Sekaten: Asal Usul, Prosesi, Tradisi, dan Pantangan

Kompas.com - 27/04/2021, 16:05 WIB
Gunungan diujung menuju halaman Mesjid Besar Yogya. Kompas/AUGUST PARENGKUANGunungan diujung menuju halaman Mesjid Besar Yogya.

KOMPAS.com - Sekaten adalah rangkaian kegiatan tahunan yang dijadikan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Sekaten berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tanggal 5 sampai 11 Rabi’ul Awal dan ditutup dengan upacara Garebeg Mulud pada 12 Rabi’ul Awal.

Awal mula adanya Sekaten yaitu dimulai dari kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa pada zaman Kesultanan Demak.

Saat itu, orang Jawa menyukai gamelan pada hari raya Islam, yaitu hari lahirnya Nabi Muhammad, sehingga dimainkanlah gamelan di Masjid Agung Demak.

Baca juga: Nilai-Nilai pada Tradisi Sekaten

Asal Usul 

Tercetusnya nama Sekaten sendiri diadaptasi dari kata syahadatain yang berarti persaksian (syahadat) yang dua.

Kemudian mengalami perluasan maksa menjadi:

  • sahutain (menghentikan atau menghindari perkara dua, yaitu sifat lacur dan menyeleweng), sakhatain (menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan)
  • sakhotain (menanamkan dua perkara, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur yang selalu mendambakan diri pada Tuhan)
  • sekati (setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk)
  • sekat (batas, orang hidup harus membatasi diri untuk berlaku jahat).

Baca juga: Sejarah Singkat Khulafaur Rasyidin

Prosesi 

Upacara tradisional Sekaten dilakukan selama tujuh hari, adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut:

  • Gamelan sekaten dibunyikan pada pukul 16.00 sampai kira-kira jam 23.00 pada tanggal 5 Rabi’ul Awal
  • Gamelan dipindahkan ke pagongan di halaman Masjid Besar mulai jam 23.00.
  • Hadirnya Sri Sultan beserta pengiringnya ke serambi Masjid Besar untuk mendengarkan pembacaan Riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW, diselenggarakan pada tanggal 11 Rabi’ul Awal.
  • Dikembalikannya gamelan sekaten dari halaman Masjid Besar ke Kraton sebagai tanda berakhirnya upacara Sekaten.

Terdapat dua tradisi yang dilakukan selama Sekaten berlangsung, yaitu Grebeg Muludan dan Numpak Wajik.

Grebeg Muludan

Grebeg Muludan diadakan pada tanggal 12 Rabi’ul Awal atau sebagai acara puncak peringatan Sekaten.

Tradisi ini dimulai dari pukul 08.00 sampai 10.00 WIB dikawal dengan 10 macam bregada (kompi) prajurit Kraton.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.