Kompas.com - 22/07/2022, 10:00 WIB

KOMPAS.com - Teori kesenjangan pengetahuan (knowledge gap theory) lahir akibat meningkatnya arus informasi di media massa.

Secara teoretis, peningkatan ini menguntungkan tiap individu dalam masyarakat. Karena mempermudah pencarian informasi dan memperluas wawasan mereka.

Namun jika ditelusur lebih jauh, ada kesenjangan yang terjadi di balik kemudahan akses informasi dan luasnya wawasan masyarakat.

Pengertian teori kesenjangan pengetahuan

Dilansir dari situs Communication Theory, penggagas teori ini, yaitu Phillip Tichenor, George A. Donohoue, dan Clarice N. Olien pada 1970, mendefinisikan teori kesenjangan pengetahuan sebagai berikut:

"Teori kesenjangan pengetahuan sebagai masukan informasi media massa ke dalam sistem sosial, di mana mereka yang memiliki status sosial ekonomi lebih tinggi cenderung memperoleh informasi lebih cepat, dibanding mereka yang berstatus sosial ekonomi rendah."

Menurut Dyah Gandasari, dkk dalam buku Pengantar Komunikasi Antarmanusia (2022), teori kesenjangan pengetahuan adalah teori yang menyatakan bahwa seiring bertambahnya pengetahuan, akan meningkat pula kesenjangan.

Baca juga: Teori Determinisme Teknologi: Pengertian dan Asumsinya

Banyak ahli yang menyebutkan bahwa meningkatnya informasi bisa memperluas wawasan atau pengetahuan seseorang.

Namun, tak sedikit pula yang berpendapat bahwa peningkatan informasi akan menimbulkan jarak (kesenjangan) di antara berbagai kelompok sosial.

Asumsi teori kesenjangan pengetahuan

Dikutip dari jurnal Teori Komunikasi Massa (Analisis Kontemporer terhadap Teori Information Gaps) (2013) karya Yusri, asumsi teori kesenjangan pengetahuan adalah:

"Ketika arus informasi dalam sebuah sistem sosial meningkat, mereka yang berpendidikan dan berstatus sosial lebih tinggi akan lebih cepat dan mudah menyerap informasi, dibanding mereka yang kurang berpendidikan atau berstatus sosial ekonomi rendah."

Tichenor, Donohue, dan Olien menyatakan bahwa peningkatan informasi akan memperlebar jurang atau celah pengetahuan yang ada.

Guna membuktikan bahwa asumsinya tepat, ketiga tokoh ini memaparkan lima alasan pentingnya, yaitu:

  1. Ada perbedaan keterampilan komunikasi di antara mereka yang berstatus sosial ekonomi rendah dan tinggi
  2. Perbedaan jumlah informasi yang disimpan atau latar belakang ilmu pengetahuan yang diperoleh sebelumnya
  3. Orang dengan status sosial ekonomi lebih tinggi, mungkin memiliki banyak hubungan sosial yang relevan
  4. Mekanisme pajanan, penerimaan, dan daya ingat selektif mungkin berfungsi
  5. Sifat dari media massa itu sendiri, di mana mereka lebih disesuaikan dengan orang berstatus sosial ekonomi tinggi.

Baca juga: Contoh Teori Kognitif Sosial

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.