Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyebab Perlawanan Rakyat Hitu terhadap Belanda

Kompas.com - 27/05/2024, 17:00 WIB
Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perlawanan rakyat Hitu terhadap Belanda dimulai pada tahun 1634, di bawah pimpinan Kapitan Kakiali.

Kakiali dikenal sebagai tokoh pemimpin perlawanan dari rakyat Hitu dalam Perang Hitu I (1634-1643) melawan VOC.

Setelah Kakiali wafat, perjuangan rakyat Hitu dilanjutkan oleh Telukabesi hingga 1646.

Penyebab perlawanan rakyat Hitu terhadap Belanda adalah monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi yang merajalela dan semakin menyengsarakan rakyat Maluku.

Berikut ini latar belakang rakyat Hitu melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Baca juga: Perlawanan Kakiali terhadap VOC

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Hitu

Belanda masuk ke Maluku pada tahun 1599. Mulanya, kedatangan mereka disambut dengan baik karena pada masa itu musuh rakyat Maluku dan Belanda sama, yaitu Portugis.

Tiga armada Belanda yang datang hingga 1601 masih disambut dengan ramah oleh rakyat dan Kapitan Hitu, karena sikap bermusuhan yang ditunjukkan Belanda terhadap Portugis.

Namun, kedekatan rakyat Hitu dan Belanda hanya berlangsung hingga awal tahun 1630-an.

Pasalnya, tahun 1634 menandai dimulainya perlawanan rakyat Hitu terhadap Belanda.

Perlawanan rakyat disebabkan oleh kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang berupaya melakukan monopoli perdagangan.

Sebenarnya, monopoli VOC telah diupayakan di Maluku Tengah sejak 1605.

Monopoli perdagangan VOC dilakukan dengan memberlakukan kontrak atau perjanjian dengan raja-raja atau sultan-sultan setempat, termasuk dengan Kapitan Hitu.

Baca juga: Alasan Sultan Hasanuddin Dijuluki Ayam Jantan dari Timur oleh Belanda

Berikut ini isi kontrak pertama yang dibuat antara VOC dan Kapitan Hitu.

  • Semua kepala daerah bersumpah untuk membantu Gubernur melawan semua musuh yang mungkin menyerang, baik dari laut maupun darat.
  • Kami bersumpah tidak akan menjual cengkih kepada siapa pun melainkan kepada Belanda, kecuali dengan sepengetahuan terlebih dahulu dari Gubernur.
  • Setiap orang bebas menjalankan agamanya masing-masing tanpa menganiaya atau mengganggu orang lain.
  • Jika Gubernur memanggil, orang-orang Uli Siwa wajib membantu orang-orang Uli Lima, begitu pula sebaliknya.
  • Gubernur berjanji membantu Kapitan Hitu dan semua kepala daerah menghadapi semua musuh mereka.

Kapitan Hitu dan kepala daerah-daerah lainnya juga diwajibkan untuk menandatangani kontrak ini.

Di dalam kontrak telah terindikasi bahwa VOC ingin memonopoli perdagangan rempah di Hitu.

Baca juga: Benteng Pulau Cingkuk, Pelindung Monopoli VOC di Pesisir Minangkabau

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com