Kompas.com - 29/01/2022, 13:23 WIB


KOMPAS.com – Asal-usul alam semesta selalu menjadi topik misterius yang ingin dipecahkan oleh para ilmuan. Teori awan debu adalah satu dari banyak teori pembentukan tata surya. Siapakah penemu teori awan debu, dan bagaimana proses pembentukan tata surya menurut teorinya?

Teori awan debu dikemukakan oleh Carls Friedrich von Weizsacker, Gerald Peter Kuiper, dan William Hunter McCrea. Menurut teori awan debu, tata surya terbentuk dari awan debu yang berputar dan membentuk matahari juga planet.

Proses pembentukan tata surya menurut teori awan debu

Lahirnya matahari

Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, tata surya kita belum terbentuk. Ruang tersebut hanya diisi oleh sekumpulan gas dan debu yang kita kenal sebagai nebula. Kondisi tersebut tidak bertahan lama, ada suatu perubahan yang terjadi pada nebula.

Baca juga: Teori Nebula

Perubahan tersebut dapat dipicu oleh lewatnya suatu bintang masif ataupun ledakan supernova. Dilansir dari NASA, apapun pemicu perubahannya, yang pasti awan debu tersebut runtuh dan mulai membentuk suatu piringan.

Menurut M. M. Woolfson dalam jurnal The Solar System: its Origin and Evolution (1991), awan debu yang runtuh menjadi piringan berupa aliran material yang turbulen, menciptakan daerah padat yang bergerak secara sembarangan di daerah yang kurang padat.

Piringan tersebut terus berputar dan mengumpulkan awan debu lain disekitarnya, menjadi suatu piringan raksasa. Peningkatan volume tersebut turut meningkatkan tekanan terutama di daerah inti piringan.

Menurut teori awan debu, peningkatan tekanan menyababkan atom-atom hidrogen dalam daerah inti piringan saling bertabrakan dan membentuk atom helium.

Baca juga: Teori Planetesimal: Teori Pembentukan Tata Surya

 

Perputaran piringan terus terjadi, memicu reaksi fusi berantai dari tabrakan hidrogen dan helium dan kemudian membentuk suatu inti bintang muda. Bintang muda tersebut kemudian akan berkembang menjadi inti tata surya yang kita sebut sebagai matahari. 

Matahari merupakan bintang masif. Matahari mengubah sekitar 99 persen awan debu yang ada menjadi dirinya sendiri. Dan menyisakan sekitar satu persen awan debu yang tetap berada dalam jangkauan gravitasinya.

Lahirnya tata surya

Dilansir dari Universe Today, potongan-potongan kecil debu dan gas mulai menggumpal dan membentuk protoplanet. Pada saat itu protoplanet merupakan gumpalan awan debu yang berputar dan bergerak di bawah gaya gravitasi matahari.

Baca juga: Sistem Tata Surya

Protoplanet perlahan mulai mendingin. Ketika terkondensasi, protoplanet memadat membentuk bumi dan planet lainnya dalam tata surya. Planet-planet yang terbentuk kemudian tetap berada dalam gravitasi matahari dan terus mengelilingi matahari dalam orbitnya masing-masing.

Pembentukan planet dan sistem orbit mengakiri pembentukan taa surya menurut teori awan bintang. Namun, dalam teori awan bintang tidak dijelaskan bagaimana planet memiliki orbit yang berbeda dan juga bagaimana satelit alami planet terbentuk.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.