Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apakah Hajar Aswad Pernah Dicuri?

Kompas.com - 08/07/2022, 10:00 WIB
Verelladevanka Adryamarthanino ,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hajar Aswad adalah sebuah batu berwarna kehitaman yang sangat dimuliakan umat Islam.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa batu ini berasal dari surga, yang ditemukan oleh Nabi Ismail dan diletakkan pertama kali oleh Nabi Ibrahim.

Batu Hajar Aswad terletak di salah satu sudut Kabah di Masjidil Haram, Mekkah. Banyak jemaah yang saat berkunjung ke sana berusaha untuk mencium batu ini.

Saking istimewanya, ternyata ada pihak yang pernah mencuri Hajar Aswad.

Lantas, bagaimana kisah pencurian Hajar Aswad dan siapa pelakunya?

Baca juga: Sejarah Ibadah Haji

Asal-usul Hajar Aswad

Berdasarkan riwayat sejarah, Nabi Ibrahim pernah diperintahkan oleh Allah untuk mendirikan Kabah, yaitu tempat ibadah pertama yang dibangun di dunia.

Saat pembangunan Kabah hampir selesai, masih ada satu tempat kosong untuk menutupi temboknya.

Nabi Ibrahim berkata kepada putranya, Nabi Ismail, untuk mencari batu agar ruang kosong itu bisa segera ditutup.

Nabi Ismail pun pergi ke salah satu bukit untuk mencari batu yang paling baik.

Di tengah pencarian, Nabi Ismail didatangi oleh Malaikat Jibril, yang memberinya sebuah batu (Hajar Aswad) yang paling bagus.

Nabi Ismail menerima batu tersebut dengan senang hati dan segera memberikannya kepada sang ayah.

Nabi Ibrahim menerima batu itu dengan perasaan gembira dan terus menciumnya selama beberapa kali.

Baca juga: Sejarah Hari Raya Idul Adha

Pada awalnya, Hajar Aswad berwarna putih. Warnanya berubah kehitaman setelah banyak disentuh manusia yang meminta pengampunan dari Allah.

Konon, warna kehitaman itu mencerminkan dosa manusia. Selain berubah warna, Hajar Aswad juga pecah menjadi beberapa bagian karena berbagai peristiwa yang dialaminya.

Kini, untuk menjaga kondisi batu Hajar Aswad tetap utuh, dipasanglah sebuah bingkai perak di sekitar batu tersebut.

Menurut beberapa sumber, diameter batu Hajar Aswad berukuran sekitar 30 cm.

Umat Islam meyakini jika berdoa di sekitar Hajar Aswad dan menyentuh batu itu, maka doanya akan dikabulkan dan setiap dosa akan diampuni.

Oleh sebab itu, banyak orang yang saat datang ke Kabah ingin mencium batu ini. Mereka harus memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran bingkai berwarna perak mengkilat yang mengelilingi Hajar Aswad.

Baca juga: Syekh Junaid Al-Batawi, Imam Indonesia Pertama di Masjidil Haram

Hajar Aswad sempat dicuri

Sebagai batu suci yang dimuliakan umat Islam, Hajar Aswad ternyata pernah dicuri oleh kaum Qaramitah atau Qarmatians pada tahun 930 di bawah pimpinan Abu Tahir Al Qarmuthi.

Qaramitah atau Qarmatians adalah salah satu kelompok Muslim Syiah di Arab Timur saat ini.

Berdasarkan catatan, pencurian itu disertai dengan pembantaian 30.000 jemaah haji yang sedang berada di Masjidil Haram.

Setelah dicuri, Hajar Aswad dibawa oleh Abu Tahir ke masjid miliknya, Masjid Al-Dirar di Bahrain.

Penyebab pencurian itu adalah, Abu Tahir ingin mengalihkan ibadah haji dari Mekkah ke masjidnya.

Namun, harapan itu tidak pernah terwujud dan ibadah haji terus berlangsung di Masjidil Haram, Mekkah, meski tanpa kehadiran Hajar Aswad.

Hajar Aswad hilang dari Kabah selama sekitar 23 tahun, sebelum akhirnya dikembalikan pada tahun 953.

Baca juga: Kisah Isra Miraj Nabi Muhammad

Menurut sejarawan, kelompok Qaramitah sempat meminta tebusan kepada Bani Abbasiyah apabila Hajar Aswad ingin dikembalikan.

Pengembalian batu ini pun dilakukan dengan cara dilempar, sehingga Hajar Aswad pecah menjadi tujuh bagian.

Setelah peristiwa pencurian itu, Hajar Aswad sempat akan dihancurkan oleh seseorang yang diduga dikirim oleh Khalifah Fatimiyah, Al-Hakim, pada abad ke-11.

Upaya perusakan itu berhasil digagalkan oleh penjaga Hajar Aswad, setelah pelakunya dibunuh di tempat.

 

Referensi:

  • El-Fikri, Syahruddin. (2014). Sejarah Ibadah. Jakarta: Republika Penerbit.
  • El-Fikri, Syahruddin. (2010). Situs-situs Dalam Al Qur'an Dari Peperangan Daud Melawan Jalut Hingga Gua Ashabul Kahfi. Jakarta: Republika Penerbit.
  • Putra, Jaka Perdana. (2018). 99 Fakta Unik dan Ajaib Dalam Islam. Yogyakarta: Diva Press.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com