1967, Peresmian Sumur Lubang Buaya Dihadiri Tunangan Pierre Tendean

Kompas.com - 01/10/2019, 19:00 WIB
Warga mengunjungi Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2014). Monumen tersebut dibangun untuk menghormati para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan Tiga Puluh September atau G-30-S/PKI pada 1965. KOMPAS/ WAWAN H PRABOWOWarga mengunjungi Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2014). Monumen tersebut dibangun untuk menghormati para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan Tiga Puluh September atau G-30-S/PKI pada 1965.


KOMPAS.com – Tepat hari ini 52 tahun yang lalu, 1 Oktober 1967, Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto meresmikan cungkup Monumen Pahlawan Revolusi di Jakarta.

Cungkup itu dibangun tepat di atas lubang sumur yang menjadi lokasi gugurnya para Pahlawan Revolusi, tepatnya di Lapangan Pancasila, Jakarta Timur.

Peresmian ini dihadiri oleh sejumlah petinggi, mulai dari Ketua MPRS Jenderal A. H. Nasution, Ketua DPRGR Akhmad Saikhu, para Menteri, perwira petinggi ABRI, dan lain-lain.

Mereka menyatu dalam hikmatnya peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diawali dengan menyanyikan lagu Hening Cipta yang dipimpin oleh Presiden.

Pacasila juga dibacakan oleh Nasution di hadapan para undangan yang hadir. Selanjutnya dibacakan penjelasan mengenai Peringatan Kesaktian Pancasila.

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila, Tragedi G30S/PKI dan Hari Berkabung Nasional

Ketika itu, Pancasila direfleksikan dalam doa yang dilantunkan secara Islam, Katolik, Protestan, dan Hindu.

Sebagai puncak acara, Soeharto pun meresmikan Monumen Pahlawan Revolusi dengan menekan tombol khusus dan menempel lambang bintang pada relief yang terdapat di monumen tersebut.

Prosesi ini juga dibarengi dengan suara tembakan ke udara yang terdengar sebanyak 7 kali.

Proses peresmian ini dihadiri oleh tunangan Kapten Pierre Tendean, salah satu Pahlawan Revolusi yang jasadnya dimasukkan dalam sumur Lubang Buaya.

Pierre Tendean sendiri merupakan ajudan dari A.H. Nasution.

Dari pemberitaan Harian Kompas 2 Oktober 1967, disebutkan sang tunangan tidak bisa menahan keharuannya saat melihat lubang tempat jasad sang kekasih ditemukan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X