Betulkah Reinkarnasi Tidak Ada? (4): Hipnosis dan Misteri Alam Bawah Sadar Manusia

Kompas.com - 14/09/2019, 19:32 WIB
Sigmund Freud Muslim TimesSigmund Freud

 

Dikutip dari karya Freud dan Josef Breuer berjudul The Studies on Hysteria (1895), histeria atau kecemasan dan ketakutan yang mendalam, disebabkan dari insiden di masa lampau.

Freud meyakini kecemasan pasti berasal dari insiden terkait seks di masa kecil. Trauma ini terepresi dalam alam bawah sadar manusia.

Freud dan Breuer berpendapat memori akan insiden ini perlu dibawa ke kesadaran. Caranya, dengan hipnosis. Setelah kenangan buruk muncul ke permukaan, histeria akan terobati.

"Makanya metode penyembuhannya dengan menggali kembali alam bawah sadar," ujar Yunita.

Sayangnya, Freud tak terlalu berhasil mengembangkan metode hipnosis yang ampuh. Ia beralih mengembangkan psikoanalisa.

Setelah Freud, Carl Gustav Jung yang mengembangkan psikologi analitis juga menggunakan hipnosis untuk menyembuhkan pasiennya.

Dikutip dari otobiografinya, Memories, Dreams, Reflections (1961), Jung mengaku tak melanjutkan hipnosis karena tak punya pembuktian yang kuat.

Ia merasa menggunakan hipnotis untuk menyembuhkan penyakit mental, seperti meraba dalam gelap.

Sama seperti Freud, Jung akhirnya lebih banyak menghabiskan pemikiran soal kesadaran dan alam bawah sadar.

Menurut Jung, di alam bawah sadar manusia, setiap individu menyimpan memori kolektif atau "collective unconscious". Memori kolektif ini diturunkan dari para leluhur dan terpatri di dalam pikiran sejak lahir.

Memori kolektif ini yang boleh jadi muncul saat individu menyelami hipnosis.

"Psikologi ada pendekatan psikoanalisa, behavior, cognitive behavior. Kalau hipnoterapi pakai pendekatan psikoanalisa," kata Yunita.

Hipnoterapi di Indonesia

Sementara menurut dokter spesialis jiwa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Sylvia Detri Elvira, selain menjadi bagian dari psikologi, hipnoterapi juga bagian dari psikiatri. Psikiatri adalah cabang keilmuan medis yang berfokus menangani kesehatan jiwa.

Sylvia menyebut hipnoterapi dibawa masuk ke Indonesia oleh seniornya, Prof. Dr. dr. Didi Bachtiar Lubis, SpKJ(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia pada tahun 1960-an. Ia belajar dari para dosennya di UI.

Ada dua jenis hipnoterapi. Pertama, yang menganalisa adanya masalah di masa lalu. Kedua, hipnoterapi biasa yang memberi sugesti kepada pasien.

“Bentuk kedua tidak dianalisis hipnoterapinya. Orang yang enggak bisa nyetir, takut ketinggian, orang hamil, dikasih hipnosis aja biar dia bisa melakukan,” ujar Sylvia.

Di Indonesia, hipnoterapi diajarkan dalam spesialisasi psikiatri, tapi sifatnya pilihan. Sylvia menyebut hanya ada sembilan perguruan tinggi yang mengajarkan secara resmi.

“Zaman saya sekolah sudah pakai ujian. Guru saya enggak pakai ujian. Sekarang kenapa harus bisa (hipnoterapi)? Karena enggak semua pusat pendidikan mensupervisi,” ujar dia.

Hipnoterapi yang diajarkan pun bukan untuk menganalisa masa lalu seseorang. Hipnoterapi yang menguak kehidupan masa lampau, kata Sylvia, tak bisa dibuktikan kebenarannya.

"Kita itu punya alam sadar dan alam bawah sadar. Alam bawah sadar itu tingkatannya 1 sampai 12 dan seterusnya, makin dalam makin enggak ingat," ujar Sylvia.

Lapisan-lapisan alam bawah sadar itu menyimpan memori yang berbeda. Ada yang bisa dengan mudah diingat kembali, namun ada yang sulit atau bahkan kita tak ingat lagi.

"Kita sebagai manusia cenderung melakukan represi dari kecil sampai sekarang. Misalnya waktu kecil dimarahin, kan sedih tapi mau ngomong enggak bisa akhirnya dibuang saja ke alam bawah sadar, direpresi. Itu menumpuk di alam bawah sadar," ujar dia.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X