PRRI: Latar Belakang, Tuntutan, Anggota, Penumpasan, dan Dampaknya

Kompas.com - 07/04/2021, 17:33 WIB

Letkol Ahmad Husein pemimpin PRRIJames Burke Letkol Ahmad Husein pemimpin PRRI

Anggota 

Para anggota yang menjadi pelopor gerakan PRRI, yakni:

  • Letnan Kolonel Ahmad Husein
  • Mr. Sjafruddin Prawiranegara
  • Mr. Assaat Dt. Mudo
  • Maluddin Simbolon
  • Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo
  • Moh. Sjafei
  • J.F. Warouw
  • Saladin Sarumpaet
  • Muchtar Lintang
  • Saleh Lahade
  • Ayah Gani Usman
  • Dahlan Djambek

Operasi Militer 

Semenjak adanya gerakan Pemerintahan Revolusi Republik Indonesia, pemerintah pusat menganggap gerakan tersebut harus segera dituntaskan dengan gencatan senjata.

Pemerintah pun melakukan operasi gabungan yang terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Angkatan Perang RI (APRI) untuk menumpas gerakan PRRI. Berikut operasi yang pernah dilancarkan:

  • Operasi Tegas dengan Sasaran Riau dimulai pada tanggal 12 Maret 1958 dipimpin oleh Let. Kol. Kaharuddin Nasution.
  • Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Inf. Ahmad Yani dimulai pada tanggal 17 Agustus 1958 dibawah pimpinan Kolonel Achmad Yani.
  • Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letkol Inf. Rukmito Hendraningrat terdiri dari:
  • Operasi Sapta Marga I, di Sulawesi Tengah dipimpin oleh Letkol Sumarsono.
  • Operasi Sapta Marga II, di wilayah Gorontalo dipimpin oleh Mayor Agus Prasmono.
  • Operasi Sapta Marga III, di kepulauan Sangir-Talaud dan Manado dipimpin oleh Letnan Kolonel Magenda.
  • Operasi Sapta Marga IV, di Manado dipimpin oleh Letkol Rukminto.
  • Operasi Merdeka adalah gerakan operasi militer yang dilakukan untuk menumpas Permesta di Sulawesi Utara/Tengah.

Baca juga: TNI, Sejarah dan Fungsinya

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tentara APRI melayangkan berbagai macam tindak kekerasan, bahkan ribuan orang juga ditangkap dengan cara paksa karena dicurigai sebagai simpatisan PRRI.

Melalui Jenderal Abdul Haris Nasution, tentara PRRI berusaha dibujuk untuk menyerah dan kembali setia kepada NKRI.

Semasa Kabinet PRRI masih berlangsung, beberapa menteri yang menjabat di dalamnya, yaitu:

  1. Mr. Sjafruddin Prawiranegara menjabat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Keuangan.
  2. Mr. Assaat Dt. Mudo menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.
  3. Kol. Maludin Simbolon menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.
  4. Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo menjabat sebagau Menteri Perhubungan dan Pelayaran.
  5. Muhammad Sjafei menjabat sebagai Menteri PPK dan Kesehatan.
  6. Saladin Sarumpaet menjabat sebagai Menteri Pertanian dan Perburuhan.
  7. Muchtar Lintang menjabat sebagai Menteri Agama.
  8. Saleh Lahade menjabat sebagai Menteri Penerangan.
  9. Abdul Gani Usman menjabat sebagai Menteri Sosial.
  10. Kol. Dahlan Djambek menjabat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi.

Dampak

Peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) merupakan salah satu gerakan yang menimbulkan dampak negatif terhadap keberlangsungan hidup negara Indonesia. 

Dampak pergerakan tersebut terhadap pelaku adalah sebagai berikut:

  • Jatuhnya Korban Jiwa sebanyak 22.174 jiwa, 4.360 mengalami luka-luka dan 8.072 orang menjadi tawanan. 
  • Keadaan Perekonomian Terganggu, muncul inflasi serta deflasi. 
  • Timbulnya kesadaran di kalangan pimpinan negara bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri atas wilayah kepualauan yang luas dengan aneka ragam masalah yang sering berbeda satu dengan yang lain.
  • Timbulnya perpecahan hubungan persaudaraan. 
  • Kekurangan bahan makanan

Akibat dari kerusuhan yang berlangsung pada 1958-1960 ini, beberapa SMA, SMP, serta universitas juga turut ditutup, salah satunya Universitas Andalas yang baru berjalan selama dua tahun juga harus terpaksa ditutup sebab hampir semua dosen dan mahasiswanya ikut terlibat dalam PRRI.

Mendekati penghujung tahun 1960, seluruh wilayah di Sumatera Barat berhasil dikuasai oleh para tentara APRI. Para elemen sipil dan tentara diberi sebuah amnesti oleh pemerintah yang kemudian dituangkan ke dalam Keputusan Presiden No. 322 Tahun 1961 pada 22 Juni 1961.

Namun, amnesti tersebut tak memberi dampak. Masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa masih hidup dalam tekanan selama bertahun-tahun.

Referensi: 

  • Rachmat, Redi, Siswantari, dan lain-lain. (1992). Tantangan dan rongrongan terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa kasus PRRI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Sedjarah Militer Kodal VII Diponegoro. (1968). Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro Sirnaning Jakso Katon Gapuraning Ratu. Indonesia: Jajasan Penerbit Diponegoro.
  • Dinas Sejarah Militer Angkatan Darat. (1979). Sejarah TNI-AD, 1945-1973: Peranan TNI-AD dalam mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Indonesia: Dinas Sejarah Militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. 
  • Syamdani.(2009). PRRI, Pemberontakan atau Bukan?. Yogyakarta: Media Pressindo
  • Zed, Mestika dan Hasril Chaniago. (2001). Perlawanan Seorang Pejuang. Indonesia: Pustaka Sinar Harapan.
 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X