Pelatih Ungkap Penyebab Tony Ferguson Kalah dari Justin Gaethje

Kompas.com - 21/05/2020, 07:40 WIB
Tony Ferguson menerima pukulan di kepala dari Justin Gaethje pada laga main event di UFC 249, Minggu (10/5/2020) pagi WIB. AFP/Douglas P. DeFeliceTony Ferguson menerima pukulan di kepala dari Justin Gaethje pada laga main event di UFC 249, Minggu (10/5/2020) pagi WIB.
Penulis Alsadad Rudi
|

KOMPAS.com - Pelatih Tony Ferguson, Eddie Bravo, mengungkap cerita di balik Octagon selama pertandingan berlangsung antara anak didiknya dan Justin Gaethje.

Tony Ferguson menjadi bulan-bulanan ketika menghadapi Justin Gaethje dalam ajang UFC 249 di VyStar Veterans Memorial, Jacksonville, Florida, AS, Minggu (10/5/2020).

Setelah menerima 100 pukulan di kepala, Tony Ferguson dinyatakan kalah dari Justin Gaethje dengan TKO pada ronde kelima.

Hasil tersebut memastikan petarung berjulukan El Cucuy itu gagal bertarung melawan Khabib Nurmagomedov pada event selanjutnya.

Selama pertandingan berlangsung, Ferguson tidak menggunakan berbagai keahliannya.

Selain piawai dalam serangan atas, El Cucuy juga lihai melakukan serangan bawah.

Kini, terungkap penyebab Ferguson tidak melakukan strategi lain untuk menghabisi Gaethje.

Usut punya usut, Rashad Holloway menjadi pelatih kepala Ferguson untuk menghadapi Gaethje.

Holloway sendiri merupakan pelatih tinju, sehingga Ferguson diberi arahan untuk melakukan pertarungan atas.

Setelah tiga ronde, petarung kelahiran California menerima pukulan bertubi-tubi dari Gaethje.

Tepat bel keempat berbunyi, Holloway meminta kepada Eddie Bravo untuk menggantikan posisinya di oktagon.

Bravo tidak mempunyai pengalaman menjadi pelatih kepala seperti memberi instruksi selama duel berlangsung.

Dia tidak membayangkan harus berbicara dengan Ferguson untuk memberi arahan-arahan.

Baca juga: Kalah dari Justin Gaethje, Tony Ferguson Disarankan Pensiun

"Ini ronde keempat. Dia terluka dan ditambah lagi saya kehilangan kacamata saya. Saya cukup buta tanpa itu, sehingga tidak menyadari betapa dia terluka sampai saya menghampirinya," tutur Bravo dilansir BolaSport.com dari MMA Junkie.

"Oke, saya harus memberinya nasehat? Sebagai pelatih kedua, kesalahan bagi saya untuk masuk ke sana. Itu adalah sebuah kesalahan."

"Saya tidak pernah menjadi pelatih kepala MMA dalam hidup saya. Tidak pernah ingin menjadi seperti itu."

"Tidak pernah ingin, bahkan sampai hari ini, saya belum pernah. Itu bukan saya. Saya bukan Trevor Wittman yang luar biasa. Saya bukan Greg Jackson, Duke Roufus."

"Itu level berbeda. Pelatih kepala memiliki kewajiban berbicara kepada petarung yang sedang duduk."

Bravo pun mengakui kapasitasnya sebagai pelatih jiu jutsu dan bukan tinju.

Pria Amerika Serikat ini merasa tidak kompeten menggantikan Holloway dalam memberi arahan kepada Ferguson jelang pertarungan berakhir.

"Dalam pertandingan berdiri, saya seharusnya tidak berbicara, karena saya tahu ini akan menjadi duel berdiri," tutur Bravo.

"Jika pertarungan itu menghadapi Khabib Nurmagomedov dan akan berakhir, mungkin akan ada ground fight. Mungkin masuk akal jika televisi memberi saya mikrofon."

"Namun, ketika mereka meminta, saya seperti hanya ada untuk memberi dukungan emosional karena itu adalah perang berdiri," kata Bravo. (Fauzi Handoko Arif)


Sumber BolaSport
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X