Mengapa Kita Bisa Kecanduan Nikotin?

Kompas.com - 21/09/2019, 19:14 WIB
Ilustrasi rokok ShutterstockIlustrasi rokok

KOMPAS.com - Meski telah diketahui efek negatifnya, banyak orang yang masih sulit melepaskan diri dari gaya hidup merokok.

Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, perokok aktif Indonesia mulai dari usia 10 tahun ke atas berkisar hingga 66 juta orang.

Padahal, angka kematian akibat rokok di indonesia telah mencapai 200 ribu kasus per tahunnya.

Memang susah untuk menghentikan kebiasaan merokok atau menghisap vape. Baik rokok atau vape (rokok elektrik), keduanya sama-sama mengandung nikotin.

Nikotin inilah yang menghasilkan efek kecanduan. Lalu, bagaimana cara kerja nikotin dalam tubuh kita?

Ketika seseorang menghirup asap rokok, nikotin disuling dari tembakau dan dibawa oleh partikel asap ke dalam paru-paru yang kemudian akan diserap dengan cepat ke dalam vena pulmonaris paru.

Setelah itu, partikel nikotin memasuki sirkulasi arteri dan bergerak menuju otak.

Nikotin dengan mudah mengalir ke jaringan otak, di mana partikel-partikel ini akan mengikat reseptor nAChRs, reseptor ionotropik (ligand-gated ion channel) yang terbuka untuk memungkinkan kation seperti sodium dan kalsium melewati membran dalam menanggapi lebih banyak pengikatan utusan kimia, seperti neurotransmitter.

Salah satu neurotransmiter ini adalah dopamin, yang dapat meningkatkan mood dan mengaktifkan perasaan senang.

Baca juga: Kenali 5 Cara Jitu Atasi Kecanduan Nikotin di Rokok dan Vape

Efek Candu

Efek nikotin dalam tembakau inilah yang menghasilkan efek candu.

Pada sebagian orang, merokok bisa sangat cepat menyebabkan ketergantungan nikotin walaupun dikonsumsi hanya dalam jumlah kecil.

Berikut adalah beberapa tanda dan gejala kecanduan nikotin:

1. Tidak bisa berhenti merokok.

2. Mengalami perubaan fisik atau suasana hati saat mencoba untuk berhenti merokok

3. Tetap merokok walaupun memiliki masalah kesehatan.

4. Kita lebih mementingkan untuk bisa merokok daripada melakukan aktivitas sosial maupun rekreasional.

Untuk mengatasi efek kecanduan nikotin, kita bisa menggunakan produk alternatif nikotin seperti permen karet nikotin atau koyo nikotin.

Produk-produk ini menghasilkan perubahan fisiologis yang lebih bisa ditoleransi daripada efek sistemik produk berbahan dasar tembakau.

Umumnya, produk tersebut juga menyuplai pengguna dengan kadar nikotin yang jauh lebih rendah daripada sebatang rokok.

Obat-obatan resep dokter seperti bupropion dan varenicline juga bisa mengatasi efek kecanduan nikotin.

Bupropion tidak mengandung nikotin tetapi dapat menanggulangi keinginan pasien untuk merokok.

Sementara itu, varenicline adalah obat yang akan menargetkan ketergantungan otak terhadap nikotin dengan cara memblokir asupan nikotin sebelum sampai ke dalam membran otak dan menurunkan hasrat merokok.

Selain kedua cara di atas kita juga harus mulai menerapkan perubahan gaya hidup yang lebih positif demi kesehatan kita.

Baca juga: Mengenal Beda Rokok dan Vape...

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Editor's Letter: Belajar dan Bertumbuh dari Rasa Takut karena Covid-19

Editor's Letter: Belajar dan Bertumbuh dari Rasa Takut karena Covid-19

Tren
Hari Ini dalam Sejarah: 6 April 1896, Olimpiade Modern Pertama Digelar

Hari Ini dalam Sejarah: 6 April 1896, Olimpiade Modern Pertama Digelar

Tren
Berikut Cara Dapatkan Internet Gratis dari XL, Telkomsel dan Indosat untuk Bekerja dan Belajar dari Rumah

Berikut Cara Dapatkan Internet Gratis dari XL, Telkomsel dan Indosat untuk Bekerja dan Belajar dari Rumah

Tren
Obesitas dan Tingginya Angka Kematian akibat Virus Corona di AS...

Obesitas dan Tingginya Angka Kematian akibat Virus Corona di AS...

Tren
PM Inggris Boris Johnson Dirawat di RS Setelah 10 Hari Isolasi Mandiri karena Virus Corona

PM Inggris Boris Johnson Dirawat di RS Setelah 10 Hari Isolasi Mandiri karena Virus Corona

Tren
Statistik Covid-19 dan Kemanusiaan

Statistik Covid-19 dan Kemanusiaan

Tren
Update Virus Corona di ASEAN 5 April: Malaysia, Filipina, dan Thailand Catatkan Kasus Terbanyak

Update Virus Corona di ASEAN 5 April: Malaysia, Filipina, dan Thailand Catatkan Kasus Terbanyak

Tren
Dilema Mudik Lebaran di Tengah Pandemi Corona

Dilema Mudik Lebaran di Tengah Pandemi Corona

Tren
Wabah Virus Corona, Ini Aturan Praktik yang Dikeluarkan FDGI bagi Dokter Gigi

Wabah Virus Corona, Ini Aturan Praktik yang Dikeluarkan FDGI bagi Dokter Gigi

Tren
5 Hal Baru soal Penularan Virus Corona Tanpa Gejala

5 Hal Baru soal Penularan Virus Corona Tanpa Gejala

Tren
Jepang Pertimbangkan Peningkatan Produksi Avigan untuk 2 Juta Orang

Jepang Pertimbangkan Peningkatan Produksi Avigan untuk 2 Juta Orang

Tren
Kondisi Garda Terdepan Indonesia Perangi Covid-19, Minimnya APD dan Dokter Spesialis Paru

Kondisi Garda Terdepan Indonesia Perangi Covid-19, Minimnya APD dan Dokter Spesialis Paru

Tren
Update Virus Corona di Dunia 6 April: 1,27 Juta Orang Terinfeksi, 259.810 Sembuh

Update Virus Corona di Dunia 6 April: 1,27 Juta Orang Terinfeksi, 259.810 Sembuh

Tren
Berikut 3 Hal Penting soal Listrik Gratis PLN Selama Pandemi Virus Corona

Berikut 3 Hal Penting soal Listrik Gratis PLN Selama Pandemi Virus Corona

Tren
Testimoni Para Pasien Covid-19, dari Gejala hingga Upaya Mereka Lawan Virus Corona

Testimoni Para Pasien Covid-19, dari Gejala hingga Upaya Mereka Lawan Virus Corona

Tren
komentar
Close Ads X