.

“Hanya memang kan ini masalah emosi, tidak bisa dirasionalisasi. Kalau urusan emosi itu rasionalnya bisa dikalahkan. Kemudian mereka merasa mewakili sebuah keterampasan emosi itu,” lanjutnya.

Namun, dunia militer menerapkan sistem komando sehingga segala bentuk perlawanan dan pembangkangan yang dilakukan dengan cara di luar prosedur, akan berakibat sanksi tegas.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penumpang Diketahui Merokok di Pesawat, Ini Tanggapan Lion Air

Penumpang Diketahui Merokok di Pesawat, Ini Tanggapan Lion Air

Tren
Menilik Wuhan, Kota Kuno China yang Diisolasi karena Virus Corona

Menilik Wuhan, Kota Kuno China yang Diisolasi karena Virus Corona

Tren
[POPULER TREN] BERITA FOTO: Situasi Kota Wuhan | Hari Ini dalam Sejarah Kapal Tampomas II Tenggelam

[POPULER TREN] BERITA FOTO: Situasi Kota Wuhan | Hari Ini dalam Sejarah Kapal Tampomas II Tenggelam

Tren
Rekap Perkembangan Virus Corona Wuhan dari Waktu ke Waktu

Rekap Perkembangan Virus Corona Wuhan dari Waktu ke Waktu

Tren
Warga China di Malaysia Ini Berusaha Kabur ke Bandara bersama Anak Balitanya yang Diduga Terinfeksi Virus Corona

Warga China di Malaysia Ini Berusaha Kabur ke Bandara bersama Anak Balitanya yang Diduga Terinfeksi Virus Corona

Tren
RSUD Jambi Kirim Sampel Darah Pasien WNA China yang Diduga Terkena Virus Corona ke Jakarta

RSUD Jambi Kirim Sampel Darah Pasien WNA China yang Diduga Terkena Virus Corona ke Jakarta

Tren
BPKP Umumkan Jadwal SKD CPNS di 7 Kota, Ini Daftar Nama dan Sesi Tes

BPKP Umumkan Jadwal SKD CPNS di 7 Kota, Ini Daftar Nama dan Sesi Tes

Tren
Merebaknya Virus Corona, Apakah Bisa Memengaruhi Ekonomi Global?

Merebaknya Virus Corona, Apakah Bisa Memengaruhi Ekonomi Global?

Tren
Diduga Terinfeksi Virus Corona, Bayi Berusia 23 Hari di Hong Kong Masuk Ruang Isolasi

Diduga Terinfeksi Virus Corona, Bayi Berusia 23 Hari di Hong Kong Masuk Ruang Isolasi

Tren
80 Korban Meninggal Virus Corona, Kenali Gejala, Pencegahan dan Perawatannya

80 Korban Meninggal Virus Corona, Kenali Gejala, Pencegahan dan Perawatannya

Tren
Jumlah Kasus Infeksi Virus Corona di 8 Negara Bertambah, Berikut Rinciannya

Jumlah Kasus Infeksi Virus Corona di 8 Negara Bertambah, Berikut Rinciannya

Tren
Dokter Peringatkan, Gejala Virus Corona Bisa Tak Terlihat

Dokter Peringatkan, Gejala Virus Corona Bisa Tak Terlihat

Tren
Jadi Pasien Termuda, Bayi Berusia 9 Bulan Terinfeksi Virus Corona

Jadi Pasien Termuda, Bayi Berusia 9 Bulan Terinfeksi Virus Corona

Tren
Virus Corona Wuhan, SARS, dan MERS: Mana yang Penyebarannya Paling Pesat?

Virus Corona Wuhan, SARS, dan MERS: Mana yang Penyebarannya Paling Pesat?

Tren
30 dari 31 Provinsi di China Terkonfirmasi Adanya Virus Corona

30 dari 31 Provinsi di China Terkonfirmasi Adanya Virus Corona

Tren
komentar
Close Ads X