Muncul Anggapan Aksi Mahasiswa Ditunggangi, Ini Ulasan Pengamat

Kompas.com - 29/09/2019, 12:16 WIB
Poster unik mahasiswa, di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019) KOMPAS.com/CYNTHIA LOVAPoster unik mahasiswa, di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019)

 

KOMPAS.com – Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa ramai dibicarakan. Tak hanya di Jakarta, aksi para mahasiswa juga terjadi berbagai wilayah, seperti Jogja dengan gerakan yang disebut Gejayan Memanggil, Solo dengan Bengawan Melawan atau juga terjadi di Surabaya yang disebut dengan Surabaya Menggugat.

Di luar pulau Jawa pun aksi serupa juga terjadi.

Adapun, tuntutan para mahasiswa tersebut adalah terkait masalah revisi UU KPK, RKUHP dan sejumlah RUU lainnya.

Yang cukup menjadi perhatian, adalah demo dilakukan oleh mahasiswa yang kerap disebut dengan generasi Z.

Di mana generasi ini kerap diidentikkan dengan mereka yang cenderung apatis dan tentunya karena lahir di era internet, maka biasanya sangat aktif di media sosial.

Namun secara mengejutkan, ternyata mereka mampu tergerak menyuarakan masalah kebijakan negara.

Hal ini memunculkan banyak praduga terkait adanya kemungkinan aksi mereka ditunggangi.

Pengamat Media Sosial, Ismail Fahmi melalui siaran langsung di Program Sapa Indonesia yang disiarkan Kompas TV, Sabtu (22/9/2019) malam, menyampaikan, bahwa sekarang ini mudah untuk melihat apakah aksi ditunggangi atau tidak.

“Tak perlu khawatir tunggang menunggangi, karena begitu ada isu di lapangan (offline) mereka akan membawanya secara online baik dengan media online maupun media sosial,” ujarnya.

Baca juga: Soal Aksi Mahasiswa, Pantaskah Menristek Dikti Memberi Sanksi Rektor?

Image Buruk

Ia mengatakan, dari peta yang ia buat bisa terlihat apakah keramaian yang terjadi di media sosial merupakan keramaian dari mahasiswa ataukah berasal dari mereka yang menunggangi.

“Jadi saat ada tuduhan mahasiswa ditunggangi khilafah dan turunkan Jokowi, dari peta yang saya buat kelihatan sekali. Khilafah yang bicara lain, dan turunkan Jokowi juga lain. Bukan mahasiswa,” paparnya.

Dari data tersebut menurutnya jelas bahwa tindakan mahasiswa murni gerakan mereka. Data tersebut tak bisa dibohongi lantaran data didapatkan berdasarkan pengamatan terhadap kesukaan seseorang di media sosial.

“Karena orang bicara, berinteraksi di media sosial sesuai kesukaan dia, kesepakatan dia,” ucapnya.

Dari pengamatannya, mahasiswa tak akan turun dalam keramaian-keramaian media sosial yang gagasannya tidak ia sepakati. Sehingga mereka tak akan bisa digerakkan ke arah tertentu.

Ismail juga menyampaikan melihat aktivitas publik di media sosial, respons orang-orang yang notabene berusia di atas mahasiswa, mayoritas cenderung bangga.

Mereka banyak yang terkejut mengingat image buruk tentang mahasiswa sekarang terpatahkan.

Pihaknya juga menilai ini juga bisa jadi harapan baru yang menunjukkan bahwa mereka masih peduli.

“Yang menarik isu RUU yang biasanya nyaris sepi di medsos, yang biasanya hanya dibicarakan orang LSM atau LBH karena urusan hukum banyak yang tak paham. Begitu mahasiswa turun orang-orang jadi belajar,” paparnya lagi.

Lebih lanjut ia mengatakan, sejak era pemilu, media sosial seolah terpecah menjadi dua.

Namun semenjak aksi mahasiswa muncul peta percakapan baru  dari kelompok kalangan anak-anak muda, dan itu terus bertambah.

Hal tersebut menurutnya tak akan mengalami peningkatan, seandainya kemarin tak ada aksi mahasiswa yang turun ke lapangan.

Baca juga: Sepak Terjang Ananda Badudu, dari Galang Dana Aksi Mahasiswa hingga Dicokok Saat Tidur

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X