Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tokoh-tokoh Pembaharu Islam di Mesir

Kompas.com - 29/12/2021, 08:00 WIB
Verelladevanka Adryamarthanino ,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Setelah Revolusi Prancis pada 1789, negara itu mulai mengalami kemajuan pesat hingga menjadi saingan berat bagi Inggris.

Seiring perkembangannya, kedua negara tersebut kerap terlibat konflik. Sampai pada akhir abad ke-18, Inggris berusaha untuk mengembangkan kepentingan-kepentingannya di India, pasca-mundurnya Dinasti Mughal.

Prancis yang berada di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte kemudian berusaha memutus komunikasi antara Inggris dan India dengan menguasai Mesir.

Masih di tahun yang sama, Napoleon berhasil menguasai Mesir, yang membuat para umat Islam merasa terjajah oleh bangsa Barat.

Oleh sebab itu, mulai muncul tokoh-tokoh yang melakukan pembaharuan Islam di Mesir.

Lalu, siapa saja tokoh-tokoh pembaharuan Islam di Mesir?

Baca juga: Karya dan Pemikiran Ibnu Khaldun

Muhammad Ali Pasha

Muhammad Ali Pasha merupakan salah satu tokoh yang gencar menyuarakan pembaharuan islam di Mesir yang lahir dari keluarga sederhana.

Kendati demikian, ia mampu membangun karier sebagai pemungut pajak, kemudian masuk ke dinas kemiliteran dan menjadi perwira.

Sewaktu Napoleon Bonaparte menyerang Mesir, Muhammad Ali Pasha dikirim untuk memimpin pasukannya melawan Prancis dan mampu menyelesaikan misinya dengan baik.

Setelah berhasil memukul mundur pasukan Prancis, rakyat Mesir mulai menaruh simpati yang besar kepadanya.

Sejak itu, Muhammad Ali Pasha disebut sebagai orang pertama yang membangkitkan modernisasi di Mesir.

Beberapa pembaharuan dari Muhammad Ali Pasha adalah sebagai berikut.

  • Bidang militer dan pendidikan, dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan pertama di Mesir, sekolah militer, sekolah teknik, sekolah ketabiban, dan sekolah penerjemahan.
  • Pasha mengirimkan sekitar 300 pelajar ke Eropa, terutama Paris, untuk menempuh pendidikan.

Baca juga: Peradaban Mesir Kuno: Periodisasi dan Sistem Pemerintahan

Rifa'ah Badawi at-Tahtawi

Rifa'ah Badawi at-Tahtawi lahir pada 1801. Ia pernah sekolah di Prancis selama lima tahun dan diketahui menerjemahkan 12 buku dan risalah.

Begitu kembali ke Mesir, ia diangkat sebagai guru bahasa Prancis dan penerjemah di sebuah sekolah kedokteran.

Kiprah Rifa'ah dalam dunia pendidikan pun terus berlanjut sampai tahun 1836, ketika ia mendirikan Sekolah Penerjemahan.

Rifa'ah juga sempat menjabat sebagai pemimpin surat kabar Al-Waqa'i al-Mishriyah, di mana ia banyak membagikan berita-berita dan juga pengetahuan tentang kemajuan Barat.

Beberapa pemikiran dari Rifa'ah terkait pembaharuannya di Mesir adalah:

  • Para pemimpin harus melakukan musyawarah bersama para ulama, kaum terpelajar, dokter, dan ekonom.
  • Syari'ah harus disesuaikan dengan perkembangan modern.
  • Para ulama wajib belajar falsafat dan ilmu pengetahuan modern supaya sesuai dengan syariat dan kebutuhan zaman.
  • Pendidikan bersifat universal bagi semua golongan.
  • Umat Islam wajib bersifat dinamis dan tidak statis.

Baca juga: Umar bin Khattab, Sahabat yang Pernah Berniat Membunuh Rasulullah

Jamaluddin al-Afghani

Jamaludin Al-Afghani adalah tokoh pembaharu dari negara Afghanistan yang juga membagikan pemikirannya di Mesir.

Sewaktu berusia 22 tahun, ia dipekerjakan sebagai pembantu dari Pangeran Dos Muhammad Khan di Afghanistan.

Setelah tidak lagi bekerja untuk Pangeran Dos, Jamaluddin diangkat sebagai penasihat Sher Ali Khan, Amir Afghanistan, pada 1864.

Beberapa tahun setelahnya, ia diangkat menjadi Perdana Menteri, yang segera dihadapkan dalam suatu kondisi di mana Inggris mendesak dan mencampuri urusan politik Afghanistan.

Jamaluddin pun pergi ke India dan mengenal tentang pendidikan modern di sana.

Ketika India jatuh ke tangan Inggris, Jamaluddin memutuskan pergi ke Mesir pada 1871.

Baca juga: Umar bin Abdul Aziz, Sang Khulafaur Rasyidin Kelima

Jamaluddin al-AfghaniWikipedia Jamaluddin al-Afghani

Selama tinggal di Mesir, beberapa pembaharuan yang ia buat yaitu:

  • Menentang pemerintah Mesir yang dicampuri oleh Inggris
  • Bergabung dengan politikus Mesir dan membentuk Hizb Al-Wathani (Partai Kebangsaan)

Muhammad Abduh

Tokoh pembaharu Islam di Mesir yang bernama lengkap Muhammad Abduh Ibn Hasan Khairullah lahir di Gharbiyyah, Mesir, pada 1625 H.

Sewaktu muda, ia mengenyam pendidikan di Al-Azhar Mesir. Pada masa inilah, mulai muncul pemikiran-pemikiran baru darinya mengenai Islam, terutama karena kondisi sosial dan pemahaman keagamaan umat Islam di Mesir kala itu.

Kondisi yang dimaksud adalah terjadinya pemikiran yang statis dan jumus, serta sistem pendidikan yang bersifat dualistik.

Baca juga: Ambo Dalle, Mahaguru Islam dari Tanah Bugis

Masalah-masalah itu muncul karena kurangnya pengetahuan umat Muslim pada saat itu mengenai ajaran Islam yang sesungguhnya.

Untuk itu, Muhammad Abduh melakukan beberapa pembaharuan, seperti:

  • Mendirikan majalah Ar-Urwatul Wusqa bersama rekannya Jamaluddin al-Afghani
  • Mengajak umat Islam untuk kembali pada ajaran Islam sejati
  • Ajaran kemasyarakatan dalam Islam disesuaikan dengan zaman
  • Menghapus taklid dan menumbuhkan ijtihad (sumber hukum setelah Alquran dan hadis)
  • Menghendaki akal dan waktu

Rasyid Ridha

Rasyid RidhaWikipedia Rasyid Ridha

Syekh Rasyid Ridha merupakan ulama yang masih keturunan Rasulullah SAW, sehingga dijadikan sebagai suri tauladan soal ibadah.

Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan dalam memaklumi berbagai pandangan. Kelebihannya tersebut membuat Ridha terbawa pada pemikiran-pemikiran Islam yang lebih maju.

Rasyid Ridha memulai menjalankan ide-ide pembaharuannya saat berada di Suriah. Sayangnya, pemikirannya mendapat tentangan dari Kesultanan Utsmaniyah.

Baca juga: Osman Ghazi, Pendiri Kesultanan Utsmaniyah

Oleh sebab itu, Ridha memutuskan pindah ke Mesir dan memberlakukan pembaharuannya di sana.

Adapun pembaharuan yang dilakukan Rasyid Ridha adalah:

  • Harus kembali pada Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk mengenal lebih dalam tentang Islam
  • Ajaran Islam itu dinamis
  • Peradaban barat tidak bertentangan dengan Islam
  • Pembaharuan juga memasuki fikih

Ali Mubarak

Ali Mubarak dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam yang meletakkan Laihah Rajab atau rencana pendidikan bagi bangsa Mesir.

Laihah Rajab berdasar pada kerakyatan dengan tujuan pengembangan lembaga pendidikan, penelitian lembaga pendidikan di daerah, serta penerbitan administrasi.

Baca juga: 10 Tokoh Ilmuwan Muslim dan Keahliannya

Sejak Laihah Rajab dijalankan, lembaga-lembaga pendidikan di Mesir berkembang pesat.

Bahkan, Laihah Rajab diakui oleh pemerintah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Thaha Husain

Thaha Husain menganggap bahwa perguruan tinggi merupakan salah satu sarana terbaik untuk bisa menghasilkan ilmuwan dan tenaga ahli yang berkinerja baik.

Bagi Husain, universitas dapat mencerminkan kecerdasan dan keilmiahan. Guna mewujudkan hal itu, ia menegaskan bahwa sistem pendidikan Mesir harus didasarkan pada sistem dan metode Barat, baik dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

Berkat gagasan Husain, ilmu pengetahuan di Mesir berkembang dengan pesat, karena mampu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam bidang pendidikan.

 

Referensi: 

  • Fauzi, Muhammad. (2017). Tokoh-Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam di Mesir. Jurnal Tarbiyah. Vol 24. No 2. Juli-Desember 2017. 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com