Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang Enam Hari: Latar Belakang, Kronologi, Pemenang, dan Dampak

Kompas.com - 06/06/2022, 13:00 WIB
Verelladevanka Adryamarthanino ,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

Sumber History

KOMPAS.com - Perang Enam Hari adalah perang yang terjadi pada 5-10 Juni 1967 antara Israel dengan tiga negara Arab.

Tiga negara Arab yang terlibat dalam Perang Enam Hari adalah Mesir, Yordania, dan Suriah.

Perang singkat yang memakan banyak nyawa ini terjadi akibat gesekan diplomatik dan pertempuran kecil antara Israel dan negara tetangganya selama bertahun-tahun.

Perang Enam Hari berakhir setelah ditengahi oleh PBB dengan kemenangan pihak Israel.

Kemenangan Israel dalam perang secara signifikan mengubah peta politik Timur Tengah dan menimbulkan gesekan geopolitik yang berkepanjangan.

Baca juga: Dampak Fenomena Arab Spring

Latar belakang

Perang Enam Hari terjadi setelah beberapa dekade terjadi ketegangan politik dan militer antara Israel dan negara-negara Arab.

Pada 1948, terjadi Perang Israel-Arab I akibat perselisihan seputar pendirian Israel.

Konflik besar kembali terjadi pada 1956, dalam peristiwa yang disebut Krisis Suez, ketika Israel, Inggris, dan Perancis melancarkan serangan terhadap Mesir sebagai tanggapan atas nasionalisasi Terusan Suez oleh Presiden Gamal Abdel Nasser.

Selepas Krisis Suez, Mesir menyetujui penempatan Pasukan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNEF di Semenanjung Sinai agar memastikan semua pihak yang bertarung bisa menepati Kesepakatan Gencatan Senjata 1949.

Akan tetapi, para pemimpin Arab masih merasa sangat dirugikan atas kemenangan Israel pada 1948.

Di saat yang sama, orang Israel juga terus merasa terancam oleh Mesir dan negara-negara Arab lainnya.

Pada pertengahan 1960-an, para gerilyawan Palestina yang didukung oleh Suriah mulai melancarkan serangan melewati perbatasan Israel, yang dibalas oleh Pasukan Pertahanan Israel.

Baca juga: Kenapa Jalur Gaza Diperebutkan Israel dan Palestina?

Pada April 1967, pertempuran kian memburuk setelah Israel dan Suriah terlibat pertarungan sengit di udara dan artileri, di mana sebanyak enam jet tempur Suriah berhasil dihancurkan.

Tidak lama kemudian, Uni Soviet memberi informasi kepada Mesir bahwa Israel tengah memindahkan pasukan mereka ke perbatasan utara dengan Suriah.

Meski informasi itu tidak bisa dipastikan kebenarannya, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser tetap bertindak.

Guna menunjukkan dukungannya kepada Suriah, Nasser memerintahkan pasukan Mesir maju ke Semenanjung Sinai, di mana mereka mengusir pasukan perdamaian PBB yang sudah menjaga perbatasan dengan Israel selama lebih dari satu dekade.

Pada hari-hari berikutnya, Nasser terus mengibarkan bendera perang dengan terus mengganggu roda kehidupan Israel dan menandatangani perjanjian dengan Raja Hussein dari Yordania.

Baca juga: Arthur James Balfour, PM Inggris Penyebab Konflik Israel-Palestina

Jalannya peperangan

Ketika situasi di Timur Tengah mulai memburuk, Presiden Amerika Lyndon B. Johnson memperingatkan agar kedua belah pihak tidak melepaskan tembakan.

Namun, peringatan ini tidak dihiraukan, dan pada awal Juni 1967, para pemimpin Israel telah memutuskan untuk lebih dulu melancarkan serangan terhadap negara-negara Arab.

Pada 5 Juni 1967, Pasukan Pertahanan Israel mulai melancarkan serangan udara yang melumpuhkan angkatan udara Mesir dan sekutunya.

Pagi itu, sebanyak 200 pesawat dikirim dari Israel, yang tidak hanya mengejutkan banyak pihak, tetapi menyerang 18 lapangan udara Mesir.

Sekitar 90 persen angkatan udara Mesir yang ada di darat saat itu hancur akibat serangan tersebut.

Setelah itu, Israel terus memperluas jangkauan serangannya dan memusnahkan angkatan udara Yordania, Suriah, dan Irak.

Pada 5 Juni malam, Israel telah memegang kendali penuh atas langit Timur Tengah.

Baca juga: Konflik Timur Tengah: Perang Irak dan Iran

Selain itu, peperangan juga terjadi di darat, di mana tank dan infanteri Israel menyerbu melintasi perbatasan dan masuk ke Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza.

Pasukan Mesir berusaha memberikan perlawanan, tetapi kalang kabut dikejar oleh tentara Israel hingga jatuh banyak korban jiwa.

Masih di hari yang sama, Yordania menembaki pasukan Israel di Yerusalem, tetapi segera dimentahkan.

Pada 7 Juni 1967, pasukan Israel telah merebut Kota Tua Yerusalem. Hal ini disusul dengan serangan bom oleh Israel pada 9 Juni.

Israel kemudian maju ke wilayah yang dijaga ketat di Suriah, yaitu Dataran Tinggi Golan.

Selama satu hari penuh Israel mengerahkan tenaganya melawan pasukan Suriah dan berhasil merebut Golan pada 10 Juni.

Pada 10 Juni 1967, Perang Enam Hari berakhir dengan tiba-tiba setelah PBB mengajukan gencatan senjata.

Peristiwa itu menandai akhir Perang Enam Hari dengan kemenangan pihak Israel.

Baca juga: Perang Seratus Tahun: Latar Belakang, Kronologi, dan Dampak

Dampak Perang Enam Hari

Kemenangan Israel menuntut nyawa sebanyak 20.000 orang Arab dan 800 orang Israel dalam 132 jam pertempuran.

Perang Enam Hari juga memiliki konsekuensi geopolitik yang penting di Timur Tengah.

Kemenangan Israel membuatnya semakin terpandang di mata dunia internasional, sekaligus mempermalukan Mesir, Yordania, dan Suriah.

Setelah negara-negara Arab kalah perang lawan Israel, Nasser bahkan sempat mundur dari posisi Presiden Mesir, sebelum akhirnya kembali menjabat setelah terjadi demonstrasi besar-besaran oleh para pendukungnya.

Di sisi lain, Israel menikmati kemenangannya dengan merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza, tepi Barat dan Yerusalem Timur (Yordania), dan Dataran Tinggi Golan (Suriah), hanya dalam waktu enam hari.

Baca juga: Deklarasi Balfour, Awal Pendudukan Zionis di Palestina

Terluka akibat kekalahan dalam Perang Enam Hari, para pemimpin Arab bertemu di Sudan pada Agustus 1967 untuk menandatangani sebuah resolusi yang menjanjikan “tidak ada perdamaian, tidak ada pengakuan dan tidak ada negosiasi” dengan Israel.

Dipimpin oleh Mesir dan Suriah, negara-negara Arab kemudian meluncurkan konflik besar keempat dengan Israel selama Perang Yom Kippur pada 1973.

Sejak 1967, tanah yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari terus menjadi batu sandungan dalam negosiasi perdamaian Arab-Israel.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber History
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com