Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Isi Serat Wulangreh Pupuh Gambuh

Kompas.com - 05/04/2024, 13:08 WIB
Eliza Naviana Damayanti,
Serafica Gischa

Tim Redaksi

KOMPAS.com  - "Serat Wulangreh" adalah sebuah karya sastra Jawa klasik yang terdiri dari berbagai pupuh atau bait yang berisi kisah-kisah romantis, mitologis, dan moralitas. "Pupuh Gambuh" adalah salah satu bagian dari Serat Wulangreh.

Isi dari "Pupuh Gambuh" ini dapat bervariasi tergantung pada versi dan penafsiran yang berbeda.

Namun, secara umum, Pupuh Gambuh dalam Serat Wulangreh biasanya mengisahkan kisah percintaan, petualangan, dan konflik yang melibatkan karakter-karakter mitologis atau fiksi dalam budaya Jawa.

Baca juga: Serat Wulangreh Pupuh Kinanthi

Berikut isi dari Serat Wulangreh Pupuh Gambuh:

  1. Sekar gambuh ping catur/ kang cinatur polah kang kelantur tanpa / tutur katula-tula katali / kadaluwarsa katutuh / kapatuh pan dadi awon.
    (Sekar gambuh pola yang keempat, yang menjadi bahan perbincangan adalah perlaku yang tidak teratur, tidak mau mendengar nasihat, semakin lama semakin tak terkendali, hal ini akan berakibat buruk)
  2. Aja nganti kebanjur / barang polah / ingkang nora jujur / yen kebanjur / kojur sayekti tan becik / becik ngupayaa iku / pitutur ingkang sayektos.
    (Jangan sampai kau telanjur dengan tingkah polah yang tidak jujur, jika sudah telanjur akan mecelakakan, dan hal itu tidak baik. Oleh karena itu, berusahalah ajaran yang sejati)
  3. Pitutur bener iku / sayektine kang iku tiniru / nadyan metu saking wong sudra papeki / lamun becik wurukipun / iku pantes sira anggo.
    (Ajaran yang benar itu patut kau ikuti, meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya, namun jika baik dalam mengajarkan, maka ia pantas kau terima)
  4. Ana pocapanipun / adiguna adigang adigung / pan adigang kidang adigung pan esthi / adiguna ula iku / telu pisan mati samyoh.
    (Ada kiasa yang berbunyi adiguna, adigang, adigung, adigang kiasan kijang, adigung kiasan gajah, dan adiguna kiasan ular. Ketiganya mati bersamaan)
  5. Sikidang umbagipun / ngendelaken kebat lumpatipun / pan si gajah ngendelaken gung ainggil / ula ngendelaken iku / mandine kalamun nyakot.
    (Tabiat si kijang adalah menyombongkan kecepatannya berlari, si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar, sedangkan si ular menyombongkan bisaya yang ganas bila menggigit)
  6. Iku upamanipun / aja ngendelaken sira iku / suteng Nata iya sapa kumawani / iku ambege wong digung / ing wasana dadi asor.
    (Itu semua hanya perumpamaan, janganlah kau menyombongkan diri karena putra raja sehingga merasa tidak mungkin ada yang berani, itu tabiat yang adigang, ujung-ujungnya merendahkanmu)
  7. Adiguna puniku / ngandelaken kapinteranipun / samubarang kabisan dipundheweki / sapa pinter kaya ingsun / togging prana nora enjoh
    (Watak adiguna adalah menyombongakan kepandaiannya, seluruh kepandaian adalah miliknya. Siapa yang bisa seperti aku, padahal akhirnya tidak sanggup)
  8. Ambek digang puniku / angungasaken kasuranipun / para tantang candala anyenyampahi / tinemenan boya purun / satemah dadi geguyon
    (Tabiat orang adigung adalah menyombongkan keperkasaan dan keberaniannya, semuanya ditantang berkelahi, bengis, dan suka mencela. Tetapi jika benar-benar dihadapi, ia tak akan melawan, bahkan jadi bahan tertawaan)
  9. Ing wong urip puniku / aja nganggo ambek kang tetelu / anganggowa rereh ririh ngatiati / den kawang-kawang barang laku / den waskitha solahing wong
    (Dalam kehidupan, jangan kau kedepankan tiga tabiat tersebut, berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati. Perhatikan segala tingkah laku, waspadai segala perilaku orang lain)
  10. Dening tetelu iku / si kidang suka ing panitipun / pan si gajah alena patinireki / si ula ing patinipun / ngedelken upase mandos
    (Dari ketiganya itu, si kijang mati karena kegembiraannya, gajah mati karena keteledorannya, sedangkan ular mati karena keganasan bisanya)
  11. Tetelu nora patut / yen tiniru mapan dadi luput / titikane wong anom kurang wewadi / bungah akeh wong kang ngunggung / wekasane kajalomprong.
    (Ketiganya tidak patut kau tiru, kalau kau tiru akibatnya akan buruk. Ciri-ciri pemuda adalah tidak dapat menyimpan rahasia, senang banyak yang menyanjung yang akhirnya menjerumuskan)
  12. Yen wong anom puniku / kakehan panggunggung dadi kumprung / pengung bingung wekasane pan angoling / yen ginunggung muncu-muncu / kaya wudun meh mencothot
    (Jika pemuda terlalu banyak sanjungan, maka ia menjadi tolol, tuli, dan bingung, akhirnya mudah diombang-ambingkan, jika sedang dipuji, maka monyong seperti bisul yang hampir meletus)
  13. Dene kang padha nggunggung / mung sepele iku pamrihipun / mung warege wadhuke klimising lathi / lan telese gondhangipun / reruba alaning uwong
    (Adapun yang senang menyanjung sangat sederhana keinginannya, yaitu kenyang perut, basah lidah dan tenggorokan dengan menjual keburukan orang lain)
  14. Amrih pareke iku / yen wus kanggep nuli gawe umuk / pan wong akeh sayektine padha wedi / tan wurung tanpa pisungsung / adol sanggup sakehing wong
    (Supaya dekat (dengan atasan). Jika sudah terpakai kemudian membuat ulah dengan membuat orag menjadi takut sehingga ia menerima upeti dari hasil menjual kemampuan orang lain)
  15. Yen wong mangkono iku / nora pantes cedhak lan wong agung / nora wurung anuntun panggawe juti / nanging ana pantesipun / wong mangkono didhedheplok
    (Orang seperti itu tidak pantas untuk berdekatan dengan pembesar karena dapat mendorong untuk berbuat jahat. Meskipun begitu tetap ada kepantasannya, yaitu ditumbuk)
  16. Aja kakehan sanggup / durung weruh tuture agupruk / tutur nempil panganggepe wruh pribadi / pangrasane keh wong nggunggung / kang wus weruh amelengos
    (Jangan terlalu merasa tahu banyak. Belum melihat dengan mata kepala sendiri tetapi banyak berbicara, bahkan hanya dengan mendengar seolah-olah mengetahui sendiri. Dikiranya banyak yang menyanjung, padahal yang mengetahuinya akan memalingkan muka)
  17. Aja nganggo sireku / kalakuwan kang mangkono iku / nora wurung cinirenen den titeni / mring pawong sanak kang weruh / nora nana kang pitados.
    (Oleh karena itu, nak. Jangan kau bersikap seperti itu karena pasti akan menjadi catatan dalam hati sanak-saudara. Mereka tidak akan percaya lagi kepadamu)

Baca juga: 7 Contoh Tembang Macapat Gambuh dalam Bahasa Jawa

Referensi:

  • Panani, S. Y. (2019). Serat Wulangreh: Ajaran Keutamaan Moral Membangun Pribadi yang Luhur. Jurnal Filsafat, Vol. 29, No. 2.
  • Retnowati, D. (2020). Nilai Luhur Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Membangun Karakter Generasi Milenial. Indonesian Journal of Educational Science (IJES), Vol.3, No.1.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com