Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kitab Mahabharata: Penulis, Isi, dan Kisahnya

Kompas.com - 09/08/2021, 14:00 WIB
Widya Lestari Ningsih,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kitab Mahabharata adalah salah satu karya besar dari India yang dianggap suci dan paling istimewa bagi pemeluk agama Hindu.

Isinya menceritakan tentang perang antara Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta Hastinapura.

Kitab Mahabharata disusun oleh Vyasa Krisna Dwipayana di India pada sekitar 400 SM.

Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa.

Di Indonesia, salinan dari berbagai bagian Kitab Mahabharata telah digubah dalam bentuk kakawin berbahasa Jawa Kuno oleh para pujangga ternama sejak akhir abad ke-10.

Kitab Mahabharata juga diakui sebagai salah satu wiracarita terpanjang di dunia yang memiliki lebih dari 100.000 sloka dengan sekitar 1,8 juta kata.

Panjangnya ini diperkirakan empat kali lebih panjang daripada Kitab Ramayana.

Baca juga: Kitab Ramayana: Penulis, Isi, dan Kisahnya

Pembagian dan isi Kitab Mahabharata

Mahabharata merupakan kisah epik yang terbagi ke dalam 18 bagian yang disebut parwa.
Kedelapan belas parwa ini dikenal dengan sebutan Astadasaparwa (asta=8, dasa=10, parwa=kitab).

Rangkaian parwa ini menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahabharata, yaitu sejak kisah para leluhur Pandawa dan Kurawa, hingga diterimanya Pandawa di surga.

Adapun pembagian dan isi Kitab Mahabharata adalah sebagai berikut.

Adiparwa

Bagian ini mengisahkan tentang silsilah serta masa kanak-kanak Pandawa dan Kurawa.

Karena keculasan dan watak buruk Kurawa, kedua belah pihak menjadi sering berselisih paham sejak kecil.

Sabhaparwa

Kitab Sabhaparwa berisi kisah tentang usaha Kurawa untuk membinasakan Pandawa.

Karena kalah dalam permainan dadu, Pandawa harus menjalani hukuman dengan hidup dalam pembuangan di tengah hutan selama 12 tahun.

Wanaparwa

Wanaparwa menceritakan tentang suka duka Pandawa ketika 12 tahun hidup dalam pembuangan di tengah hutan.

Wirataparwa

Kitab Wirataparwa menceritakan tentang penyamaran Pandawa selama satu tahun di Keraton Wirata setelah selesai menjalani pengasingan di hutan.

Baca juga: Kitab Sutasoma: Pengarang, Isi, dan Bhinneka Tunggal Ika

Udyogaparwa

Bagian ini menceritakan tentang kembalinya Pandawa ke Indraprastha setelah menjalani masa pembuangan.

Ternyata, Kurawa tidak mau mengembalikan separuh bagian Kerajaan Hastinapura kepada Pandawa.

Kedua belah pihak siap berperang di Kuruksetra setelah upaya damai yang diusulkan oleh Kresna gagal.

Bhismaparwa

Bhismaparwa berisi tentang kisah Bhisma yang menjadi panglima perang Kurawa, sedangkan Kresna sebagai penasihat dan pengatur siasat perang bagi Pandawa.

Bagian ini juga menceritakan tentang keberhasilan Srikandi dan Arjuna dalam mengalahkan Bhisma.

Dronaparwa

Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Kurawa.

Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestayumna ketika sedang tertunduk lemas tatkala mendengar kabar kematian anaknya, Aswatama.

Kitab ini juga menceritakan tentang gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.

Karnaparwa

Karnaparwa bercerita tentang pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryudhana.

Dalam kitab ini juga diceritakan ketika Dursasana gugur dan kematian Karna di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17.

Baca juga: Kitab Negarakertagama: Sejarah, Isi, dan Maknanya

Salyaparwa

Kitab ini berisi kisah penyesalan Duryudhana atas perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa.

Hal itu lantas menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryudhana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima.

Dalam perkelahian ini, Duryudhana akhirnya gugur.

Sauptikaparwa

Sauptikaparwa bercerita tentang pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa.

Peristiwa yang menggugurkan banyak tentara Pandawa ini membuat Aswatama menyesal dan memilih untuk menjadi pertapa.

Striparwa

Bagian ini mengisahkan tentang ratapan kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka bertempur di medan perang.

Selain itu, Yudhistira diceritakan menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur.

Santiparwa

Dalam Santiparwa diceritakan pertikaian batin Yudhistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan perang.

Akhirnya, ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna, yang menjelaskan rahasia serta tujuan ajaran Hindu agar Yudhistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai raja.

Anusasanaparwa

Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudhistira kepada Rsi Bhisma untuk menerima ajarannya.

Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang raja, dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Wujud Akulturasi Budaya Lokal dengan Hindu-Buddha

Aswamedhikaparwa

Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudhistira.

Selain itu, bagian ini juga menceritakan tentang pertempuran Arjuna dengan para raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula meninggal dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, tetapi dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.

Asramawasikaparwa

Berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan untuk meninggalkan dunia ramai.

Mereka juga menyerahkan takhta sepenuhnya kepada Yudhistira.

Mosalaparwa

Mosalaparwa menceritakan kisah Pandawa dan Drupadi yang menempuh hidup "sanyasin" atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.

Prasthanikaparwa

Kitab ini menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Drupadi ke puncak Gunung Himalaya, sementara takhta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna.

Dalam pengembaraannya, Drupadi dan Pandawa (kecuali Yudhistira) meninggal.

Swargarohanaparwa

Swargarohanaparwa menceritakan tentang kisah Yudhistira yang berhasil mencapai puncak Gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra.

Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia dan menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan binatang itu.

Anjing tersebut kemudian menampakkan wujudnya yang sebenarnya, yaitu Dewa Dharma.

 

Referensi:

  • Wismulyani, Endar. (2018). Kitab-Kitab dari Abad Silam. Klaten: Cempaka Putih.

 

 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com