Kompas.com - 22/09/2019, 09:15 WIB

 

KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta BMKG menerapkan modifikasi teknologi guna menangani asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Salah satunya yakni dengan penggunaan Kalsium Oksida atau kapur tohor aktif (CaO) yang bersifat eksotermis (mengeluarkan panas).

Kapur ini ditaburkan di gumpalan asap sehingga dapat mengurai partikel karhutla dan gas.

Akibatnya asap hilang dan radiasi matahari bisa menembus ke permukaan bumi.

Berdasarkan siaran pers BNPB, Sabtu (21/9/2019), 10.000 kilogram Kalsium Oksida (CaO) atau kapur tohor aktif untuk operasi mengurangi kepekatan kabut asap di Kalimantan sudah datang di Palangkaraya.

Sebenarnya apa itu Kalsium Oksida?

Baca juga: Soal Karhutla, antara Kelalaian dan Petaka Kabut Asap

Mengenal kapur tohor atau Kalsium Oksida

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, kalsium oksida lebih dikenal dengan masyarakat dengan sebutan kapur tohor.

Kapur tohor merupakan senyawa kimia yang berbentuk padatan putih-putih atau keabu-abuan yang menyerupai batu gamping.

Seto mengatakan, penaburan kapur tohor aktif ini dilakukan karena kabut asap telah menghambat proses penguapan sebagai syarat terbentuknya awan yang mengakibatkan hujan sulit terjadi.

"Kapur aktif yang meyerupai batu gamping ini lalu kita kirim dengan ukuran tertentu dan kita gunakan untuk teknologi modifikasi cuaca," ucapnya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (21/9/2019).

Untuk mengatasi kabut asap ini, kapur tohor ditaburkan pada gumpalan kabut asap sehingga kabut asap menghilang dan radiasi matahari bisa menembus ke permukan bumi.

"Radiasi matahari yang terhalang asap membuat proses penguapan terbentuk dan awan susah terbentuk," ucapnya.

Baca juga: Kisah Chanee Kalaweit, Bule Perancis yang Jadi Korban Kabut Asap

Pembentukan Hujan

Dengan penaburan kapur tohor, konsentrasi asap berkurang sehingga awan terbentuk dan dilakukan proses penyemaian dengan garam atau NaCL untuk hujan buatan.

"Kalau ada awan dan masih ada asap, lalu asapnya kita kurangi dengan kapur tohor. Nah, saat tumbuh awan, kita semai dengan NaCL," tambahnya.

Menurut Seto, peluang keberhasilan dalam penanganan kabut asap tidak bisa diprediksi karena cuaca yang berbeda setiap harinya.

"Keberhasilannya tidak bisa diukur dalam persen karena dari hari ke hari cuacanya berubah awan yang tumbuh berubah. Berbeda-beda setiap hari. Kita hanya berupaya," ucap dia.

Seto menambahkan, metode penebaran kapur tohor ini tak hanya mampu proses pembentukan hujan tetapi juga membantu menyuburkan lahan gambut.

"Kapur tohor itu justru kalau jatuh ke lahan gambut bersama hujan akan meningkatkan Ph gambut. Malah membuat lahan gambut itu semakin bagus," ungkapnya.

Seto mengatakan, penyebaran kapur tohor ini sudah mampu mendatangkan hujan di daerah Palangkaraya.

Untuk saat ini, target modifikasi cuaca ditargetkan di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

"Kita juga sudah buka posko di Kalimantan Barat. Target selanjutya bisa di Riau, Jambi, dan Sumatra Barat," ungkapnya.

Baca juga: Viral Langit Merah di Muaro Jambi, Ada Apa?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.