Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

De-Soekarnoisasi, Upaya Soeharto Melemahkan Pengaruh Soekarno

Kompas.com - 04/11/2021, 11:00 WIB
Lukman Hadi Subroto,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - De-Soekarnoisasi adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto untuk melemahkan pengaruh Soekarno dari rakyat Indonesia.

Upaya ini dilakukan untuk melupakan peran Soekarno dari ingatan dan sejarah Indonesia. Kebijakan ini dilakukan pemerintah Orde Baru pasca lengsernya Soekarno dari kursi presiden Indonesia pada tahun 1966.

Selain melemahkan pengaruh Soekarno dari sejarah, upaya De-Soekarnoisasi juga dilakukan pada orang-terdekat dan loyalis dari Soekarno.

Pembersihan orang terdekat Soekarno berasal dari kalangan sipil maupun militer yang dianggap loyal kepada Soekarno.

Baca juga: Mengenang Presiden Soekarno dan Warisan Pemikirannya...

Mengapa Soeharto ingin menghapus Soekarno?

Pemerintah Orde Baru melakukan De-Soekarnoisasi untuk melegitimasi kekuasaan Soeharto sebagai presiden yang menggantikan Soekarno.

Meski melakukan De-Soekarnoisasi, Pemerintah Orde Baru juga mengakui bahwa Soekarno memiliki peran yang besar dalam sejarah Indonesia.

Ada alasan Pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto ingin memutus pengaruh Soekarno.

Soeharto yang orang Jawa memegang falsafah hidup "mikul dhuwur mendhem jero". 

Falsafah itu memiliki arti bahwa anak harus melestarikan kebaikan dan kehormatan orangtua. Sebagai anak juga harus mampu mengubur dalam segala keburukan orangtuanya.

Hal inilah menjadi dasar dari Soeharto melakukan kebijakan memutus pengaruh Soekarno dari sejarah Indonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah Orde Baru menunjukkan komitmennya. Salah satunya adalah dengan membangun Tugu Proklamator sebagai simbol bahwa Soekarno adalah proklamator kemerdekaan Indonesia. 

Walaupun di sisi lain, Soeharto menghapus jejak, pengaruh, dan pemikiran Soekarno.

Langkah De-Soekarnoisasi

Tahanan rumah

Setelah Soeharto mengambil alih kekuasaan, ia langsung membunuh pengaruh Soekarno dan menjauhkannya dari rakyat dengan cara menjadikan Soekarno sebagai tahanan rumah.

Padahal saat itu, masih banyak rakyat yang mencintai Soekarno.

Pada 1967, Soekarno dijadikan tahanan rumah di Wisma Yaso yang merupakan rumah salah satu istrinya. Setelah Soekarno meninggal di Wisma Yaso, rumah itu dijadikan Museum Satria Mandala.

Hal yang paling menyedihkan adalah wasiat Soekarno yang ingin dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Permintaan ini tidak dipenuhi oleh pemerintah Orde Baru.

Pemerintah Orde Baru malah memakamkan Soekarno di Blitar, tempat tinggal kedua orangtua dan kakaknya, Ibu Wardojo.

Baca juga: Bukan di Blitar, Presiden Soekarno Lahir di Jalan Peneleh Surabaya

Usaha lain untuk membunuh pengaruh Soekarno adalah dengan tidak mengizinkan Soekarno menghadiri pernikahan anaknya, Guntur Soekarnoputra.

Soekarno sampai menyuruh Mohammad Hatta sebagai wakil pada pernikahan Guntur.

Mengganti nama pemberian Soekarno

Langkah lain yang dilakukan Orde Baru yakni dengan mengganti nama-nama yang diberikan Soekarno pada suatu tempat dan bangunan.

Contohnya, Stadion Gelora Bung Karno sempat diubah menjadi Stadion Utama Senayan pada masa Orde Baru.

Kemudian nama Kota Soekarnoputra diganti menjadi Jayapura.

Begitu pula Puncak Soekarno, menjadi Puncak Jaya.

Dijauhkan dari Pancasila

Di era Orde Baru, Soeharto tetap menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, peran Soekarno dalam perumusan Pancasila dikurangi.

Nugroho Notosusanto, sejarawan resmi Orde Baru yang dekat dengan militer, mengajukan pendapat bahwa yang mencetuskan pancasila adalah Mohammad Yamin, bukan Soekarno.

Tanggal kelahiran Pancasila juga diubah oleh pemerintah Orde Baru.

Pancasila versi pemerintah Orde Baru ini ditanamkan melalui program Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4).

 

Referensi:

  • Zara, Yuanda. 2008. Ratna Sari Dewi Sukarno, Sakura di Tengah Prahara. Yogyakarta: Ombak
  • Sudibyo, Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LKIS
 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com