Futurismo: "Artificial Intelligence" dan "Superficial Anxiety"

Kompas.com - 03/09/2019, 07:03 WIB
Seorang pengunjung berjalan dekat tanda Intel Artificial Intelligence (AI) Day di Bangalore, India, 4 April 2017. AFP/MANJUNATH KIRANSeorang pengunjung berjalan dekat tanda Intel Artificial Intelligence (AI) Day di Bangalore, India, 4 April 2017.

FRANK PEELEN ikut menonton perdebatan antara Elon Musk, pendiri Tesla dan Space-X, dan Jack Ma, bos dan pendiri Alibaba group.

Diskusi yang difasilitasi oleh BUMN China, China Global Television Network (CGTN), dalam event World Artificial Intelligence Conference di Shanghai berkembang jadi perdebatan sengit di antara keduanya.

Yang dibahas isu sederhana, dan juga bukan isu baru, kira-kira begini: apakah AI ( artificial intelligence) akan bermanfaat bagi umat manusia, atau sebaliknya mengancam eksistensi manusia dan dinamika kesehariannya.

Meski menikmati panas-dinginnya debat, Frank Peelen mengeluhkan satu hal, "Diskusi ini benar-benar perlu seorang moderator!"

Frank Peelen benar dalam satu hal. Dalam tataran diskusi publik, kesimpulan yang diciptakan oleh pandangan ekstrem sebaiknya ditunda dulu.

Namanya juga moderating, yang secara fair dan rasional semestinya memberikan ruang bagi berbagai wacana, gagasan, dan pandangan untuk beradu sebelum topik utamanya mencapai klimaksnya.

Oh, jadi perdebatan mengenai AI belum mencapai klimaksnya? Tentu saja belum. AI, sejauh mana ia mengancam?

Musk yang berambisi menaklukkan Mars menekankan pada betapa berbahayanya berpikir sempit bahwa AI adalah smart human.

Menurutnya, cara kebanyakan kita dalam memahami AI kira-kira satu pola dengan cara simpanse memahami manusia. Tentu tidak sesederhana itu.

Musk memikirkan kemungkinan-kemungkinan saat AI justru berbalik mengendalikan keseharian kehidupan manusia.

Bila pembaca ingin mendapatkan visualisasi dari pandangan Musk ini, tontonlah film lama Lawnmower Man (1992), yang naskahnya ditulis oleh Brett Leonard dan Gimel Everett.

Itu film fiksi ilmiah yang ditayangkan di bioskop 27 tahun lalu! Kira-kira sepurba itulah diskursus tentang AI yang jahat direpresentasikan. Tak lama kemudian semuanya berubah.

Sepuluh tahun terakhir ini Anda akan mendapati diskursus tentang AI menjadi lebih melunak.

Tontonlah Iron Man dengan Jarvis-nya (mulai 2008), Ex Machina (2014), atau Chappie (2015). Di sana seolah ingin disampaikan bahwa AI adalah masa depan kebahagiaan umat manusia.

Dan, inilah yang mungkin menjadi cara pandang Jack Ma. Jack Ma melihat bahwa AI tak akan pernah bisa mengusik dinamika keseharian manusia, bahkan--secara positif--mempermudah kehidupan umat manusia.

Tampak seperti pepatah platonik, tetapi cara Jack Ma menyampaikan pandangannya sungguh manusiawi. Bila sampai AI memberikan indikasi akan membahayakan umat manusia, tentu manusia sudah pasti akan mengetahuinya lebih dulu. Debatable.

Dalam sebuah pertemuan Forum AI Society Indonesia yang saya ikuti belum lama ini di Jakarta, kebanyakan dari kami sepakat bahwa kemajuan AI bukanlah ancaman, bahkan mempermudah pekerjaan manusia.

Soal bakal hilangnya pekerjaan dan profesi, itu pun dikesampingkan dengan pergeseran secara alamiahnya fungsi serta cara kerja manusia bersama dengan "mesin-mesin AI". Machines evolve, so do humans!

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X