Bahaya Manakah Polusi Udara dengan Menghisap Rokok?

Kompas.com - 23/08/2019, 06:26 WIB
Kendaraan bermotor melintasi Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKendaraan bermotor melintasi Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.


KOMPAS.com - Polusi udara masih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup di banyak negara, termasuk Indonesia

Akibat paparan polusi, seseorang berpotensi untuk menderita penyakit pernapasan akut (ISPA), paru-paru, kanker, dan beberapa penyakit lainnya.

Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini.

Dikutip dari independent.co.uk, sebuah studi menunjukkan bahwa paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat memperburuk penyakit paru-paru.

Hal itu sama halnya dengan menghisap satu bungkus rokok (20 batang) per hari.

Para peneliti melihat paparan empat polutan utama mempengaruhi kesehatan paru-paru pada 7.071 orang dewasa dengan usia 45 hingga 84 tahun yang tinggal di enam kota AS.

Mereka mengukur tingkat partikel halus, seperti nitrogen oksida, karbon hitam dan ozon di luar rumah peserta.

Peneliti juga melakukan CT scan untuk melacak perkembangan emfisema dan penurunan fungsi paru-paru.

Baca juga: Idap Pneumonia, Sarri Pernah Akui Habiskan 60 Batang Rokok dalam Sehari

Beberapa penyakit pernapasan, seperti emfisema, bronkitis kronis, dan asma masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.

Dengan mengawasi peserta selama rata-rata 10 tahun, mereka menemukan bahwa paparan jangka panjang untuk semua polutan berkaitan dengan peningkatan persentase emfisema yang terlihat pada CT scan.

Korelasi terkuat ditemukan pada ozon permukaan tanah, yang berkaitan juga dengan penurunan fungsi paru-paru.

Di daerah dengan tingkat ozon yang lebih besar, mereka menemukan peningkatan emfisema kira-kira setara dengan merokok sebungkus sehari selama 29 tahun.

Dr. , Profesor Ilmu Kesehatan Lingkungan, dari University of Washington, mengungkapkan keterkejutannya pada temuan itu.

"Kami terkejut ketika melihat betapa kuatnya dampak polusi udara terhadap perkembangan emfisema pada hasil scan paru-paru," kata Joel.

"Itu setara dengan efek dari merokok, yang sejauh ini menjadi penyebab emfisema yang paling umum," lanjutnya.

Baca juga: Puntung Rokok dan Plastik Sekali Pakai, Dominasi Sampah di Pantai dan Kawasan Bawah Laut

Ia menjelaskan bahwa pihaknya masih membutuhkan waktu untuk memahami penyebab paru-paru kronis.

"sulit untuk mengelak jika polusi udara menjadi penyumbang utama penyebab paru-paru kronis" ucapnya.

Ozon di permukaan tanah diproduksi ketika sinar UV bereaksi dengan polutan dari bahan bakar fosil.

Proses ini dipercepat dengan adanya gelombang panas.

Ketika sebagian besar tingkat polusi udara turun, jumlah ozon justru semakin meningkat.

Para penulis percaya jumlah tersebut akan terus meningkat kecuali jika ada langkah lebih lanjut untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Washington, Columbia University dan University at Buffalo yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X