Kompas.com - 18/09/2021, 12:00 WIB
Ilustrasi cacing tanah shutterstockIlustrasi cacing tanah

KOMPAS.com – Cacing merupakan hewan yang membelah diri. Ketika dibelah menjadi dua, kedua potongan tubuhnya akan berubah menjadi individu cacing yang baru. Cacing tidak bisa mati karena dibelah, tapi cacing akan mati jika ditaburi garam.

Benarkah cacing mati karena garam?

Zexuan Wu dan kawan-kawan dalam jurnal Effects of Salinity on Earthworms and the Product During Vermicomposting of Kitchen Wastes (2019) menyebutkan bahwa cacing tanah memberikan respons stress dan kegelisahan pada salinitas yang tinggi (kadar garam tinggi) karena menyebabkan ketidakseimbangan tekanan osmotik yang berujung pada dehidrasi sel.

Ketika cacing ditaburi garam, ia akan menggeliat dan mencoba melarikan diri dari garam tersebut. Namun, garam menempel pada kulit cacing hingga akhirnya cacing mati. Hal tersebut dikarenakan cacing memiliki kulit yang sensitif terhadap garam.

Lexi Thota dalam Effect of Different Concentrations of Road Salt on Earthworm Burrowing (2018) menyebutkan cacing memiliki kulit yang sangat lembap dan harus dijaga kelembapannya agar cacing tetap bisa bernapas melalui kulit mereka.

Kulit cacing merupakan membran semi-permeabel yang memungkinkan pertukaran oksigen. Lendir memfasilitasi pertukaran oksigen tersebut. Ketika garam ditaburkan ke tubuh cacing, garam akan menyatu dengan lendir, menciptakan larutan NaCl yang sangat pekat.

Baca juga: 8 Induk Hewan yang Bersifat Pekerja Keras

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal tersebut menciptakan salinitas tinggi di kulit cacing (keadaan hipertonis). Membuat kadar garam di kulit cacing dan di dalam tubuh cacing jauh berbeda.

Hal tersebut memancing reaksi osmosis yaitu tertariknya air dari dalam tubuh cacing ke kulit cacing. Air keluar dengan cepat dari tubuh cacing, membuat mereka dehidrasi dan mati karena kering.

Berlaku untuk lintah dan siput

Mati karena garam tidak hanya terjadi pada cacing tapi juga pada lintah dan gastropoda seperti siput. Dilansir dari Science Focus, hewan-hewan tersebut dangat bergantung pada kandungan sir yang tinggi dalam tubuhnya. Garam bisa mengganggu kondisi tersebut dan membuat lintah juga siput mati.

Inilah mengapa, ketika melewati daerah basah seperti rawa dan hutan hujan yang penuh lintah, disarankan membawa garam. Jika lintah menempel dan menyedot darah, menaburkan garam pada lintah akan membuatnya mati atau melepaskan diri dari manusia.

Menaburkan garam pada siput bahkan akan membuatnya mengeluarkan banyak buih. Ketika ditaburi garam, siput berusaha menghilangkan garam dengan cara mengeluarkan lebih banyak lendir dari tubuhnya. Lendir kemudian bertabrakan dengan udara, menciptakan banyak buih pada tubuh siput.

Baca juga: Honey Badger, Hewan yang Tak Mengenal Rasa Takut

Meskipun cacing, lintah, dan siput dapat mati kering karena garam, hal ini tidak berlaku pada ular. Ular tidak bisa diusir dengan garam, karena memiliki kulit keras dan bersisik dan tidak bergantung pada kadar air tinggi seperti gastropoda. Garam juga tidak mengandung bau, padahal ular hidup dengan indra penciuman yang kuat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.