Ki Hadjar Dewantara: Kehidupan, Kiprah, dan Semboyannya

Kompas.com - 15/04/2021, 14:13 WIB
Ki Hajar Dewantara diabadikan 11 Maret 1959, sebulan sebelum meninggal. -Ki Hajar Dewantara diabadikan 11 Maret 1959, sebulan sebelum meninggal.

KOMPAS.com - Tokoh pergerakan nasional yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional adalah Ki Hadjar Dewantara.

Di masa pergerakan nasional, Ki Hadjar Dewantara bersama Dr. E.F.E. Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo (Tiga Serangkai) mendirikan Indische Partij.

Ki Hadjar Dewantara juga mendirikan perguruan Taman Siswa. Ia terkenal dengan ucapannya, "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" yang kini menjadi semboyan pendidikan Indonesia.

Pendidikan

Tokoh yang bernama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat ini lahir pada hari Kamis Legi, tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta.

Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga bangsawan. Berkat gelar tersebut, ia pun mendapat kesempatan untuk bisa belajar di Europeesche Lagere School atau Sekolah Dasar Belanda selama 7 tahun di Kampung Bintaran Yogyakarta.

Setelah tamat di sekolah dasar, Ki Hadjar Dewantara melanjutkan sekolahnya di Kweekschool (sekolah guru) di Yogyakarta.

Kesempatan Suwardi Suryaningrat untuk menempuh pendidikan masih berlanjut setelah ia tergabung dengan STOVIA (School Fit Opleiding Van Indische Artsen), sekolah dokter di Jawa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kala itu, dr. Wahidin Sudiro Husodo datang dan menanyai siapa di antara putera-putera yang ingin masuk ke STOVIA, mendapat beasiswa, dan Ki Hadjar Dewantara menjadi salah satunya.

Ia pun menjadi mahasiswa di STOVIA sejak tahun 1905 – 1910. Namun, karena ia jatuh sakit selama empat bulan, mau tidak mau beasiswa nya pun dicabut.

Tetapi, ternyata sakitnya Ki Hadjar Dewantara bukan menjadi satu-satunya alasan ia dihentikan dari STOVIA, melainkan juga ada masalah politik.

Ki Hadjar Dewantara dianggap menjadi pemicu timbulnya pemberontakan terhadap Pemerintah Hindia-Belanda melalui sajak yang ia bacakan.

Sajak tersebut menggambarkan keperwiraan Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, seorang panglima Perang Pangeran Diponegoro.

Kepergian Ki Hadjar Dewantoro dari STOVIA diikuti oleh dr. Cipto Mangunkusumo dan Suradji Tirtonegoro.

Profesi wartawan

Meskipun Ki Hadjar Dewantoro tidak dapat menyelesaikan sekolahnya di STOVIA, ia tetap memperoleh banyak pengalaman baru.

Salah satunya adalah menjadi seorang jurnalis atau wartawan di beberapa surat kabar, yaitu:

  • Sedyotomo
  • Midden Java
  • De Express
  • Oetoesan Hindia
  • Kaoem Moeda
  • Tjahaja Timoer
  • Poesara

Beliau menjadi salah satu jurnalis andal yang terkenal dengan tulisannya yang komunikatif, tajam, serta patriotik, sehingga mampu mendongkrak semangat antipenjajahan.

Puncak karir Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang wartawan yaitu saat ia menulit Als ik eens Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang diterbitkan pada Juli 1913.

Tulisan itu berisikan sebuah sindiran tajam bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.