Tuanku Imam Bonjol: Perjuangan, Perang Padri, dan Akhir Hidup

Kompas.com - 21/06/2021, 21:00 WIB
Tuanku Imam Bonjol WikipediaTuanku Imam Bonjol

Gerakan Padri telah dibandingkan dengan aliran Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) di Arab Saudi.

Pada 1803, terdapat tiga orang haji yang kembali dari Mekah ke Indonesia. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang.

Mereka ingin memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna yang dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. 

Mengetaui hal ini, Tuanku nan Renceh, seorang ulama, tertarik dan turut mendukung keinginan ketiga haji tersebut bersama dengan ulama lain dalam Harimau nan Salapan.

Harimau nan Salapan kemudian meminta Tuanku Lintau, panglima Kaum Padri, untuk mengajak yang dipertuan, Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Namun, tidak pernah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, Kaum Padri dengan Kaum Adat.

Seiring dengan peristiwa ini, beberapa nagari atau desa dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Puncak peristiwa terjadi pada 1815, terjadi pecah pertempuran di Koto Tengah dekat Batu Sangkar. 

Serangan ini membuat Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibu kota ke Lubukjambi.

Karena merasa terdesak, maka Kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda pada 21 Februari 1821. 

Halaman:


Sumber Britannica
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.