Olimpiade Tokyo 2020, Otoritas Tokyo Perketat Aturan Perarakan Obor Api

Kompas.com - 05/03/2020, 17:26 WIB
Obor Olimpiade 2020 saat dipamerkan ke publik pada 1 Juni 2019 di Tokyo. AFP/BEHROUZ MEHRIObor Olimpiade 2020 saat dipamerkan ke publik pada 1 Juni 2019 di Tokyo.

TOKYO, KOMPAS.com - Di tengah kian maraknya persebaran virus corona, khususnya di Jepang, otoritas pelaksana Olimpiade Tokyo 2020 memperketat aturan mengenai perarakan obor api.

Pelaksana di Tokyo sudah menerapkan berbagai langkah pencegahan virus corona.

Perarakan obor api itu akan dimulai pada Kamis (26/3/2020).

Logo Olimpiade Tokyo 2020Shutterstock Logo Olimpiade Tokyo 2020

Seminggu sebelum perarakan, pelaksana sudah berkoordinasi dengan otoritas prefektur di seluruh Jepang.

Koordinasi ini menyangkut keputusan membuat langkah spesifik terkait pencegahan virus tersebut.

"Saya ingin membawa perarakan ini dengan cara-cara tepat melalui diskusi dengan pemerintah lokal terkait virus tersebut," kata CEO Olimpiade Tokyo 2020 Toshiro Muto.

Atlet angkat besi Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020 Eko Yuli Irawan. Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Eko meraih medali perak kelas 62 kilogram. 


Kompas.com/Josephus Primus Atlet angkat besi Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020 Eko Yuli Irawan. Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Eko meraih medali perak kelas 62 kilogram.

Menurut Muto, para pelari dan staf akan diukur suhu tubuhnya.

"Kami juga akan memonitor mereka melalui pengecekan kesehatan," ujarnya.

Selain itu, ada juga peraturan yang menempatkan para penonton perarakan di tepi jalan, tanpa bisa berdekatan dengan pembawa obor api.

Tim Medis Rumah Sakit Pertamina Jaya memeriksa suhu tubuh seorang pegawai di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (4/3/2020). Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi pegawai maupun tamu tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19.ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR Tim Medis Rumah Sakit Pertamina Jaya memeriksa suhu tubuh seorang pegawai di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (4/3/2020). Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi pegawai maupun tamu tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19.

Pada 26 Februari 2020, pemerintah Jepang sudah meminta pelaksana Olimpiade Tokyo 2020 mempertimbangkan dampak dari merebaknya virus corona.

Pemerintah menyarankan adanya penundaan atau pembatalan kegiatan multicabang olahraga terakbar di dunia itu.

Lantaran imbauan itu, laga bisbol profesional harus dimainkan di stadion tanpa penonton.

Hal yang sama terjadi juga di ajang rugby dan sepak bola.



Sumber Kyodo News
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X