Masjid-masjid Peninggalan Kerajaan Islam dan Ciri-cirinya

Kompas.com - 19/04/2021, 16:23 WIB
Masjid Raya Baiturrahman peninggalan Kerajaan Aceh GramediaMasjid Raya Baiturrahman peninggalan Kerajaan Aceh

KOMPAS.com - Pada zaman dulu, banyak kerajaan Islam yang berdiri di Indonesia.

Beragam peninggalan kerajaan Islam pun masih bisa ditemui sekarang ini, salah satunya adalah masjid.

Masjid merupakan bangunan berukuran besar yang biasanya digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam.

Ciri-ciri masjid pada masa awal kehadiran Islam di Indonesia

1. Atap masjid selalu bersusun

Atap masjid selalu bersusun (tumpang), semakin ke atas ukurannya semakin kecil dan bagian paling atas biasanya berbentuk limas.

Ciri-ciri masjid pada masa awal kehadiran Islam di Indonesia seperti berikut ini, kecuali atapnya bersusun genap.

Sebab, jumlah susunan atapnya biasanya ganjil, ada yang tiga atau lima susun, seperti pada masjid Banten.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

2. Didirikan di tengah kota

Masjid peninggalan kerajaan Islam biasanya didirikan di tengah-tengah kota.

Umumnya terdapat alun-alun (tanah lapang) yang terletak di sebelah utara atau selatan istana. Alun-alun tersebut merupakan tempat bertemunya raja dengan rakyat.

Sedangkan masjid adalah tempat bersatunya raja dengan rakyat sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Baca juga: Karya Sastra Peninggalan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

3. Memiliki menara

Beberapa masjid peninggalan kerajaan Islam di Indonesia dilengkapi menara di sisi kiri atau kanan sebagai bangunan tambahan untuk memberi keindahan.

Menara tersebut difungsikan sebagai tempat melakukan azan

Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau lebih dikenal sebagai Masjid Agung Cirebon. Gerbang utamanya terbuat dari susunan bata merah yang rapat dan tinggi. KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau lebih dikenal sebagai Masjid Agung Cirebon. Gerbang utamanya terbuat dari susunan bata merah yang rapat dan tinggi.
Masjid Peninggalan Kerajaan Islam

1. Masjid Raya Baiturrahman

Beberapa tulisan tentang sejarah pembangunannya menyebut bahwa Masjid Raya Baiturrahman dibangun semasa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Pada masa penjajahan, masjid ini juga digunakan sebagai markas pertahanan terhadap serangan musuh.

Fungsi tersebut sangat terasa semasa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870-1874).

Di masjid ini sering pula diadakan musyawarah besar untuk membicarakan strategi penyerangan dan kemungkinan serangan Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam.

Karena posisinya yang sangat strategis, Masjid Raya Baiturrahman bahkan sempat dua kali dibakar Belanda.

Baca juga: Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya

2. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun oleh Raden Patah, raja pertama dari Kesultanan Demak pada abad ke-15 Masehi.

Masjid yang dipercaya pernah menjadi tempat berkumpulnya Walisongo ini terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Di dalam kompleks bangunannya terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak, termasuk makam Raden Patah dan para abdinya.

3. Masjid Sang Cipta Rasa

Masjid Sang Cipta Rasa juga dikenal sebagai Masjid Sunan Gunung Jati, lantaran letaknya di sekitar kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Desa Astana Gunung Jati, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Masjid peninggalan Kerajaan Cirebon ini dibangun pada 1480 atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati dengan dibantu oleh Walisongo dan beberapa tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah.

Bila dilihat dari kubahnya, masjid ini bentuknya hampir sama dengan peninggalan kerajaan Islam lainnya.

Akan tetapi, di dalamnya begitu unik karena dijumpai arsitektur bercorak Tiongkok.

Seluruh dinding masjid dihiasi porselen buatan Tiongkok berbentuk piring warna merah dan biru yang dibuat pada Dinasti Ming.

Hal ini karena istri ketiga Sunan Gunung Jati adalah putri dari seorang Kaisar Tiongkok bernama Ong Tien yang kemudian berganti nama menjadi Nyi Ratu Rara Sumanding.

Baca juga: Masuknya Islam ke Nusantara

4. Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate diduga telah dirintis sejak masa Sultan Zainal Abidin.

Namun ada juga yang beranggapan bahwa pembangunannya baru dilakukan pada awal abad ke-17, saat Sultan Saidi Barakati berkuasanya.

Peninggalan Kerajaan Ternate ini menjadi bukti keberadaan Kesultanan Islam pertama di kawasan timur nusantara.

Masjid Sultan Ternate terletak di dekat Kedaton Sultan Ternate.

Posisinya itu berkaitan dengan peran penting masjid dalam kehidupan beragama di Kesultanan Ternate.

Tradisi atau ritual-ritual keagamaan yang diselenggarakan kesultanan selalu berpusat di masjid ini.

Bagian depan Masjid Agung SurakartaKOMPAS.com/NUR ROHMI AIDA Bagian depan Masjid Agung Surakarta

5. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten merupakan peninggalan Kerajaan Banten yang dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf pada 1566 Masehi.

Meski keadaannya tidak seperti pada saat didirikan, namun kondisinya tetap terpelihara dengan baik.

Di depan masjid terdapat menara setinggi 30 meter yang dibangun 66 tahun setelah masjidnya berdiri.

Selain itu, di pekarangannya terdapat makam Sultan Maulana Yusuf.

Di dekat makam tersebut terdapat Al-Qur'an yang ditulis tangan semasa Sultan Maulana Yusuf.

Baca juga: Masuknya Hindu-Buddha ke Nusantara

6. Masjid Kotagede

Kerajaan Mataram Islam mempunyai peninggalan di dua kota, yakni di Yogyakarta dan Surakarta.

Peninggalan berupa masjid yang ada di Yogyakarta pun ada beberapa, salah satunya adalah Masjid Kotagede.

Tidak diketahui secara pasti waktu pembangunannya, tetapi masjid ini diperkirakan sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Mataram, di bawah pemerintahan Kiai Ageng Mataram.

Masjid ini konon katanya memiliki "beduk ajaib", yang dibuat oleh rakyat secara bergotong-royong, namun tidak bisa dipindahkan meski tenaga yang mengangkat bertambah banyak.

Suatu ketika, datanglah perempuan misterius yang secara ajaib mampu mengangkat beduk tersebut ke dalam masjid seorang diri.

Setelah meninggal, perempuan misterius tersebut dimakamkan di sebelah Masjid Mataram.

7. Masjid Agung Surakarta

Masjid ini adalah salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Islam di Surakarta.

Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III pada 1763 dan selesai pada 1768.

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga difungsikan untuk mendukung keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti Grebeg dan festival Sekaten.

 

Referensi:

  • Zein, Abdul Baqir. (1999). Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X