Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Jangan Asal Terima Jastip Barang dari Luar Negeri, Pahami Aturannya!

Informasi itu diunggah oleh akun Instagram Makassar Info, @makassar_iinfo.

Disebutkan bahwa dua WNI tersebut melakukan jasa titip alias jastip ilegal dengan membawa delapan unit ponsel keluaran terbaru dari perusahaan Apple, Inc.

Pelaku disebut melakukan modus memisahkan ponsel dengan kotak kemasannya di mana kotak tersebut sengaja ditinggal di Singapura.

Sementara, untuk ponsel disembunyikan di kantong baju, koper, bahkan direkatkan di paha menggunakan lakban.

Menilik peristiwa ini, belanja barang saat bertandang ke luar negeri kerap terjadi.

Apalagi, melalui bisnis jasa titip alias jastip, yang kini tengah diminati.

Ingat, jangan asal menerima jastip barang, tanpa memahami ketentuan membawa barang dari luar negeri.

Barang keperluan pribadi dan bukan keperluan pribadi

Kasubdit Komunikasi dan Publikasi Bea Cukai Deni Surjantoro menjelaskan, Bea Cukai mengatur dua jenis barang, yakni barang keperluan pribadi dan barang bukan keperluan pribadi.

"Kalau kasus jastip ini termasuk barang bukan keperluan pribadi, biasnaya orang menerjemahkan sebagai barang untuk diperdagangkan," ujar Deni saat dihubungi Kompas.com, Jumat (18/10/2019).

Selain itu, ada ketentuan barang bawaan penumpang yang diberikan fasilitas pembebasan sebesar 500 dollar AS per penumpang.

Adapun barang dengan pembebasan sebesar 500 dollar AS ini jika barang itu merupakan barang untuk keperluan pribadi.

"Kalau beli barang dari luar negeri misal sebesar 600 dollar AS, namun untuk keperluan pribadi, maka selisihnya 100 dollar AS ini akan masuk ke pungutan negara. Masuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau masuk Pajak Penghasilan (PPh)," ujar Deni.

Sementara, untuk barang yang termasuk bukan keperluan pribadi, termasuk barang jastip (diperdagangkan), maka akan dikenai penuh untuk pungutan negara.

"Jadi, tidak ada istilah pembebasan untuk barang jastip," kata Deni.

Pembatasan barang elektronik

Deni juga menjelaskan mengenai adanya ketentuan dan pembatasan barang jika dilihat dari konteks barang elektronik, seperti ponsel yang sebelumnya ramai dibicarakan di media sosial.

Menurut dia, ponsel yang diperbolehkan dibawa oleh penumpang hanya dua buah. Selebihnya, harus mendapatkan izin dari lembaga terkait.

Tak hanya barang elektronik, muatan untuk pakaian juga perlu diperhatikan dalam ketentuan penerbangan.

Pasalnya, pihak Bea dan Cukai membatasi hanya 10 baju yang diperbolehkan dibawa per penumpang.

Hal itu juga dilihat apakah barang tersebut untuk keperluan pribadi atau untuk diperjualbelikan.

"Kita juga lihat nilai barangnya. Kalau nilai barang dari 10 pakaian itu mencapai 1.000 dollar AS, maka berlaku fasilitas pembebasan 500 dollar AS untuk keperluan pribadi, kemudian pungutan," ujar Deni.

Untuk informasi mengenai nilai barang nantinya penumpang akan diberi tahu oleh petugas invoice.

Adapun informasi lebih lengkap mengenai kebijakan barang bawaan dari luar negeri (impor) bisa disimak di situs www.beacukai.go.id.

Sementara, soal jastip impor ilegal, Deni mengimbau agar masyarakat menaati ketentuan dan peraturan yang berlaku.

"Kepada masyarkat diharapkan patuh kepada ketentuan itu saja. Karena ketentuan ini juga untuk yang terbaik ya, tujuannya untuk perlindungan industri dalam negeri juga," kata dia.

https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/18/145208765/jangan-asal-terima-jastip-barang-dari-luar-negeri-pahami-aturannya

Terkini Lainnya

Menanti Tol Solo-Yogyakarta, Penghubung Dua Kota Mataram, Dukung Perekonomian Lokal

Menanti Tol Solo-Yogyakarta, Penghubung Dua Kota Mataram, Dukung Perekonomian Lokal

Tren
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2024 dan Keutamaannya

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2024 dan Keutamaannya

Tren
Penelitian Mengungkap Anggapan Masyarakat Mesir Kuno tentang Galaksi Bima Sakti

Penelitian Mengungkap Anggapan Masyarakat Mesir Kuno tentang Galaksi Bima Sakti

Tren
Manfaat Kelapa Bakar, Apa Bedanya dengan Diminum Langsung?

Manfaat Kelapa Bakar, Apa Bedanya dengan Diminum Langsung?

Tren
Catat, Ini 10 Ponsel Pintar dengan Radiasi Tertinggi

Catat, Ini 10 Ponsel Pintar dengan Radiasi Tertinggi

Tren
Pedagang Taoge di Garut Disebut Jadi Tersangka Usai Membela Diri dan Lawan Preman, Ini Faktanya

Pedagang Taoge di Garut Disebut Jadi Tersangka Usai Membela Diri dan Lawan Preman, Ini Faktanya

Tren
Daftar 60 Universitas Terbaik di Indonesia Versi SIR 2024, Ada Kampusmu?

Daftar 60 Universitas Terbaik di Indonesia Versi SIR 2024, Ada Kampusmu?

Tren
Remaja Siksa Anjing hingga Mati di Jember, Polisi: Masih dalam Proses Penyelidikan

Remaja Siksa Anjing hingga Mati di Jember, Polisi: Masih dalam Proses Penyelidikan

Tren
Daftar Ikan yang Boleh Dimakan Penderita Asam Urat dan Kolesterol, Apa Saja?

Daftar Ikan yang Boleh Dimakan Penderita Asam Urat dan Kolesterol, Apa Saja?

Tren
Gunung Vesuvius yang Lenyapkan Kota Kuno Pompeii Berpotensi Meletus Lagi, Kapan Terjadi?

Gunung Vesuvius yang Lenyapkan Kota Kuno Pompeii Berpotensi Meletus Lagi, Kapan Terjadi?

Tren
Pemimpin Dunia Minta Israel Tak Balas Serangan Iran, Ini Alasannya

Pemimpin Dunia Minta Israel Tak Balas Serangan Iran, Ini Alasannya

Tren
Mengenal 'Holiday Paradox', Saat Waktu Liburan Terasa Lebih Singkat

Mengenal "Holiday Paradox", Saat Waktu Liburan Terasa Lebih Singkat

Tren
Mengenal Amicus Curiae, Dokumen yang Diserahkan Megawati ke MK Terkait Sengketa Pilpres 2024

Mengenal Amicus Curiae, Dokumen yang Diserahkan Megawati ke MK Terkait Sengketa Pilpres 2024

Tren
Bagaimana Cara Kerja Suara dari Sumber Bunyi Mencapai Telinga Anda?

Bagaimana Cara Kerja Suara dari Sumber Bunyi Mencapai Telinga Anda?

Tren
3 Skenario Serangan Balasan Israel ke Iran, Salah Satunya Incar Fasilitas Nuklir

3 Skenario Serangan Balasan Israel ke Iran, Salah Satunya Incar Fasilitas Nuklir

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke