Kompas.com - 11/05/2021, 13:46 WIB

KOMPAS.com - Kalimantan Selatan adalah provinsi Indonesia yang memiliki penduduk asli yang disebut dengan Suku Dayak.

Seiring dengan berkembangan jaman, Kalimantan Selatan mulai dimasuki oleh orang luar seperti Melayu, Jawa, Bugis, China, Arab, dan Belanda.

Namun Suku Melayulah yang diperkirakan datang terlebih dahulu ke Kalimantan Selatan bahkan sebelum berdirinya Kerajaan banjar.

Walaupun merupakan pendatang, Suku Melayu menjalin hubungan harmonis dengan Suku Dayak. Bahkan di antara kedunya terjadi penrcampuran darah yang menghasilkan suku baru yaitu Suku Banjar.

Seperti suku-suku lainnya, Suku Banjar juga memiliki bahasa, adat-istadat, serta keseniannnya sendiri. Salah satu hasil kebudayaan Suku Banjar Kalimantan Selatan adalah alat musik Panting.

Baca juga: Daftar Alat Musik Tradisional di Indonesia

Lupi Anderiani dalam jurnal berjudul Musik Panting di Desa Barikin Kalimantan Selatan: Kemunculan, Keberadaan, dan Perubahannya (2016), menyebutkan bahwa istilah panting diambil dari teknik memainkan alat musik tersebut dengan cara dipanting atau dipetik.

Alat musik panting terbuat dari kayu nangka dan memiliki bentuk seperti mandolin dan gitar namun lebih ramping.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada bagian tubuh panting terdapat lubang kecil untuk resosnanasi suara sedangkan bagian bawahnya ditutupi oleh kulit binatang.

Panting hanya memiliki empat buah dawai dan biasanya diukir dengan ukiran khas banjar. Alat musik panting biasanya tidak dimainkan sendirian, namun secara bersamaan dengan alat musik lainnya dan disebut dengan musik panting.

Alat musik Panting khas Kalimantan Selatankalsel.kemenag.go.id Alat musik Panting khas Kalimantan Selatan
Menurut Warisan Budaya Takbenda Indonesia, musik panting memainkan alat musik panting bersamaan dengan alat musik lainnya seperti babun (kendang), gong, biola, ketipung, marawis, dan alat musik lainnya untuk mendapatkan irama yang merdu dan meriah.

Baca juga: Ganda, Alat Musik Daerah Sulawesi Tengah

Rima Suryana dalam jurnal berjudul Nilai-Nilai Sosial dalam Penyakian Musik Panting di Banjarmasin (2015), menyebutkan bahwa musik Panting memiliki nilai-nilai luhur yang terkandung berupa nilai religius, pendidikan, moral, estetis, dan adat istiadat yang disampaikan melalui musik kepada anggota masyarakat yang mendengarnya.

Sehingga syair-syair merdu yang dimainkan musik panting sarat akan petuah dengan alunan menghanyutkan pendengarnya.

Jika pada zaman dahulu panting hanya dimainkan dalam upacara dan ritual adat Suku Banjar, namun dewasa ini musik panting dilakukan dalam segala macam perhelatan seni, pernikahan, acara besar, hiburan, dan juga sebagai pengiring berbagai tarian tradisional.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.