Liverpool Tersingkir karena Kutukan Juara Bertahan Liga Champions?

Kompas.com - 12/03/2020, 10:20 WIB
Pemain Liverpool Jordan Henderson (tengah) mengangkat trofi dikelilingi rekan setimnya usai melawan Tottenham Hotspur pada final Liga Champions 2019 di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Sabtu (1/6/2019) atau Minggu dini hari. Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018-2019 setelah mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0. AFP/PAUL ELLISPemain Liverpool Jordan Henderson (tengah) mengangkat trofi dikelilingi rekan setimnya usai melawan Tottenham Hotspur pada final Liga Champions 2019 di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Sabtu (1/6/2019) atau Minggu dini hari. Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018-2019 setelah mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0.

KOMPAS.com - Nasib Liverpool di Liga Champions musim ini tak semanis seperti tahun lalu.

Berstatus juara bertahan, Liverpool harus kandas 2-3 dari Atletico Madrid akibat dua gol Marcos Llorente dan satu gol Alvaro Morata.

Duel panas Liverpool vs Atletico Madrid tersaji di Anfield Stadium, Kamis (12/3/2020) dini hari WIB.

The Reds, julukan Liverpool, tersingkir dari kompetisi kasta tertinggi Benua Eropa dengan agregat 2-4.

Hasil ini semakin menguatkan adanya kutukan bagi juara bertahan Liga Champions.

Baca juga: Liverpool Tersingkir, Simeone: Laga Ini Jadi Sejarah bagi Kami karena Lawan Tim Tangguh

Musim lalu, Real Madrid juga mengalami hal yang sama.

Menjadi juara di musim 2017-2018, El Real harus mengakui keunggulan Ajax Amsterdam pada babak 16 besar dengan agregat 3-5.

Real Madrid harus angkat koper lebih dini meski berstatus sebagai juara bertahan.

Dalam sejarah LIga Champions, hanya Real Madrid pula lah yang mampu patahkan kutukan itu sejak AC Milan mampu pertahankan gelar pada musim 1989-1990.

Los Blancos berhasil pertahankan gelar juara pada musim 2017-2016.

Namun, kutukan tersebut seolah kembali muncul di Liga Champions musim lalu dan musim ini.

Baca juga: Liverpool Vs Atletico Madrid, Kepiluan The Reds Sonder Alisson

"Kami tahu bahwa dua tahun lalu kami memiliki momen beruntung di Liga Champions," kata pelatih The Reds, Juergen Klopp kepada BT Sport.

"Tetapi semuanya berbalik melawan kami di saat-saat menentukan," ujar Klopp melanjutkan.

Secara keseluruhan, pelatih asal Jerman itu mengapresiasi penampilan Mohamed Salah cs.

Liverpool menang 1-0 di waktu normal 90 menit. Namun, adanya agregat menunjukkan hasil imbang 1-1 dan membuat The Reds dipaksa main hingga babak extra time.

Empat menit extra time pertama, pasukan Juergen Klopp unggul agregat 2-1 berkat gol Roberto Firmino.

Baca juga: Coba Ada Ronaldo, Liverpool Bisa Singkirkan Atletico

Akan tetapi, tiga menit berselang, Atletico mampu membuat agregat menjadi seri 2-2.

"Skor (agregat) menunjukkan 2-1 itu tidak keren. Itu kejutan tetapi bukan masalah besar. Gol kedua, baru masalah besar," tandas Klopp.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X