"Begitu Hujan, Teriak-teriak Kegirangan"

Kompas.com - 22/09/2019, 19:02 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis yang berbatasan dengan wilayah Kota Dumai, Riau, Selasa (26/2/2019). Upaya pemadaman dibantu dengan water bombing dengan menggunakan helikopter Super Puma milik Perusahaan Sinarmas. Dok Tim Satgas Karhutla Riau KOMPAS.com/IDON TANJUNGKebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis yang berbatasan dengan wilayah Kota Dumai, Riau, Selasa (26/2/2019). Upaya pemadaman dibantu dengan water bombing dengan menggunakan helikopter Super Puma milik Perusahaan Sinarmas. Dok Tim Satgas Karhutla Riau


KOMPAS.com – Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) Dr. Tri Handoko Seto, M.Sc, mengatakan, upaya hujan buatan di tiga provinsi yang mengalami kabut asap karena kebakaran hutan mulai membuahkan hasil.

Tiga provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan mendapatkan paparan kabut asap yaitu Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Menurut Seto, hujan mulai turun pada Sabtu (21/9/2019). Banyak yang berteriak kegirangan menyambut turunnya hujan.

“Begitu kemarin, ya atas kerja keras kita dan kemurahan Tuhan, akhirnya hujan turun. Memang semua orang histeris di daerah asap itu, luar biasa. Begitu hujan, berteriak-teriak kegirangan,” kata Seto, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (22/9/2019) sore.

Pernyataan Seto ini mengonfirmasi beberapa video yang beredar di media sosial yang menunjukkan ungkapan syukur dan kebahagiaan karena hujan yang dinantikan akhirnya turun.

Baca juga: Hujan Buatan Akan Dilakukan di Karhutla Sumatera dan Kalimantan

Hujan menjadi harapan untuk memadamkan api kebakaran hutan dan mengurangi pekatnya asap.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Bersyukur, Alhamdulillah, Terimakasih ya Tuhan ????? Tekan ♥, dan mention teman kamu untuk saling berbagi informasi menarik! #saykocak

A post shared by SAY - KOCAK ???????? (@say.kocak) on Sep 21, 2019 at 4:51pm PDT

Seto menjelaskan, upaya menaburkan garam sudah mulai membuahkan hasil, meskipun belum begitu signifikan.

“Sekarang sudah mulai ini cukup banyak hujannya, tapi yaitu luasannya itu paling skala desa, kecamatan, paling luas gitu. Belum sampai merata sekabupaten apalagi provinsi belum, masih-masih spot-spot,” jelas Seto.

Ia mengatakan, belum terlihatnya hasil yang signifikan karena keberadaan awan yang tidak terlalu besar pada musim kemarau seperti saat ini.

Baca juga: BNPB Masih Akan Melakukan Hujan Buatan di Kalimantan dan Sumatera

“Kalau dilihat dari sisi volume air hujan yang diturunkan itu ada sekitar lebih dari 15 juta meter kubik lah totalnya, mungkin sekitar 20 juta meter kubik. Tetapi, karena hujannya memang belum rata, masih spot-spot sehingga belum mampu secara signifikan mengurangi kepekatan asap,” lanjut dia.

Seto memprediksi intensitas hujan hasil modifikasi cuaca ini baru akan terlihat signifikan pada Selasa atau Rabu pekan depan.

“Tapi kami optimistis, nanti kira-kira mulai Selasa-Rabu saya pikir akan cukup banyak, akan jauh lebih signifikan ini. Perkiraan saya Selasa atau Rabu banyak hujan-hujan yang cukup luas dan berdampak pada pengurangan asap di titik api,” kata Seto.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X