Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Laurentius Purbo Christianto
Dosen

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Rendah Hati atau Rendah Diri

Kompas.com - 12/04/2024, 09:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PEMAKAIAN istilah “rendah hati” dan “rendah diri” sering tertukar. Walaupun secara umum banyak dari kita telah memahami perbedaan kedua istilah tersebut, tetapi tidak jarang yang masih berpikir bahwa kedua istilah itu memiliki makna yang sama.

Sepintas kedua kata tersebut terdengar serupa, padahal makna keduanya bertolak belakang.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, “rendah hati” dan “rendah diri” memiliki arti yang berbeda. Kata “rendah diri” memiliki arti merasa dirinya kurang; sedangkan “rendah hati” memiliki arti tidak sombong atau tidak angkuh.

Berdasarkan makna kata tersebut, “rendah diri” memiliki nuansa negatif, sedangkan “rendah hati” memiliki rasa bahasa lebih positif.

Psikologi juga memandang konsep “rendah hati” dan “rendah diri” sebagai dua konstruk konsep psikologis yang berbeda.

Rendah hati” mengarah pada konsep kerendahan hati (humility), sedangkan “rendah diri” merujuk pada konsep penghargaan diri yang rendah (low self-esteem).

Davis, D. M., dan Hook, J. N. (2014) memaknai kerendahan hati sebagai kemampuan individu untuk secara akurat menilai diri sendiri, termasuk kelemahan dan kekuatan, tanpa merasa sombong ataupun rendah diri.

Kemampuan ini membuat individu memiliki kesadaran diri yang realistis, bersikap terbuka, mau belajar, memiliki moral yang teguh, sederhana, dan bersedia memberi perhatian kepada orang lain.

Jika memandang kerendahan hati sebagai sikap, maka rendah hati adalah sikap menyadari diri sendiri secara realistis, tanpa disertai rasa angkuh ataupun kecil hati.

Individu yang rendah hati bisa jadi menyadari bahwa dirinya memiliki kelebihan dibanding orang lain, tetapi kesadaran itu tidak membuat mereka besar kepala dan menyombongkan diri.

Individu yang rendah hati bisa jadi menyadari bahwa banyak individu lain yang lebih hebat daripada dirinya, tetapi kesadaran itu tidak membuat diri mereka rendah diri dan berkecil hati.

Pribadi yang rendah hati tidak saja menjadi tidak "besar" karena kelebihannya, tetapi juga tidak menjadi "kecil" karena kekurangannya.

Berbeda dari “kerendahan hati”, “harga diri yang rendah” atau “rendah diri” memiliki makna negatif. Konsep ini berakar dari konsep “penghargaan diri” (self-esteem).

Menurut Rosenberg (1965), penghargaan diri adalah perasan positif atau negatif tentang diri sendiri; dimana perasaan ini muncul akibat penilaian subjektif atas penampilan fisik, kemampuan yang dimiliki, prestasi, relasi sosial, dan nilai-nilai yang dianut.

Merujuk pada konsep “penghargaan diri”, maka “harga diri yang rendah” adalah penilaian negatif individu atas diri mereka sendiri.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com