Karim Raslan
Pengamat ASEAN

Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Dia telah menulis berbagai topik sejak 20 tahun silam. Kolomnya  CERITALAH, sudah dibukukan dalam "Ceritalah Malaysia" dan "Ceritalah Indonesia". Kini, kolom barunya CERITALAH ASEAN, akan terbit di Kompas.com setiap Kamis. Sebuah seri perjalanannya di Asia Tenggara mengeksplorasi topik yang lebih dari tema politik, mulai film, hiburan, gayahidup melalui esai khas Ceritalah. Ikuti Twitter dan Instagramnya di @fromKMR

Merawat Ingatan akan Peninggalan BJ Habibie

Kompas.com - 06/10/2019, 22:41 WIB
FOTO DOKUMENTASI. Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) mengenai industri penerbangan didampingi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir (kedua kanan) saat mengunjungi stan pameran National Innovation Forum 2015 di Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin (13/4/2015). National Innovation Forum Tahun 2015 yang  diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu bertujuan untuk mempromosikan hasil-hasil riset dari lembaga litbang dan perguruan tinggi kepada dunia usaha dan masyarakat. ANTARA FOTO/YUDHI MAHATMAFOTO DOKUMENTASI. Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) mengenai industri penerbangan didampingi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir (kedua kanan) saat mengunjungi stan pameran National Innovation Forum 2015 di Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin (13/4/2015). National Innovation Forum Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu bertujuan untuk mempromosikan hasil-hasil riset dari lembaga litbang dan perguruan tinggi kepada dunia usaha dan masyarakat.

DIA adalah produk klasik dari 'Orde Baru' Soeharto. Dia telah menjadi menteri kabinet yang setia selama dua dekade dan seorang anak didik yang dipromosikan, dikagumi, dan dilindungi.

Meski demikian, sejak Mei 1998, untuk selama tujuh belas bulan yang intens, ketika Indonesia meringkuk di bawah gempuran Krisis Keuangan Asia dan gejolak politik, Bacharuddin Jusuf (atau BJ) Habibie sebagai Presiden yang baru saja dilantik, justru blak-blakan membongkar warisan otoriter mentornya.

Dewi Fortuna Anwar, salah satu penasihat utamanya menjelaskan:

“Pak Habibie bukan politisi. Dia adalah seorang insinyur - seorang ilmuwan. Dia merancang dan membangun berbagai hal. Dia juga membangun institusi. Dan sebagai Presiden saat itu, dia melihat bahwa tugasnya adalah untuk mengeluarkan Indonesia dari krisis multi-dimensi. Dalam benaknya, Indonesia sudah terlalu lama hanya bergantung pada ekonomi. Perkembangan sosial dan politik telah berhenti. Ini harus berubah."

Dilahirkan pada tahun 1936 di pulau Sulawesi, Indonesia bagian timur, Habibie bisa saja menghabiskan hidup dengan tenang sebagai insinyur penerbangan yang sukses di negara Jerman yang dicintainya.

Hanya saja, Soeharto - yang saat itu menjadi sosok naik daun di militer - dikirim untuk menenangkan Makassar (dan Pemberontakan Andi Aziz) pada tahun 1950. Jenderal tersebut menerima sambutan hangat di rumah Habibie di Jalan Maricaya.

Keramahtamahan yang dikombinasikan dengan sejarah leluhur Jawa menjadi dasar persahabatan keluarga jangka panjang yang mendalam – maka setiap kali Soeharto bepergian ke Jerman pada tahun 70-an, ia sering bertemu dengan Habibie muda - pada saat itu seorang mahasiswa teknik yang ambisius dan berbakat.

Setelah lulus, Habibie mulai bekerja di pabrik aeronautika terkenal Jerman Messerschmidt-Bolkow-Blohm (selanjutnya bagian dari Airbus).

Namun, Pak Harto tidak melupakan pemuda yang dinamis dan pada tahun 1974 Habibie dipanggil kembali ke Indonesia untuk memimpin industrialisasi republik - memodernisasi banyak dari apa yang sekarang menjadi Badan Usaha Milik Negara (seperti PT Pindad, produsen pertahanan dan PT PAL) , pembuat kapal).

Disadari atau tidak, ia membentuk identitas bangsanya. Sebagai contoh, perannya di ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) sangat berperan dalam memerangi pengkaburan yang lazim terjadi dalam ajaran Islam. Kebangkitannya sangat spektakuler.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.