Kompas.com - 05/03/2021, 16:26 WIB
Ilustrasi tari Monong Kalimantan Barat Buku jelajah Kekayaan Alam, Adat, & Budaya Nusantara (2009) Oleh Adi Sudibyo Ilustrasi tari Monong Kalimantan Barat

KOMPAS.com - Tari termasuk salah satu unsur kebudayaan. Seseorang dapat mengekspresikan jiwanya melalui tari.

Di Indonesai, tari daerah atau tradisonal sangat beragam. Salah satunya tari Monong yang berasal dari Suku Dayak, Kalimantan Barat.

Dalam buku Ayo Mengenal Indonesia: Kalimantan I (2010) oleh N Arie Any, tarian daerah sebenarnya merupakan bentuk upacara adat perayaan kegembiraan karena hasil panen, dan upacara ritual persembahan.

Tari Monong adalah tari penolak penyakit agar si penderita dapat sembuh kembali. Tarian ini dihadirkan saat tetua atau dukun sedang dalam keadaan trance (di bawah alam sadar).

Baca juga: Tari Reog Ponorogo, Kisah Melamar Putri Kediri hingga Media Dakwah

Tari Monong ditarikan oleh pria, wanita, atau keduanya sebagai tari berpasangan. Selain memakai busana adat, penari membawa perisai dan senjata sebagai simbol untuk mengusir roh-roh jahat.

Gerakan tari yang dilakukan berfokus pada gerakan dukun dalam proses penyembuhan. Bahkan ada beberapa kata-kata yang diucapkan. Tari Monong menggunakan pola lantai lurus dan melengkung.

Busana tari Monong

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, busana tari Monong terdiri dari:

  1. Ikat kepala
  2. Sumping lawe
  3. Kalung kace
  4. Kelat bahu
  5. Jarik lereng
  6. Boro mote Sabuk
  7. Epek timang
  8. Celana pancen
  9. Sampur cinde
  10. Sebilang pedang
  11. Sebuah tameng

Baca juga: Tari Remo, Bertema Keprajuritan dari jawa Timur

Musing pengiring

Musik pengiring ini menjadi jampi-jampi tarian yang ditujukan kepada Sang Pencipta agar si penderita dapat sembuh. Salah satu alat musik yang digunakan adalah Sape.

Sape merupakan alat musik khas yang digunakan pada tari-tarian masyarakat Dayak. Bentuknya sekilas mirip gitar, namun cara memainkannya dengan dipetik.

Alat musik sape menghasilkan dua nada, yaitu Sakpakok adalah nada cenderung kebih cepat serta dinamis dan Tubunsitum yaitu nada dengan tempo lambat, tetapi memiliki ciri khas.

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X