Peristiwa Merah Putih di Manado

Kompas.com - 18/08/2021, 08:00 WIB
Pasukan Inggris mengambil posisi di pantai Sword selama D-Day 06 Juni 1944 setelah pasukan Sekutu menyerbu pantai Normandia. D-Day, 06 Juni 1944 masih merupakan salah satu pertempuran paling memilukan dan konsekuensial di dunia, karena pendaratan Sekutu di Normandia menyebabkan pembebasan Prancis yang menandai titik balik di teater Barat Perang Dunia II. AFP PHOTO/STRPasukan Inggris mengambil posisi di pantai Sword selama D-Day 06 Juni 1944 setelah pasukan Sekutu menyerbu pantai Normandia. D-Day, 06 Juni 1944 masih merupakan salah satu pertempuran paling memilukan dan konsekuensial di dunia, karena pendaratan Sekutu di Normandia menyebabkan pembebasan Prancis yang menandai titik balik di teater Barat Perang Dunia II.

KOMPAS.com - Peristiwa Merah Putih di Manado merupakan peristiwa penyerbuan markas militer Belanda yang terjadi di Teling, Manado, 14 Februari 1946. 

Pertempuran ini melibatkan himpunan rakyat di Sulawesi Utara, meliputi pasukan KNIL atau tentara Hindia Belanda dari kalangan pribumi, barisan pejuang, dan laskar rakyat.

Peristiwa ini adalah bentuk perlawanan rakyat Sulawesi Utara demi mempertahankan kemerdekaannya serta menolak provokasi tentara Belanda. 

Bentuk perlawanan mereka ditunjukkan dengan cara merobek bendera Belanda, yang awalnya berwarna merah, putih, biru, menjadi merah putih.

Bendera tersebut kemudian dikibarkan di atas gedung markas Belanda. 

Baca juga: Tim Mawar, Penculik Para Aktivis 1998

Latar Belakang

Pada 21 Agustus 1945, berita proklamasi kemerdekaan Indonesia baru terdengar oleh rakyat di Sulawesi Utara. 

Begitu mendengar kabar tersebut, mereka segera mengibarkan bendera merah putih di setiap area dan menduduki kantor-kantor yang sebelumnya dikuasai oleh tentara Jepang.

Namun, awal Oktober 1945, tentara Sekutu bersama dengan NICA datang ke Sulawesi Utara.

Kehadiran mereka telah merubah suasana di Sulawesi Utara kembali ricuh. 

Kendati demikian, rakyat Manado enggan untuk melakukan perlawanan. Akibatnya, Manado berhasil diduduki kembali oleh tentara Sekutu dan NICA.

Melihat situasi ini, Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu, pemimpin militer, bersama Sersan SD Wuisan menggerakkan pasukan untuk mengambil alih markas pusat militer Belanda.

Rencana perebutan ini telah disusun sejak 7 Februari 1946, dibantu oleh seorang politisi kalangan sipil, Bernar Wilhelm Lapian. 

Baca juga: Pemogokan di Delanggu: Latar Belakang, Penyebab, dan Penyelesaian

Pengibaran Bendera Merah Putih

Puncak penyerbuan terjadi tanggal 14 Februari. Namun, sebelum itu, para pimpinan pasukan sudah lebih dulu tertangkap oleh tentara Belanda, termasuk C Taulu dan Wuisan. 

Akibatnya, rencana pemberontakan ke tangsi militer Belanda dipindahtugaskan kepada Komando Mambi Runtukahu, pemimpin anggota KNIL dari orang Minahasa.

Bersama dengan rakyat Manado lainnya, mereka berhasil membebaskan C Taulu dan Wuisan serta beberapa pemimpin lain yang tengah ditawan. 

Usai semua bebas, pertempuran kembali berlanjut. 

Puncak penyerbuan dalam peristiwa ini ditandai dengan perobekan bendera Belanda yang awalnya berwarna merah, putih, dan biru menjadi merah dan putih. 

Setelah itu, bendera merah putih segera dikibarkan di atas gedung markas Belanda. 

Para pimpinan pasukan Belanda juga berhasil ditangkap, di antaranya adalah Letnan Verwaayen, pimpinan tangsi militer dan Kapten Blom, pemimpin garnisun Manado. 

Keberhasilan ini telah membuat rakyat Manado berhasil mengambil alih kekuasaan Belanda di sana.

Sayangnya, keberhasilan tersebut tidak berlangsung lama.

Awal Maret, kapal perang Belanda Piet Hein tiba di Manado dengan membawa pasukan sekitar satu batalyon.

Kedatangan mereka ini disambut oleh pasukan KNIL yang berada di pihak Belanda.

Kemudian, 11 Maret, para pimpinan gerakan merah putih diundang ke kapal Belanda.

Baca juga: Keruntuhan Hindia Belanda 1940-1942

Akhir Pertempuran

Awalnya, para pemimpin ini diundang untuk melakukan perundingan. 

Akan tetapi, rupanya tujuan utama Belanda adalah untuk menahan mereka, para pemimpin Sulawesi Utara.

Ajakan tersebut merupakan siasat tentara Belanda agar dapat melemahkan para pejuang rakyat Sulawesi Utara.

Pada akhirnya, Belanda berhasil kembali menguasai wilayah Sulawesi Utara. 

Artikel ini telah tayang di IKPNI.or.id dengan Judul "Peristiwa Merah Putih di Manado atau Hari Perjuangan Sulawesi Utara". 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.