Candi Ijo: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks Bangunan

Kompas.com - 06/01/2022, 13:01 WIB

KOMPAS.com - Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 sampai dengan ke-10.

Letak candi ini berada di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini berada di lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko.

Berdasarkan penelusuran sejarah, diperkirakan Candi Ijo dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi.

Baca juga: Candi Arjuna: Sejarah dan Fungsinya

Sejarah Candi Ijo

Penamaan Candi Ijo bukan diambil dari warnanya yang hijau, tetapi karena berada di perbukitan Gumuk Ijo, Kabupaten Sleman. 

Nama tersebut dikukuhkan pada Prasasti Poh yang bertahun 906. Candi ini dibangun pada era Kerajaan Mataram Kuno pada sekitar pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-10.

Dilihat dari tahun pembangunannya, diperkirakan yang berkuasa saat itu adalah Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi.

Pada saat pembangunannya, konon menggunakan bebatuan yang diambil dari berbagai tempat, salah satunya dari Gunung Merapi.

Hal itu membuat struktur Candi Ijo kokoh dan bertahan beberapa abad, bahkan hingga saat ini.

Adapun dalam penentuan lokasi pembangunan Candi Ijo memiliki aturan dan syarat yang tertulis dalam kitab kuno.

Salah satu syaratnya adalah lokasi pembangunan harus dekat dengan sumber air dan di atas tanah yang subur.

Baca juga: Candi Gedong Songo: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks Bangunan

Candi Ijo pertama kali ditemukan oleh H.E. Dorrepaal pada 1886. Setelah itu, penelitian dilakukan oleh C.A. Rosemeir dan H.L. Heidjie Melville.

Sedangkan penelitian terhadap Candi Ijo baru dilakukan oleh Dinas Purbakala mulai 1958. Setelah itu, dilakukan pemugaran candi induk yang selesai pada 1997.

Pemugaran beberapa struktur di kompleks Candi Ijo terus berlanjut sampai sekarang.

Fungsi Candi Ijo

Candi Ijo dibangun sebagai tempat untuk pemujaan para dewa bagi umat Hindu. Hal ini dapat dilihat dari pembangunan candi yang tidak boleh di sembarang tempat, biasanya memiliki tujuan tersendiri.

Seperti pada candi-candi lainnya, pembangunan Candi Ijo yang berada di atas bukit bertujuan untuk mendekatkan diri ke Kahyangan.

Kahyangan dipercaya umat Hindu sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

Selain itu, pemilihan lokasi di atas bukit bertujuan supaya setiap doa yang dipanjatkan cepat dikabulkan oleh dewa.

Baca juga: Candi Sumberjati: Sejarah Berdirinya, Letak, dan Fungsi

Kompleks bangunan

Struktur Candi Ijo berupa lahan berteras-teras yang dikelilingi tebing yang terdiri dari 17 bangunan candi yang tersebar pada 11 teras.

Candi induk

Teras paling atas merupakan teras suci, yang terdapat candi induk dengan ukuran 18,43 x 18,45 meter, dan tinggi 16 meter.

Di dalamnya terdapat lingga-yoni, yang berupa benda silinder atau bentuk lain yang ditegakkan menancap pada benda berbentuk empat persegi panjang.

Lingga-yoni itu melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati.

Dinding luar candi terdapat relung yang berisi arca Agastya, arca Ganesa, dan arca Durga.

Candi perwara

Di depan candi induk ada tiga candi perwara yang menghadap ke timur. Di dalam bilik candi perwara selatan yang berukuran 5, 19 x 5, 17 meter, dengan tinggi 6,62 meter, terdapat yoni dan patmasana (meja batu).

Sedangkan candi perwara tengah memiliki ukuran 6,3 x 5,15 meter, dan tinggi 6,5 meter, yang di dalam biliknya terdapat arca Nandi dan Padmasana.

Baca juga: Candi Muara Takus: Sejarah, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Candi induk dan candi perwara di Kompleks Candi Ijo.Wikimedia Commons Candi induk dan candi perwara di Kompleks Candi Ijo.

Candi perwara utara berdimensi 5,11 x 5, 11 meter, dengan tinggi 6,3 meter yang di dalamnya biliknya terdapat sumuran.

Selain candi induk dan candi perwara, berikut ini bangunan-bangunan dalam kompleks Candi Ijo yang terletak pada masing-masing teras.

  • Teras kesepuluh, tidak ditemukan adanya bangunan
  • Teras kesembilan, terdapat sisa-sisa batur bangunan yang menghadap ke timur
  • Teras kedelapan, terdapat tiga buah candi, empat buah batur bangunan, dan dua buah prasasti batu
  • Teras ketujuh, tidak ditemukan adanya bangunan
  • Teras keenam, tidak ditemukan adanya bangunan
  • Teras kelima, terdapat satu buah candi dan dua buah batur
  • Teras keempat, terdapat satu buah candi
  • Teras ketiga, tidak ditemukan adanya bangunan
  • Teras kedua, tidak ditemukan adanya bangunan
  • Teras pertama, terdapat satu buah candi

 

Referensi:

  • Lestari, Garsinia. (2016). Mengenal Lebih Dekat: Candi Nusantara. Jakarta: Pacu Minat Baca.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.