Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bantuan Aceh Saat Agresi Militer Belanda II

Kompas.com - 24/05/2023, 19:00 WIB
Verelladevanka Adryamarthanino ,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

Sumber Kemdikbud

KOMPAS.com - Agresi Militer Belanda II adalah serangan yang dilakukan Belanda dalam rangka menanamkan kembali kekuasaannya di Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 1945.

Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada Desember 1948, merupakan serangan lanjutan dari Agresi Militer Belanda I yang berlangsung antara 21 Juli-5 Agustus 1947.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, Belanda berhasil mengambil alih Kota Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Indonesia.

Di tengah situasi genting tersebut, Aceh menjadi salah satu daerah yang memberikan bantuan agar kemerdekaan Indonesia dapat dipertahankan.

Lantas, apa bantuan Aceh saat Agresi Militer Belanda II?

Baca juga: Penyebab Terjadinya Agresi Militer Belanda II

Menyumbang dana

Bantuan Aceh saat Agresi Militer Belanda II terjadi adalah menyumbang dana yang kemudian digunakan untuk membeli pesawat terbang.

Pesawat terbang yang dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh itu dimanfaatkan untuk mengangkut obat-obatan dari India yang dibawa ke Kota Yogyakarta, mengingat banyak tentara Indonesia yang mengalami luka akibat agresi Belanda.

Disebutkan bahwa rakyat Aceh dengan suka rela menyumbangkan uang dan emas hingga terkumpul dana senilai 120.000 dollar Malaya saat itu atau setara 20 kilogram emas.

Dana tersebut didapat dari sumbangan rakyat Aceh, terutama dari Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) juga rakyat kecil.

Pesawat yang dibeli dari Singapura itu diberi nama Seulawah RI-001, yang artinya gunung emas.

Gunung Emas sendiri adalah salah satu gunung yang terkenal di Aceh.

Baca juga: Kronologi Agresi Militer Belanda II

Selain mengumpulkan dana untuk membeli pesawat terbang, rakyat Aceh juga menyumbangkan beberapa senjata, makanan, dan pakaian kepada pemerintah Indonesia pada masa Agresi Militer Belanda II.

Membangun pemancar radio

Salah satu modal perjuangan bangsa Indonesia pada masa perang kemerdekaan adalah alat komunikasi, yaitu berupa radio.

Sejak 1946, daerah Aceh sudah memiliki sebuah pemancar radio yang berada di Kutaraja.

Setahun kemudian, Aceh kembali membangun pemancar radio di Aceh Tengah dengan nama Radio Rimba Raya.

Kedua pemancar ini berperan besar pada masa perang kemerdekaan, di mana komunikasi tetap berjalan lancar dan pihak Indonesia masih bisa berkomunikasi dengan dunia luar selama Agresi Militer Belanda II berlangsung.

Baca juga: Jenderal Simon Spoor, Pemimpin Agresi Militer Belanda

Selain itu, dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II, para pemimpin Aceh disebut-sebut telah mempersiapkan enam rencana jitu, yaitu:

  • Mempersiapkan kekuatan senjata untuk perang gerilya
  • Mempersiapkan tambahan senjata dari luar negeri
  • Mempersiapkan aparat yang sudah mengenal tempat-tempat vital, seperti lapangan udara, pemancar radio, dan sebagainya
  • Mempersiapkan dana yang diperlukan untuk biaya pertahanan Aceh
  • Mempersiapkan logistik dan menentukan lokasi jika terjadi perang gerilya
  • Mempersiapkan lokasi baru bagi pasukan untuk berjaga-jaga kemungkinan Aceh direbut oleh Belanda

Rencana-rencana tersebut berhasil menghadapi Agresi Militer Belanda II, dibuktikan dengan tidak dikuasainya Aceh oleh Belanda.

 

Referensi:

  • Duari, I Putu Hardani Hesti. (2018). Tiket Penerbangan Domestik. Yogyakarta: Deepublish.
  • Muttaqin, Habibi. (2019). Peran Radio Rimba Raya dalam Mempertahankan NKRI 1945-1949. Jawa Timur: Uwais Inspirasi Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com