Keterkaitan Karhutla dan Korupsi serta Komitmen Pemerintah dalam Mengatasinya

Kompas.com - 07/10/2019, 06:35 WIB
Warga melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di desa Ganepo, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (2/10/2019).Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Provinsi Kalteng masih terjadi meski hujan mulai turun. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di desa Ganepo, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (2/10/2019).Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Provinsi Kalteng masih terjadi meski hujan mulai turun.

FENOMENA kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) yang menimbulkan kabut asap hampir setiap tahun di Indonesia tentunya perlu mendapatkan perhatian khusus.

Kepala BNPB Doni Monardo menyatakan bahwa karhutla 99 persen ditimbulkan oleh faktor manusia, sedangkan 1 persen sisanya oleh faktor alam.

Pendapat tersebut diamini oleh ahli kebakaran hutan IPB, Prof Bambang Hero Saharjo, yang turut menyatakan kebakaran yang terjadi secara alami di alam memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan pembakaran yang dilakukan manusia.

Klaim tersebut dapat dijelaskan melalui teori segitiga api. Menurut teori ini agar api dapat terbentuk, diperlukan reaksi kimia yang melibatkan (1) oksigen, (2) bahan bakar, dan (3) percikan api dengan panas yang tinggi.

Di alam, oksigen dan bahan bakar seperti kayu dan gambut tersedia melimpah. Tetapi sumber percikan api sulit muncul secara alami. Di sinilah faktor manusia berperan.

Baca juga: Terobosan Baru, Peneliti Kembangkan Gel Pencegah Kebakaran Hutan

Kecil kemungkinan percikan api muncul secara alami. Patut dicurigai bahwa memang ada yang melakukan pembakaran, dengan berbagai motif dan tujuan tentunya. Salah satunya pembukaan lahan untuk perkebunan.

Kabut asap dan gambut di Sumatera dan Kalimantan

Jika kebakaran terjadi pada pepohonan di permukaan tanah (surface fire), maka asapnya akan berwarna putih dan apinya cenderung mudah dipadamkan.

Namun, jika kebakaran terjadi pada lahan gambut, maka asapnya akan berwarna kuning. Semakin tebal lapisan gambut yang terbakar di bawah tanah (ground fire), maka akan semakin sulit pula usaha untuk memadamkannya.

Gambut memiliki sifat asli berongga (porous), agak lunak, basah, dan bisa menyimpan air berkali-kali lipat dari volumenya. Tetapi sekalinya kering, maka sifatnya akan berubah menjadi hidrophobic dan mudah sekali terbakar.

Selain itu gambut juga memiliki sifat sangat asam, sehingga tidak cocok untuk pertanian. Namun, konon pembakaran dapat membuat gambut menjadi lebih subur karena abu yang dihasilkan dapat menurunkan sifat asamnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X