Aksi Demo #GejayanMemanggil 2 Gunakan Kostum Nyentrik, Apa Maksudnya?

Kompas.com - 30/09/2019, 20:14 WIB
Ribuan mahasiswa mengikuti aksi Gejayan Memanggil #2 di simpang tiga Gejayan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (30/9/2019). Aksi unjuk rasa yang diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di DI Yogyakarta itu untuk menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi serta mendesak Presiden Joko Widodo menerbitkan peraturan pemerintah (Perpu) pengganti undang-undang mengenai UU KPK. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/ama. Hendra NurdiyansyahRibuan mahasiswa mengikuti aksi Gejayan Memanggil #2 di simpang tiga Gejayan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (30/9/2019). Aksi unjuk rasa yang diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di DI Yogyakarta itu untuk menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi serta mendesak Presiden Joko Widodo menerbitkan peraturan pemerintah (Perpu) pengganti undang-undang mengenai UU KPK. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/ama.

KOMPAS.com - Aksi demo #GejayanMemanggil2 kembali digelar di Jalan Gejayan, Sleman, Yogyakarta.

Uniknya, dalam aksi kali ini terlihat beberapa peserta memakai pakaian nyentrik dengan menggunakan topeng dan atribut-atribut lucu.

Beberapa momen itu pun sempat diabadikan di media sosial.

Menanggapi hal itu, pengamat sosial Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono mengatakan fenomena tersebut bukanlah hal baru.

"Kalau itu menurut saya tidak baru, hanya memang gejalanya tidak besar," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (30/9/2019).

Menurut Drajat, ada beberapa hal mengapa seseorang memakai atribut-atribut lucu dan nyentrik.

"Pertama adalah ini masalah signified, yaitu mereka pada prinsipnya mengharapkan eksistensi mereka di dalam kelompok besar dalam sejarah Indonesia, ingin menunjukkan bahwa mereka ada," ujar Drajat.

Baca juga: Seni Perlawanan Anak Muda di Balik Poster Lucu Pendemo

Menarik Perhatian

Dengan penampilan tersebut, imbuhnya, pasti akan banyak menarik perhatian orang, sehingga mereka bisa terekam oleh sejarah.

Kedua, dalam aksi kali ini pihak yang disasar adalah lembaga, bukan bukan hanya satu orang.

"Jadi mereka tidak bisa memvisualisasikan, mengartikulasikan musuhnya itu dalam bentuk gambar. Karena sekarang lembaga besar dan sasarannya adalah semuanya," kata Drajat.

"Maka kemudian mereka tidak bisa memilih figur sebagai aktualisasi dalam kepentingan mereka itu," lanjutnya.

Ketiga, dengan memakai atribut-atribut tersebut justru tensi demo bisa ditekan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X