Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aji Saka dan Cerita Bangkitnya Peradaban Jawa

Kompas.com - 02/11/2021, 13:00 WIB
Widya Lestari Ningsih,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bangkitnya peradaban di Pulau Jawa kerap dikaitkan dengan kisah legenda Aji Saka.

Konon, legenda tersebut menceritakan tentang kisah Aji Saka, sosok yang membuat aksara Jawa dan pencipta tarikh Tahun Saka.

Lantas, dari mana asal Aji Saka dan bagaimana kisahnya hingga disebut sebagai tokoh yang membangkitkan peradaban di Jawa?

Asal-usul Aji Saka

Legenda menyebut bahwa Aji Saka berasal dari negeri antah-berantah bernama Bumi Majeti.

Akan tetapi, ada pula yang menafsirkan bahwa Aji Saka adalah keturunan suku Shaka dari India. Hal ini dapat dimengerti karena memang terdapat beberapa versi terkait asal-usul ataupun kisah Aji Saka.

Aji Saka digambarkan sebagai pemuda sakti yang mempunyai keris pusaka, sebuah sorban sakti, dan dua orang abdi setia bernama Dora dan Sembada.

Selain itu, ia adalah pribadi yang suka menolong, termasuk menolong rakyat Jawa dari kekejaman penguasanya.

Legenda Aji Saka mengisahkan tentang kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban dan keteraturan di Tanah Jawa dengan mengalahkan raksasa jahat yang sebelumnya berkuasa di pulau ini.

Selain itu, Aji Saka diceritakan kehilangan abdi setianya akibat sebuah kesalahpahaman, dan dari kisah tragis inilah lahir Hanacaraka.

Baca juga: Ki Ageng Selo, Legenda Penangkap Petir

Aji Saka melawan Dewata Cengkar

Dikisahkan Aji Saka melakukan pengembaraan ke Jawa untuk menyelamatkan rakyat Kerajaan Medang Kamulan dari kekejaman rajanya, Dewata Cengkar, yang gemar memakan daging manusia.

Sebelum pergi ke Medang Kamulan, Aji Saka meninggalkan keris pusakanya di Gunung Kendeng dan meminta Sembada untuk menjaganya.

Ia juga berpesan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengambil pusaka itu kecuali dirinya sendiri.

Setelah itu, Aji Saka membawa Dora untuk menemui Dewata Cengkar dan mengaku bahwa dirinya mau dijadikan santapan.

Akan tetapi, Aji Saka mengajukan satu syarat, yakni meminta sebidang tanah yang sepanjang sorbannya.

Namun, ketika Dewata Cengkar mulai mengukur tanah, sorban itu memanjang terus menerus hingga mencapai pinggir Laut Selatan.

Dengan kecerdasannya, Aji Saka pun mampu menenggelamkan Dewata Cengkar ke Laut Selatan.

Setelah itu, ia dinobatkan sebagai raja Medang Kamulan, sedangkan Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih.

Asal-usul aksara Jawa

Suatu hari, Aji Saka memerintahkan Dora untuk mengambil keris pusaka yang dititipkan kepada Sembada.

Namun, Sembada menolak karena sesuai perintah Aji Saka sebelumnya, tidak ada yang diperbolehkan untuk membawa pusaka itu selain Aji Saka sendiri.

Alhasil, dua abdi Aji Saka saling mencurigai bahwa masing-masing bermaksud untuk mencuri pusaka itu.

Akhirnya, Sembada dan Dora pun bertarung untuk memertahankan tanggung jawabnya hingga tewas.

Baca juga: Asal-usul Nama Kota Dumai dan Legenda Putri Tujuh

Ketika Aji Saka menyusul ke Gunung Kendeng, ia menemukan dua abdinya telah meninggal akibat kesalahpahaman.

Di depan jasad dua abdinya itu, Aji Saka menciptakan puisi yang isinya sebagai berikut.

Hanacaraka, artinya terdapat dua utusan
Datasawala, artinya mereka berbeda pendapat
Padhajayanya, artinya mereka berdua sama kuatnya
Magabathanga, artinya inilah mayat mereka

Puisi yang diciptakan untuk mengenang dua abdi Aji Saka ini kemudian dikenal sebagai Hanacaraka atau aksara Jawa.

Membawa peradaban ke Jawa

Beberapa ahli sepakat bahwa legenda Aji Saka memiliki hubungan dengan penggunaan Kalender Saka.

Di Jawa, Aji Saka menyebarkan perhitungan tarikh yang dinamakan tahun Saka, dimulai sejak kedatangannya, yaitu tahun 1 Saka (78 Masehi).

Selain memperkenalkan tahun Saka, Aji Saka juga menyebarkan pengetahuan membaca dan menulis sebagai dasar pengembangan kebudayaan.

Pendapat ini memberi petunjuk bahwa penggunaan abjad di Jawa sudah dimulai sejak 78 Masehi, meskipun belum ditemukan bukti tertulis yang mendukungnya.

Baca juga: Hanacaraka: Asal-usul, Makna, dan Jenisnya

 

Referensi:

  • Reza, Marina Asril. (2010). 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara. Jakarta: Visi Media.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pengaruh Islam dalam Bidang Seni Tari dan Musik

Pengaruh Islam dalam Bidang Seni Tari dan Musik

Stori
Runtuhnya Kerajaan Yerusalem

Runtuhnya Kerajaan Yerusalem

Stori
Isi Piagam PBB

Isi Piagam PBB

Stori
Romukyokai, Panitia Pengelola Romusha

Romukyokai, Panitia Pengelola Romusha

Stori
Mengapa Imam Hanafi Mendapat Gelar Ahlul Ra'yi?

Mengapa Imam Hanafi Mendapat Gelar Ahlul Ra'yi?

Stori
Sejarah Salam Tempel, Tradisi Bagi Uang Saat Lebaran

Sejarah Salam Tempel, Tradisi Bagi Uang Saat Lebaran

Stori
Upacara Melasti, Ritual Penyucian Diri untuk Menyambut Nyepi

Upacara Melasti, Ritual Penyucian Diri untuk Menyambut Nyepi

Stori
Strategi Perang Parit pada Perang Dunia I

Strategi Perang Parit pada Perang Dunia I

Stori
10 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

10 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Stori
Sejarah Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Sejarah Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Stori
Peran Adolf Hitler dalam Perang Dunia II

Peran Adolf Hitler dalam Perang Dunia II

Stori
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Umat Hindu Bali

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Umat Hindu Bali

Stori
Alasan Perekonomian Mataram Kuno Tidak Bergantung pada Sektor Maritim

Alasan Perekonomian Mataram Kuno Tidak Bergantung pada Sektor Maritim

Stori
Sejarah Marga Purba

Sejarah Marga Purba

Stori
Penyebab Perang Dunia I

Penyebab Perang Dunia I

Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com