Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tragedi Cikini 1957, Upaya Pembunuhan Soekarno

Kompas.com - 27/08/2021, 10:00 WIB
Verelladevanka Adryamarthanino ,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tragedi Cikini adalah percobaan penggranatan untuk membunuh Presiden Soekarno di Jalan Cikini No. 76 Jakarta Pusat. 

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu malam 30 November 1957. 

Upaya pembunuhan ini didalangi oleh Jusuf Ismail, anggota pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). 

Ia bersama rekannya melemparkan enam buah granat ke arah Presiden Soekarno. Lima di antaranya meledak dan menewaskan 10 orang anak sekolah dan mencederai 48 orang.

Beruntungnya, Presiden Soekarno dan kedua anaknya, Guntur dan Megawati selamat dari insiden tersebut.

Baca juga: Armijn Pane: Kiprah dan Karyanya

Latar Belakang

Tragedi pelemparan granat di Perguruan Cikini diduga bukan hanya sebuah aksi teror biasa, melainkan bertujuan untuk menyingkirkan Soekarno dari kursi kepresidenan.

Pada masa kepemimpinan Soekarno, banyak orang yang merasa tidak puas dengan kondisi politik yang terjadi saat itu. 

Akibatnya, tercetus sebuah upaya untuk melakukan pembunuhan terhadap Soekarno.

Salah satu cara yang digunakan adalah dengan melemparkan granat.

Ide ini sendiri tercetus ketika salah satu pelaku tengah melihat mobil Presiden Soekarno di Perguruan Cikini pada 30 November 1957 itu. 

Saat itu, sedang ada perayaan hari jadi Perguruan Cikini yang ke-15. 

Kebetulan, kedua anak Presiden Soekarno, yaitu Guntur dan Megawati juga merupakan murid di sekolah tersebut. 

Kedatangan Soekarno ke Perguruan Cikini tidak hanya sebagai orangtua dari kedua anaknya, melainkan juga atas undangan khusus dari Kepala Perguruan Cikini, Sumadji Muhammad Sulaimani dan Direktur Percetakan Gunung Sari, Johan Sirie. 

Akhirnya, para pelaku memutuskan untuk melemparkan granat kepada Presiden Soekarno untuk membuatnya jatuh dari jabatannya. 

Baca juga: Perang Aceh: Penyebab, Tokoh, Jalannya Pertempuran, dan Akhir

Kronologi

Pada 30 November 1957 sedang diselenggarakan perayaan hari jadi Perguruan Cikini yang ke-15.

Saat itu, acara berjalan dengan sangat meriah. Bahkan, Presiden Soekarno juga turut hadir di sana untuk merayakan.

Kehadiran Soekarno ini disambut dengan antusias oleh para peserta, terutama para murid sekolah.

Usai acara, Presiden Soekarno bergegas untuk segera meninggalkan lokasi.

Di sepanjang jalan dari halaman sekolah, warga sudah bergerombol untuk menantikan presiden lewat.

Namun, tiba-tiba terdengar suara ledakan hebat yang ternyata berasal dari lemparan granat yang diarahkan ke halaman sekolah. Ledakan tersebut membuat banyak orang tergeletak. 

Selain itu, mobil yang dikendarai Presiden Soekarno juga hancur di makan lautan api akibat ledakan besar dari granat yang dilemparkan.

Beruntung Soekarno bersama kedua anaknya, Guntur dan Megawati selamat.

Namun 10 anak sekolah tewas dan 48 orang mengalami cedera. Sebagian besar dari mereka mengalami luka parah.

Penangkapan

Pasca-penggranatan tersebut, Presiden Soekarno dengan amarahnya segera memerintahkan pengejaran terhadap para pelaku pelemparan granat.

Ia juga meminta untuk dilakukan penyelidikan terkait dalang di balik peristiwa tersebut.

Akhirnya, hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, para aparat dan intelijen negara berhasil menangkap empat pemuda yang diduga sebagai pelaku aksi teror tersebut.

Mereka adalah Jusuf Ismail, Sa'idon bin Muhammad, Tasrif bin Husein, dan Moh Tasin bin Abubakar. 

Berdasarkan penyelidikan, terungkap bahwa keempat orang ini adalah penghuni Asrama Sumbawa yang juga berlokasi di kawasan Cikini dan anggota dari pemberontak Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/TII).

Selain mereka, rupanya Kolonel Zulkifli Lubis, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat juga dicurigai sebagai otak dari tragedi tersebut.

Baca juga: Mengapa Jepang Melarang Pembacaan Teks Proklamasi?

Persidangan

Untuk mengusut peristiwa ini, digelar persidangan pada 15 Agustus 1958. 

Dalam persidangan, salah satu terdakwa menyebutkan bahwa Zulkifli Lubis adalah dalang utamanya. 

Bahkan, terdakwa juga mengatakan sempat beberapa kali menyusun upaya percobaan untuk membunuh Soekarno. 

Akan tetapi, beberapa kalangan meragukan pengakuan tersebut. 

Zulkifli pribadi juga menolak untuk bertanggung jawab atas tragedi Cikini yang menyasar Soekarno sebagai target pembunuhan.

Pada akhirnya, Jusuf Ismail mengaku bahwa ia yang memelopori pelemparan granat tersebut. Zulkifli pun lolos dari tuduhan. 

Keempat terdakwa pelaku tragedi Cikini diputuskan diberi hukuman mati di hadapan regu tembak pada 28 Mei 1960. 

Baca juga: Operasi Trikora, Upaya Indonesia Merebut Irian Barat

Referensi: 

  • Rucheti, Wati. (2012). Pergolakan Politik pada Masa Kabinet Djuanda (Studi Tentang Peristiwa Cikini 30 November 1957). UNS-F. KIP. Jur. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com