Alasan Pemerintah Atur Tarif Ojek Online

Kompas.com - 01/09/2019, 19:16 WIB
Ilustrasi ojek online, tarif baru ojek online ShutterstockIlustrasi ojek online, tarif baru ojek online

KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) memberlakukan tarif baru ojek online yang disamaratakan di seluruh Indonesia mulai Senin (2/9/2019).

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hengki Angkasawan mengungkapkan, tujuan diterapkannya tarif baru ini untuk kesejahteraan driver dan meningkatkan penggunaan transportasi berbasis online.

"Tujuannya, dengan adanya pemberlakuan tarif baru ini akan bermanfaat untuk kesejahteraan para driver dan meningkatkan penggunaan transportasi dengan basis online," ujar Hengki saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/9/2019).

Selain itu, ia berharap para driver mampu lebih berkonsentrasi dengan mengutamakan keselamatan ketika mengemudi dan meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa ojek online.

Baca juga: Ini Daftar Tarif Baru Ojek Online Motor

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Darat Kemenhub, Pitra Setiawan, mengatakan, pemerintah mengatur biaya jasa ojek online, karena pemerintah merupakan regulator yang harus menjadi acuan dan mampu menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.

"Pemerintah selaku regulator harus berdiri di tengah-tengah antara kepentingan aplikator dan keberlangsungan usaha dan kesejahteraan driver selaku mitra," ujar Pitra, saat dihubungi secara terpisah, Minggu.

"Pemerintah juga harus menengahi kepentingan masyarakat selaku konsumen yang berhak atas tarif yang terjangkau sekaligus juga terjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanannya," lanjut dia.

Adapun pemberlakuan tarif baru ini berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 348 Tahun 2019 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor Yang Digunakan Untuk Kepentingan Masyarakat Yang Dilakukan Dengan Aplikasi.

Baca juga: Mulai 2 September 2019, Berlaku Tarif Baru untuk Ojek Online Motor

Dalam keputusan tersebut, besaran tarif bergantung pada 3 zona.

Zona 1 meliputi wilayah Sumatera, Jawa (tanpa Jabodetabek), dan Bali.

Sementara, Zona 2 meliputi meliputi kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Terakhir, Zona 3 meliputi Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua.

Pemberlakuan tarif baru ini merupakan tahap akhir dari rentetan tahapan perluasan tarif batas atas dan tarif batas bawah di seluruh Indonesia.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

60 Negara Melaporkan Strain Baru Virus Corona Inggris, Bagaimana dengan Indonesia?

60 Negara Melaporkan Strain Baru Virus Corona Inggris, Bagaimana dengan Indonesia?

Tren
Update Corona di Dunia 21 Januari 2021: 97,2 Juta Kasus, 2,08 Juta Orang Meninggal | Rekor Kasus Covid-19 Harian dan Kematian di Portugal

Update Corona di Dunia 21 Januari 2021: 97,2 Juta Kasus, 2,08 Juta Orang Meninggal | Rekor Kasus Covid-19 Harian dan Kematian di Portugal

Tren
Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ini Cara Selamatkan Diri Menurut BNPB

Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ini Cara Selamatkan Diri Menurut BNPB

Tren
Ramai soal Waterspout di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Apa Penyebabnya?

Ramai soal Waterspout di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Apa Penyebabnya?

Tren
Video Viral Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur, Ini Penjelasan Lengkap BMKG...

Video Viral Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur, Ini Penjelasan Lengkap BMKG...

Tren
Calon Kapolri Listyo Sigit Akan Hidupkan Pam Swakarsa, Pengamat: Potensi Penyalahgunaan Wewenang

Calon Kapolri Listyo Sigit Akan Hidupkan Pam Swakarsa, Pengamat: Potensi Penyalahgunaan Wewenang

Tren
Cek Aplikasi InaRisk BNPB untuk Ketahui Risiko Bencana hingga Pandemi

Cek Aplikasi InaRisk BNPB untuk Ketahui Risiko Bencana hingga Pandemi

Tren
Studi Temukan Wanita di Italia Terinfeksi Covid-19 pada November 2019

Studi Temukan Wanita di Italia Terinfeksi Covid-19 pada November 2019

Tren
[POPULER TREN] Video Viral Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur | Ramai Tanda 'S.O.S' di Lokasi Jatuhnya Sriwijaya Air

[POPULER TREN] Video Viral Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur | Ramai Tanda "S.O.S" di Lokasi Jatuhnya Sriwijaya Air

Tren
Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ini Penjelasan BMKG

Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ini Penjelasan BMKG

Tren
Tutup karena Pandemi, Museum Ini Tak Sadar Lukisan Berusia 500 Tahun Dicuri

Tutup karena Pandemi, Museum Ini Tak Sadar Lukisan Berusia 500 Tahun Dicuri

Tren
[HOAKS] Jenazah Korban Gempa di Mamuju Dibungkus Daun Pisang

[HOAKS] Jenazah Korban Gempa di Mamuju Dibungkus Daun Pisang

Tren
INFOGRAFIK: 6 Gejala dan Tanda Covid-19 Mulai Memengaruhi Kesehatan Jantung

INFOGRAFIK: 6 Gejala dan Tanda Covid-19 Mulai Memengaruhi Kesehatan Jantung

Tren
Apakah Vaksin Dapat Melawan Varian Baru Corona? Ini Penjelasan WHO

Apakah Vaksin Dapat Melawan Varian Baru Corona? Ini Penjelasan WHO

Tren
Viral Video Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur, Ini Kata BPBD Wonogiri

Viral Video Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur, Ini Kata BPBD Wonogiri

Tren
komentar
Close Ads X