Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fakta dari Serat Wulangreh

Kompas.com - 24/04/2024, 18:30 WIB
Eliza Naviana Damayanti,
Serafica Gischa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta, menulis sebuah karya sastra berbentuk tembang macapat yang dilahirkan pada 2 September 1768. Dia memerintah dari 29 November 1788 hingga 1 Oktober 1820. 

Saat ini, skrip Wulang Reh berada di Museum Radya Pustaka Surakarta.

Wulang dan pitutur memiliki makna mengajar. Kata "Reh" berasal dari bahasa Jawa Kuno dan berarti jalan, aturan, dan laku untuk mencapai atau menuntut sesuatu. Wulang Reh dapat dianggap sebagai instruksi untuk mencapai tujuan.

Baca juga: Serat Wulangreh Pupuh Durma

Pengertian Serat Wulang Reh

Karya ini berbicara tentang cara hidup yang harmonis atau sempurna. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang arti kata tersebut, tembang berikut dapat digunakan: 

Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
Lekase lawan kas,
Tegese kas nyantosani,
Setya budya pangekese durangkara.

Artinya ilmu itu bisa dipahami atau dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara.

Berdasarkan makna tembang tersebut, laku adalah langkah atau cara mencapai karakter mulia, bukan ilmu dalam arti ilmu pengetahuan semata, seperti yang banyak kita lihat di zaman sekarang. Institusi pendidikan mengalihkan perhatian mereka dari pendidikan moral dan etika ke arah penelitian dan pengembangan pengetahuan.

Karya ini unik karena menggunakan bahasa Jawa arkhaik (kuno) yang sedikit, yang membuat pembaca lebih mudah memahaminya.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan karena karya tersebut merupakan sinkretisme Islam-Kejawen atau tidak sepenuhnya berfokus pada ajaran Islam, sehingga akan menimbulkan perspektif yang berbeda bagi pembaca yang berbeda agama.

Struktur Serat Wulang Reh

Struktur Serat Wulang Reh terdiri dari 13 macam tembang (pupuh), dengan jumlah pada atau bait yang berbeda, yaitu:

  1. Dhandhanggula, terdiri 8 pada/bait
  2. Kinanthi terdiri 16 pada/bait
  3. Gambuh terdiri 17 pada/bait
  4. Pangkur terdiri 17 pada/bait
  5. Maskumambang terdiri 34 pada/bait
  6. Megatruh terdiri 17 pada/bait
  7. Durma terdiri 12 pada/bait
  8. Wirangrong terdiri 27 pada/bait
  9. Pocung terdiri 23 pada/bait
  10. Mijil terdiri 26 pada/bait
  11. Asmaradana terdiri 28 pada/bait
  12. Sinom terdiri 33 pada/bait
  13. Girisa terdiri 25 pada/bait

Fakta Serat Wulang Reh

Dilihat dari jenis tulisan yang ditulisnya, Wulang Reh dapat ditemukan dalam disertasi, skripsi, makalah, dan bahkan di internet.

Tulisan-tulisan ini biasanya membahas isi atau maknanya, yang kemudian mengarah pada interpretasi nilai-nilai luhur, moral, budi pekerti (kadang-kadang disebut etika), nilai-nilai religius, dan ajaran kepemimpinan. Ada juga yang melakukannya dalam hal bahasa.

Pertama, serat Wulangreh Sri Susuhunan Pakubuwana IV berisi ajaran tentang memilih guru, kebijaksanaan dan bergaul, kepribadian, tata krama, ajaran berbakti pada orang lain, Tuhan, berbakti kepada pemerintah, pengendalian diri, keluarga, keselamatan, keikhlasan, dan kesabaran, ibadah yang baik, dan keluhuran. 

Kedua, purwakanthi swara, purwakanthi guru swara, dan purwakanthi lumaksita adalah bagian dari keindahan serat Wulangreh karena adanya ritma, rima, dan bunyi bahasa. Serat Wulangreh mengandung pemahaman tentang diksi (pemilihan kata), aliterasi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, dan metrum.

Ketiga, nilai-nilai moral yang ditemukan dalam Serat Wulangreh adalah nilai-nilai tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan, yang mencakup berserah diri kepada Tuhan, patuh kepada Tuhan, hubungan antara manusia dengan sesama, hubungan antara manusia dengan diri mereka sendiri, dan nilai-nilai tentang agama. 

Keempat, ajaran tata kaprajan, atau ajaran tentang perintah, memberikan pendidikan moral tentang cara untuk mencapai keluhuran hidayah.

Singkatnya, seorang pemimpin yang baik tidak memiliki sifat-sifat berikut: lonyo, lemer, genjah, angrong pasanakan, nyumur gumiling, ambuntut arit, adigang, adigung, dan adiguna. Seorang pemimpin harus jujur, rajin beribadah, tidak mengharapkan bantuan orang lain, dan tekun mengabdi kepada masyarakat.

Baca juga: Isi Serat Wulangreh Pupuh Gambuh

Referensi:

  • Nurhayati, E. (2010). Nilai-nilai Moral Islam dalam Serat Wulangreh. Millah, Vol. X, No. 1.
  • Widiyono, Y. (2010). Kajian Tema, Nilai Estetika, dan Pendidikan dalam Serat Wulangreh Karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com