Kompas.com - 10/07/2021, 14:42 WIB
Naik Balon Udara di Bagan, Myanmar. ShutterstockNaik Balon Udara di Bagan, Myanmar.

KOMPAS.com – Balon udara merupakan salah satu jenis transportasi udara yang sudah ada sebelum pesawat ditemukan. Balon udara mengandalkan perbedaan massa jenis udara di dalam balon dan udara atmosfer untuk dapat terbang.

Dalam film fiksi balon udara seringkali digambarkan sebagai mode transportasi yang membawa pengendaranya ke tempat yang sangat jauh.

Tetapi pada kenyataannya manusia lebih memilih menggunakan pesawat, karena lebih aman, lebih nyaman, dan juga lebih cepat.

Namun bagaimana jika balon udara dimodifikasi menjadi moda transportasi yang mungkin bisa menggantikan pesawat di masa depan?

Perkenalkan Airlander Hybrid Air Vehicle (HAV) bernama airlander 10, persilangan antara balon udara dan pesawat terpanjang di dunia.

Baca juga: Dallol, Tempat Tanpa Kehidupan di Bumi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir dari Live Science, airlander 10 berukuran besar dengan panjang 302 kaki (92 meter) atau 65 kaki lebih panjang dibanding maskapai penumpang terbesar yaitu Airbus A308 yang dijuluki superjumbo. Membuat airlander 10 dapat menampung jauh lebih banyak orang dan barang.

Airlander 10 merupakan prototipe modetransportasi udara untuk mencapai transportasi yang lebih ramah lingkungan. HAV tidak menggunakan mesin jet seperti pesawat konvensional, melainkan menggunakan gas helium untuk mengangkat pesawat.

Helium menjaga HAV tetap mengudara, dan agar bisa terbang dengan cepat (tidak seperti balon udara konvensional yang lambat) maka digunakan empat mesin diesel yang mendorongnya. Membuat airlander 10 bisa terbang hingga kecepatan 91 mph atau 148 kilometer per jam.

Percobaan terbang airlander 10 dilakukan dari Barcelona ke Palma de Mallocra. Perjalanan tersebut menempuh waktu empat jam, waktu yang sama jika menempuh jarak tersebut menggunakan pesawat terbang konvensional.

Perbedaanya adalah jejak karbon yang dihasilkan HAV jauh lebih sedikit. Dilansir dari The Guardian, jejak karbon yang dihasilkan HAV hanya sekitar 4,5 kilogram, sedangkan jika menggunakan mesin jet pesawat dalam jarak yang sama akan menghasilkan 53 kilogram karbon dioksida.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.