BJ Habibie Wafat, Wariskan Karya dari Kisah Cinta hingga Dirgantara

Kompas.com - 11/09/2019, 19:40 WIB
FOTO DOKUMENTASI. Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) mengenai industri penerbangan didampingi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir (kedua kanan) saat mengunjungi stan pameran National Innovation Forum 2015 di Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin (13/4/2015). National Innovation Forum Tahun 2015 yang  diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu bertujuan untuk mempromosikan hasil-hasil riset dari lembaga litbang dan perguruan tinggi kepada dunia usaha dan masyarakat. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/Rei/pd/ama. ANTARA FOTO/Yudhi MahatmaFOTO DOKUMENTASI. Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) mengenai industri penerbangan didampingi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir (kedua kanan) saat mengunjungi stan pameran National Innovation Forum 2015 di Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin (13/4/2015). National Innovation Forum Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu bertujuan untuk mempromosikan hasil-hasil riset dari lembaga litbang dan perguruan tinggi kepada dunia usaha dan masyarakat. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/Rei/pd/ama.


KOMPAS.com – Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18.05 WIB. Ia meninggal karena sakit yang dideritanya. 

Sosok Habibie dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai Bapak Teknologi. Selain kecerdasannya, lulusan salah satu universitas teknik terbaik di Jerman ini juga dikenal bertangan dingin dalam menelurkan karya-karya.

Sepanjang 83 tahun usianya, pria kelahiran Parepare 25 Juni 1936 ini telah melahirkan banyak karya, baik yang berkaitan dengan romansa cintanya bersama sang istri Hasri Ainun Habibie atau yang terkait dengan kemampuannya di dunia dirgantara atau penerbangan.

Menulis 5 judul buku

Tercatat, bapak 2 anak ini telah menuliskan 5 buah buku. Pertama adalah tahun 1996 ia menulis sebuah buku berjudul Economic Cooperation for Regional Stability.

Tiga tahun setelah itu, pada 1999 Habibie kembali menulis sebuah buku berjudul Rhapsody: Light, Speed, Time, and Space.

Berselang cukup lama, pada 2006 Habibie kembali menuliskan buku, kali ini mengangkat tema demokrasi negara dan berjudul Decisive Moment: Indonesia’s Long Road Towards democracy.

Buku keempatnya cukup berbeda, kali ini ia menuliskan tentang kisah cintanya bersama Ainun yang sangat dicintainya. Karyanya ini ia beri nama Habibie & Ainun.

Masih berlanjut menceritakan kisah asmaranya bersama sang kekasih, Habibie kembali menulis buku berjudul Habibie & Ainun: The Power of Love: The True Story from The Former Precident and His Wife pada tahun 2011.

Buku terakhir ini ia rampungkan setahun setelah sang istri mangkat pada 2010.

Baca juga: Habibie Akan Dimakamkan di Samping Makam Ainun

Pesawat N250 Gatot Kaca

Merampungkan pendidikan di bidang teknik dan menyenangi dunia kedirgantaraan, Habibie berhasil membuat sebuah pesawat yang untuk pertama kalinya bisa dilakukan di Indonesia.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X