Kompas.com - 17/07/2021, 12:03 WIB
Laut Aral dari luar angkasa (utara di bawah), Agustus 1985 wikipedia.org/NASALaut Aral dari luar angkasa (utara di bawah), Agustus 1985

KOMPAS.comLaut Aral terletak di Uzbekistan, antara Kazakhtan dan Karakalpakstan. Laut Aral yang membentang seluas 68.000 kilometer sebenarnya bukanlah laut, melainkan danau.

Laut Aral adalah danau payau (air asin) terbesar keempat di dunia dengan air yang bersumber dari sungai Amu darya dan sungai Syr Darya.

Saking besarnya Danau Aral terlihat seperti laut, sehingga disebut dengan Laut Aral. Laut Aral menghasilkan ribuan ton ikan setiap tahunnya, menjadi sumber pencaharian penduduk disekitarnya. Laut Aral bagaikan oasis di tengah gurun yang panas selama ratusan tahun.

Hal tersebut berubah saat Uni Soviet memutuskan untuk membangun pertanian di wilayah Laut Aral pada tahun 1960-an dengan membendung Syr Darya dan Amu Darya.

Berdasarkan lama National Geographic, para insinyur Soviet membangun jaringan irigasi yang sangat besar, termasuk kanal sepanjang 200.000 mil, 45 bendungan, dan lebih dari 80 waduk untuk mengairi ladang kapas dan gandum.

Baca juga: Bowhead Whale, Mamalia Laut dengan Umur Terpanjang

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Proyek irigasi tersebut mengeksploitasi Laut Aral secara maksimal. United Nations menuliskan, 20 tahun kemudian kuota produksi kapas Asia tengah mencapai 9 juta ton, menjadikannya produsen kapas terbesar keempat di dunia.

Tentu saja proyek tersebut menghasilkan uang yang sangat banyak, namun Laut Aral menjadi rusak. Sistem irigasi yang dibangun banyak mengalami kebocoran, sehingga sebagian besar air Laut Aral terbuang dengan sia-sia ke gurun dan mengurangi volumenya.

Selain pengurangan volume, Laut Aral juga mengalami penurunan kualitas air. Pestisida, zat karsinogenik, mineral beracun seperti natrium sulfat dan magnesium klorida banyak dilepaskan dari produksi kapas membuat air Laut Aral menjadi tercemar.

Belum lagi penurunan volume air membuat salinitas atau kadar garam menjadi semakin tinggi. Jika salinitas air laut biasa adalah 35 gram per liter air, maka Laut Aral bisa mencapai 376 gram per liter air. Membuatnya sangat asin, di atas kadar garam yang bisa ditoleransi makhluk hidup.

Ekosistem Laut Aral rusak, ikan-ikan dan hewan mati, begitu juga dengan tumbuhan disekitarnya. Para nelayan terpaksa menaikkan pukat dan jaringnya, membuat banyak penduduk kehilangan mata pencarian.

Baca juga: Mengapa Laut Hitam Disebut Laut Hitam?

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.