Cinta Abadi Andriy Shevchenko kepada AC Milan

Kompas.com - 03/04/2020, 11:40 WIB
Penyerang AC Milan, Andriy Shevchenko, merayakan gol ke gawang Ajax Amsterdam pada ajang Liga Champions di Stadion San Siro, Milan, pada 16 September 2003. AFP/PAOLO COCCOPenyerang AC Milan, Andriy Shevchenko, merayakan gol ke gawang Ajax Amsterdam pada ajang Liga Champions di Stadion San Siro, Milan, pada 16 September 2003.

KOMPAS.com - Sudah delapan tahun mantan pemain AC Milan, Andriy Shevchenko, menggantung sepatunya sejak tahun 2012.

Selama perjalanan karier sepak bola profesionalnya, berbagai warna identitas klub dia kenakan.

Namun, warna kebanggaan AC Milan, hitam dan merah, selalu menancap di dalam hatinya yang paling dalam.

Bagi pelatih timnas Ukraina, AC Milan adalah segalanya dalam karier Shevchenko di dunia si kulit bulat. Tujuh musim di klub berjuluk Rossonerri, menjadi masa paling indah dalam di CV miliknya.

Baca juga: Zlatan Ibrahimovic Belum Putuskan soal Masa Depannya di AC Milan

"Merah dan hita, dua warna yang selalu ada di dalam hatiku," kata Shevchenko dikutip Football Italia.

"Dua warna identias klub yang memberiku banyak hal, salah satunya membuatku merasakan pemenang Liga Champions dan membantuku meraih segalanya di sepak bola," ungkap dia.

Pada usia emas Andriy Shevchenko, AC Milan menjadi momok bagi sepak bola Italia, bahkan dunia.

Saat itu, pria yang akrab disapa Sheva itu masih berusia 22 tahun. Memulai kariernya dari Dynamo Kyiv, dia kemudian direkrut AC Milan pada tahun 1999.

Shevchenko merasa bahagia kala itu lantaran bisa bertemu dengan pemain-pemain hebat dunia dari tim-tim terbaik.

Baca juga: Kecewa dengan AC Milan, Zlatan Ibrahimovic akan Cabut pada Akhir Musim

"Tidak mudah bagi saya untuk beradaptasi di awal. Pelatih pada saat itu, Alberto Zaccheroni, memiliki peran besar dalam awal yang baik untuk klub.

"Dia adalah orang yang cerdas dan pelatih yang sangat baik. Dia memperkenalkan saya secara bertahap, jadi saya tidak selalu berada di starting XI, tapi saya tampil dan perlahan-lahan membangun kepercayaan diri," ungkapnya.

"Saya merasa luar biasa dan menjadi Capocannoniere dalam kampanye debut saya. Tentu saja, saya senang, tetapi ingin memenangkan sesuatu lain bersama tim.

"Musim kedua sangat sulit bagi kami, karena ada pergantian pelatih. Meskipun demikian, saya memiliki penampilan hebat dan mencetak 24 gol, tetapi kami tidak memenangkan apa pun," ujarnya bercerita.

Baca juga: Kerinduan Virgil van Dijk terhadap Sepak Bola dan Penggemar Liverpool

Musim 2003-2004, Shevchenko kembali dibuat bahagia dengan memenangi Scudetto.

"Pertengahan musim 2003-2004, kami tujuh atau delapan poin di belakang Roma, jadi kemenangan di Roma sangat penting dan kami menutup selisih satu poin dalam waktu sebulan.

"Memenangi Scudetto di San Siro melawan Roma, pesaing utama, adalah hari yang tak terlupakan.

"Saya ingat betapa istimewanya melihat penggemar Milan di stadion merayakan tim hebat ini. Itu jelas salah satu momen terbaik dalam karier sepakbola saya,"

Baca juga: Kalahkan Wakil Brasil, Persib Bandung Melaju ke 16 Besar

Pada musim yang sama, AC Milan merengkuh gelar pemenang Liga Champions. Berkat hasil tersebut, membantu Shevchenko sebagai pemenang Ballon d'Or pada tahun 2004.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X